Coco: Manisnya Dongeng Kematian ala Pixar

Coco mengangkat sebuah tema yang terbilang jarang disentuh film animasi keluarga, yakni tentang kematian.

Diterbitkan 22 November 2017, 20:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Film ini bahkan menyentuh kutipan populer mengenai manusia yang sejatinya mengalami dua kali kematian: yakni saat ruh terlepas dari raganya dan saat ia benar-benar dilupakan di dunia. Adegan di pengujung film antara Miguel dan Mama Coco, menjadi klimaks yang menyimpulkan secara baik hal ini, sekaligus membetot emosi penonton.

Cuplikan film Coco (Disney/Pixar)

Jangan khawatir, Coco tak hanya berisi tentang hal-hal yang membuat tangis. Film ini juga memiliki kadar humor yang terbilang tinggi. Apalagi karakter-karakter yang ada di film ini terbilang menarik, seperti Abuelita yang galak atau Hector yang ceroboh.

Soal plot, film ini juga memiliki banyak twist yang tak terduga. Saat penonton mulai menebak ke mana arah kisah ini, alur langsung berbelok ke arah yang berbeda.

Visual Cantik Festival Kematian

Saat ini, rasanya tak usah lagi meragukan visualisasi film animasi komputer yang dihadirkan studio-studio besar seperti Pixar atau Dreamworks. Dan ini tak berbeda dengan yang dihadirkan di Coco.

Nyaris setiap adegan menampilkan visual yang begitu menawan. Di dunia makhluk hidup misalnya, ditampilkan hangatnya atmosfer yang muncul lilin-lilin yang dipasang di Festival Kematian. Detail gambar yang begitu kaya, hingga ke kelopak bunga kecil yang terserak di pinggir jalan, membuat visualisasi dalam film ini makin memanjakan mata.

Cuplikan film Coco (Disney/Pixar)

Adapun dunia orang mati terlihat begitu semarak dengan warna-warni fluorescent, dengan detail yang kaya dan terlihat memiliki dimensi yang begitu dalam. Bisa dibilang bahwa setiap frame, terlihat cantik layaknya lukisan.

Tak cuma soal pemanis mata, Coco juga kental dengan budaya Meksiko. Dialognya, penuh dengan campuran bahasa Inggris dan Meksiko. Penjelasan mengenai Festival Kematian pun cukup banyak diselipkan. Mulai soal penggunaan bunga marigold yang berfungsi sebagai ‘jalan’ untuk roh leluhur menemukan rumah, keberadaan foto dalam ofrenda, sampai binatang penuntun di dunia orang mati.

Meski informasi seperti ini bertebaran di sepanjang film, tapi Coco tak lantas menjadi sebuah tontonan membosankan. Sebaliknya, hal-hal ini disajikan secara menarik dalam film ini. Contohnya saja soal proses penyeberangan roh leluhur ke dunia yang disederhanakan layaknya proses imigrasi di bandara.

Cuplikan film Coco (Disney/Pixar)

Bahkan penonton dewasa pun bisa dipastikan bakal terhibur dengan sejumlah lelucon di film ini yang tampaknya memang ditujukan khusus untuk mereka. Contohnya saja ‘cameo’ Skrillex dan kemunculan seniman Frida Kahlo.

Secara garis besar, Coco yang akan mulai diputar di bioskop Tanah Air pada 24 November mendatang ini memberikan sebuah pengalaman menonton yang sangat menyenangkan bagi setiap anggota keluarga. Tak hanya menyajikan kisah petualangan bagi penonton muda, namun juga perenungan bagi penonton dewasa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan