Maleficent: Mistress of Evil, Memformat Ulang Jati Diri Sang Nyonya Kejahatan

Maleficent Mistress of Evil memulai kisahnya dengan premis betapa manusia cenderung mudah melupakan kebaikan orang lain.

Diterbitkan 16 Oktober 2019, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Format Ulang Maleficent

Maleficent Mistress of Evil adalah upaya memformat ulang jati diri sang penyihir. Seperti diketahui, Maleficent dilahirkan pada 1959 oleh Marc Davis dengan gelar Nyonya Segala Jenis Kejahatan. Setengah abad lebih kejahatan melekat padanya.

Pada ulang tahun ke-55, Maleficent didefinisikan ulang lewat film live-action yang menjelaskan mengapa ia menjadi penyihir. Bahwa ada hati putih dalam diri Maleficent, itu diperankan dengan apik oleh Angelina Jolie. Momen ini menandai transformasi Maleficent dari antagonis jadi protagonis.

Maleficent Mistress of Evil merefleksikan mengapa sang penyihir tak terkendali dan menjadi penjahat (lagi). Pekerjaan rumah terbesar tim penulis naskah, memformat ulang jati diri dan melahirkan kembali tokoh utama dengan lebih utuh. Agar ini tercapai, dibuatlah pergerakan dari sejumlah tokoh pendukung.

Aurora, pilihan paling masuk akal. Ia telah dewasa, sudah saatnya memasuk fase baru dalam hidup. Modifikasi cerita makin asyik lewat teknik penuturan bertolak belakang. Aurora bergerak maju, Maleficent ditarik mundur.

Visual Tiga Negeri

Tim naskah sadar, jati diri Maleficent tak akan utuh jika latar belakangnya masih samar. Maka kita disuguhi silsilah spesies Fey Gelap dan di mana posisi Maleficent sebenarnya dalam bangsa ini. Sampai di sini, sekuel Maleficent terasa masuk akal.

Problem film ini terletak pada penuturan yang terasa kepanjangan di awal dan akhir cerita. Plus tokoh antagonis yang kentara sejak awal sehingga cerita relatif mudah ditebak. Tampaknya, Maleficent yang lulus sensor untuk semua umur ingin merangkul sebanyak mungkin audiens. 

Tanpa adegan kekerasan eksplisit, aliran darah, plus akhir dengan pendekatan dongeng klasik membuat kita paham siapa yang disasar oleh film ini. Kredit patut diberikan kepada penata artistik dan visual efek yang menghadirkan tiga negeri dalam dunia yang menua.

Moors, Ulstead, dan desa pengasingan kaum Fey Gelap dibangun dengan karakter yang spesifik. Moors dengan panorama khas negeri dongeng. Serbaindah bagai surga. Ulstead adalah kerajaan dengan struktur pemerintahan yang jelas sekaligus tegas. Sementara Desa Fey Gelap sangat unik.

Pesan Manis

Ia mengombinasikan hutan rimba, gua, dan ruang-ruang serupa labirin yang dindingnya terbuat dari jutaan serabut atau serat. Set yang nyeni ini dibingkai sinematografi yang mengekspos Angelina Jolie sebagai malaikat kegelapan yang seksi. Hasilnya, gambar-gambar gelap, semi-monokrom yang sangat estetis. Meski punya problem naskah, Maleficent Mistress of Evil terbilang sukses membangun klimaks yang bikin penonton ketar-ketir. Setidaknya fase klimaks dibangun oleh tiga titik genting yang berpusat di Ulstead.

Tak sedatar dan segaring Gemini Man yang baru saja rilis, sekuel Maleficent punya cara sendiri untuk membuat penonton takut kehilangan sekaligus terhibur. Pusat film ini, sesuai dengan judulnya, ada di Maleficent. Namun jika memperhatikan dengan saksama lalu membandingkannya dengan Maleficent 2014, Anda tentu tahu bahwa ikatan batin Maleficent dan Aurora melampaui yang kita pikirkan. Momen ini tampak di titik paling krusial dan membuat mata kami berkaca-kaca. Ini tentang cinta dua perempuan, dari dua generasi.

Lebih dari itu, Maleficent Mistress of Evil mengirim pesan persatuan, toleransi, dan kesopanan. Kabar palsu soal Maleficent di masa lalu, amarah yang memantik konflik horizontal, dan topik ambisi kekuasaan membuat Maleficent Mistress of Evil terasa lebih kompleks dari pendahulunya.

But, wait! Hoaks, konflik horizontal, dan ambisi kekuasaan? Wah, kok jadi teringat suatu negara yang belakangan ini sering diterpa hoaks, demo-ricuh, dan politik kekuasaan. Negara mana, hayo?

 

Pemain: Angelina Jolie, Elle Fanning, Harris Dickinson, Michelle Pfeiffer, Robert Lindsay, Chiwetel Ejiofor, Ed Skrein, Sam Riley

Produser: Joe Roth, Duncan Henderson, Angelina Jolie

Sutradara: Joachim Ronning

Penulis: Linda Woolverton, Noah Harpster, Micah Fitzerman-Blue

Produksi: Walt Disney Studios

Durasi: 1 jam, 58 menit

 

(Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan