Toy Story 4: Cerita Woody di Fase Transisi, Lebih Mengaduk Emosi

Toy Story 4 merupakan jilid terbaik dalam waralaba ini setelah film perdananya dirilis pada 1995.

Diterbitkan 23 Juni 2019, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Toy Story salah satu waralaba rilisan Walt Disney yang mampu menjaga kualitas dengan konsisten. Toy Story selalu mendapat nilai A dari para pemerhati film dan menjadi nomine Oscar. Puncaknya saat Toy Story 3 yang dirilis sembilan  tahun lalu membawa pulang dua Piala Oscar untuk Film Animasi Terbaik dan Tata Musik Terbaik.

Di tangga box office, Toy Story tak pernah melempem. Toy Story (1995) mengeruk laba 373 juta dolar AS atau sekitar 5,2 triliun rupiah.

Toy Story 2 lebih gila lagi, mendulang 497 juta dolar AS (7 triliun rupiah). Puncaknya, Toy Story 3 yang menembus 1,06 miliar dolar AS (15 triliun rupiah). Dengan pencapaian sebagus ini, wajar jika Walt Disney dan Pixar memproduksi Toy Story 4. Ini sekaligus penghormatan bagi pencipta tokoh Woody, Bud Luckey, yang berpulang Februari 2018 dan Don Rickles, (pengisi suara Mister Potato Head) yang meninggal dua tahun lalu.

Toy Story 4 babak baru petualangan Woody dan kawan-kawan. Saat Andy (Jack McGraw) hendak kuliah, ia mewariskan koleksi mainannya kepada Bonnie (Madelaine McGraw). Ayah (Jay Hernandez) dan Ibu Bonnie (Lori Alan) berencana memasukkan putrinya ke taman kanak-kanak. Bonnie yang semula ketakutan terpaksa berangkat. Woody (Tom Hanks) menyusup ke tas Bonnie. Di kelas, tak ada satu anak pun yang mau menyapanya. Bonnie tertekan dan hampir menangis. Woody berinisiatif meletakkan sebilah kayu, kawat warna, dan pensil warna di mejanya.

 Saat itulah Bonnie berinisiatif membuat boneka dari sendok bekas bernama Forky (Tony Hale). Sejak itu Forky jadi kesayangan Bonnie. Woody yang sudah berminggu-minggu tak disentuh Bonnie sedih. Suatu hari, saat Bonnie sekeluarga pergi ke karnaval, Forky kabur. Woody mati-matian mencarinya hingga harus menghadapi Gabby Gabby (Christina Hendricks). Gabby mengincar mesin suara Woody yang masih prima. Ia ingin menjadi boneka bersuara merdu agar bisa menarik perhatian gadis kecil bernama Harmony (Lila Sage Bromley).

Penuh Momen Haru

Di luar dugaan, duo penulis skenario Andrew-Stephany mampu menghadirkan alasan kuat mengapa Toy Story 4 harus hadir. Di tangan Bonnie, gadis kecil yang belum bisa membedakan baik dan buruk, akankah Woody dan teman-temannya nyaman?

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Fase transisi ini mengguncang kejiwaan sang karakter utama. Masa keemasannya bersama Andy terus membayang. Woody ingin mendapat cinta sebesar cinta Andy dulu. Gegar budaya membuat Woody melakukan apa saja atas nama kesetiaan. Bagi mainan, menemani dan menciptakan masa kecil yang indah untuk manusia adalah tugas mulia. Maka Woody rela melakukan apapun. Ini bentuk kesetiaan atau ego berbasis kerinduan terhadap masa emas? Gugatan berbentuk pertanyaan ini dilayangkan Bo Peep (Annie Potts) yang kemudian direnungkan oleh penonton. Dibandingkan dengan Toy Story 3, jilid keempat ini lebih mengaduk emosi.  Ada banyak momen haru yang membuat air mata menetes. Gelagat banyak momen haru sudah terasa pada 10 menit pertama ketika sekelompok mainan dinilai sudah tidak layak menghuni kamar. Toy Story menjadi kisah hangat salah satunya karena seluruh karakter tak ada yang baik maupun jahat. Gabby misalnya, mengincar mesin suara Woody dengan alasan khusus. Secara psikologis, ia kesepian, merasa cacat, dan ingin sekali saja menjadi manfaat.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan