Stuber, Komedi Spontan dengan Pemain yang Tidak Jaim

Aroma komedi yang lumayan pekat dan muncul tenggelamnya Iko Uwais di plot cerita, membuat Stuber enak dinikmati.

Diterbitkan 25 Juli 2019, 11:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Di sela pencarian dan penanganan, Michael memperlihatkan seberapa penting Stu bagi Vic, begitu pula sebaliknya. Keduanya digambarkan memiliki cacat masing-masing. Itu sebabnya saat bertemu, mereka saling melengkapi.

Di pihak seberang, kita melihat Oka Tedjo yang seolah sendiri. Iko menghidupkan tokoh ini dengan pendekatan berbeda mulai dari gaya rambut hingga gaya berbusana dengan warna cerah. Ada garis perbedaan yang jelas antara tokoh Oka Tedjo dengan karakter-karakter lain yang dimainkan Iko sebelumnya.

Stuber salah satu langkah maju bagi Iko. Di sini, ia tampak relaks dan aktif menyemai benih-benih tawa. Mayoritas bumbu komedi dipicu oleh situasi. Selebihnya “kebodohan” karena baru pertama kali berhadapan dengan problem semacam ini.

Keunggulan

Inilah titik unggul Stuber. Meramu formula komedi dengan merekrut pemain yang tidak jaim. Sebagai sebuah komedi, Stuber tidak berada di level paripurna. Guyonannya tidak 100 persen cerdas atau sok cerdas.

Bahkan, beberapa dialognya terdengar kotor. Namun, unsur spontan dan aksi reaksi dinamis menyelamatkan Stuber dari citra komedi jorok nan receh. Belum lagi, akhir film ini membuat hati terasa sejuk.

Kesejukan dipicu dua agegan, yakni hubungan ayah dan anak, serta penerimaan yang dilakukan dua generasi dalam satu atap. Dua momen ini membuat Stuber bagaikan jamuan makan malam yang berakhir manis.

Stuber layak ditonton di kala pikiran buntu. Efek relaksasinya membuat ketegangan di pikiran perlahan mengendur.

Sisi positif lain film ini, semangat keragaman yang diusung dalam kemasan kasual. Dari keragaman warna kulit, orientasi, profesi, selera musik, hingga formula good cop-bad cop. (Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan