An Inconvenient Sequel: Lebih Ngeri dari Film Bencana Hollywood

Adegan ‘horor’ yang ditampilkan dalam An Inconvenient Sequel, layak ditonton untuk menyadarkan soal gentingnya isu perubahan iklim.

Diterbitkan 24 Agustus 2017, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dinding es yang runtuh di kutub dan dahsyatnya badai, diambil dengan teknik sinematografi yang kian canggih. Tak heran bila visualisasi adegan ini terasa mengerikan, bagai film blockbuster Hollywood.

Bahkan bila dipikirkan ulang, An Inconvenient Sequel terasa lebih menakutkan ketimbang film-film bencana seperti The Day After Tomorrow. Karena gambaran yang ditampilkan benar-benar nyata, terjadi di bumi kita, bukan hasil imajinasi belaka. Film ini dengan cukup gamblang menjelaskan mengapa perubahan iklim membuat bumi makin panas, cuaca dingin yang buruk, kekeringan, hingga kebakaran hutan.  

 

Now is the time to reconsider what we’re doing. #BeInconvenient

Sebuah kiriman dibagikan oleh An Inconvenient Sequel (@aninconvenienttruth) pada


Tak hanya gambar megah, An Inconvenient Sequel juga menampilkan beragam video dokumenter amatir. Hal ini kian mendekatkan penonton dengan peristiwa di dalam layar.

Penonton diajak melihat dari sudut pandang para penduduk Filipina yang terjebak dalam gedung, sementara gempuran badai dahsyat mulai menjebol jendela dan dinding. Juga membayangkan sepanas apa suhu yang memanggang India, sehingga mampu melelehkan aspal dan membuat sandal pejalan kaki lengket di jalan dan ditinggalkan pemakainya.

Adegan ‘horor’ yang ditampilkan dalam An Inconvenient Sequel, layak ditonton untuk menyadarkan penonton seberapa mengerikan kerusakan yang ditimbulkan manusia di atas permukaan bumi. Namun tak hanya kengerian, ada bagian dari film ini yang menunjukkan masih ada harapan bagi umat manusia, dan bagaimana kita memenangkan perjuangan soal perubahan iklim tersebut.

Film tentang Al Gore?

Dari segala kelebihan yang dimiliki film yang akan tayang di bioskop Tanah Air pada Jumat (25/8/2017) besok , terasa ada satu hal yang terasa cukup mengganjal. An Inconvenient Sequel terasa seperti film 2 in 1. Tak cuma bicara mengenai lingkungan, film ini juga banyak membahas tentang sosok Al Gore itu sendiri.

Di satu adegan yang cukup panjang misalnya, penonton dibawa masuk ke rumah masa kecil Al Gore. Mulai dari menyaksikan foto lama sang ayah yang juga merupakan politisi, hingga membaca surat dari putrinya yang kedua saat Al Gore hendak maju sebagai cawapres.

Pada adegan lain, digambarkan pula perjuangan sunyi Al Gore dalam Konferensi Perubahan Iklim Paris pada 2015. Dalam film ini digambarkan bahwa Al Gore punya peran yang sangat krusial dalam ketok palu konferensi ini.

Kadang sedikit tersirat nuansa narsisistik dalam narasi mengenai Al Gore. Namun setidaknya, hal ini tidak mengurangi isi dan pesan utama dalam film ini, yakni isu perubahan iklim.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan