Sejatinya, ini petunjuk pertama bagi penonton kalau Nolan hendak mengajak kita bermain-main dengan ruang dan waktu. Di Interstellar, ruang dan waktu berjalan relatif. Kadang bergerak maju seperti yang kita alami, berjalan beriringan dengan kecepatan berbeda, atau juga memutar.
Premis film ini sederhana. Saat manusia di Bumi sekarat akibat badai debu yang bisa sewaktu-sewaktu datang, mematikan hasil panen, membuat manusia terancam kelaparan. Beberapa astronot--dipimpin Cooper (Matthew McConaughey) dan Amelia Brand (Anne Hathaway)—serta ilmuwan—Profesor Brand (Michael Caine) dan Jessica Chastain (Murphy)—kemudian berusaha mencari Bumi pengganti di jagat raya.
Tema mencari tempat tinggal pengganti Bumi yang tak lagi layak huni atau terancam hancur bukan sekali ini difilmkan. Jika Anda ingat, film animasi Pixar, Wall-E (sutr. Andrew Stanton, 2008), membayangkan manusia meninggalkan Bumi untuk tinggal di pesawat luar angkasa raksasa; sedang Knowing (sutr. Alex Proyas, 2009) yang dibintangi Nicolas Cage, membayangkan Bumi terancam badai Matahari.
D
Baik Knowing dan Wall-E sejatinya punya pesan begini, sebagai makhluk hidup manusia tak ingin punah. Kita, manusia, diberi anugerah berupa akal dan indera untuk bertahan hidup. Kita mencari jalan dan solusi.
Begitu juga pesan Interstellar.

Interstellar membawa kita pada kisah manusia bertahan hidup pada tingkat kosmis. Yang harus kita pahami dahulu, alam semesta ini tercipta miliaran tahun lalu (ada yang menyebut sekitar 13 miliar tahun yang lalu) menghasilkan kita sebagai sebutir pasir di dalamnya. Alam semesta tercipta dengan keteraturan yang ajeg. Hingga sebuah perubahan kecil saja tentu akan melahirkan alam semesta yang berbeda, mungkin tanpa kita di dalamnya.
Sejatinya pula, alam semesta tak peduli pada kita. Komet atau asteroid yang menabrak Bumi sekira 65 juta tahun lalu membuat dinosaurus punah. Tapi dari situ Bumi tak jadi dikuasai kadal-kadal raksasa berlama-lama hingga sekarang. Konon, lima miliar tahun lagi, Matahari akan kehabisan bahan bakar nuklirnya. Matahari akan mengkerut, menelan benda-benda di sekitarnya, termasuk Bumi tempat kita tinggal. Lima miliar tahun lagi masihkah ada peradaban manusia di Bumi? Kita tak tahu. Yang jelas, apa yang diramalkan sains tersebut membuktikan ketidakpedulian alam semesta. Saat Matahari mengkerut, ia tak peduli manusia masih tinggal di Bumi atau tidak.
Pada titik ini kemudian Interstellar sebaiknya kita dudukkan.
Sebagaimana dikisahkan di atas, di Interstellar, Bumi sekarat. Dengan indera dan akalnya manusia melakukan perjalanan dalam skala kosmis mencari planet baru melintasi bintang. Yang menarik, pada gilirannya, film ini memberi pandangan tidak mungkin mengangkut seluruh manusia di Bumi melintasi bintang.
Hal ini membawa ingatan pada Knowing saat si tokoh kita (diperankan Nicolas Cage) mengetahui pesan terakhir yang diterimanya adalah seluruh manusia, everyone else, bakal menjadi korban terpaan badai Matahari. Ia pasrah. Yang dilakukannya adalah menyerahkan putranya pada si pengirim pesan, untuk dibawa keluar Bumi, yang berarti umat manusia bisa meneruskan kehidupan damai di planet lain. Si tokoh kita di Knowing kemudian bersatu dengan keluarganya, berkumpul dengan orang-orang tersayang. Sambil memeluk ia menerima ketetapan alam semesta.
***
Interstellar kerap disamakan dengan 2001: A Space Odyssey (1968), mahakarya Stanley Kubrick yang juga berkisah tentang perjalanan manusia melintasi bintang dalam skala kosmis. (Omong-omong, terlihat betul Interstellar sebentuk penghormatan Nolan bagi Kubrick. Tengok saja pesawat ruang angkasa di Interstellar, mengingatkan kita pada 2001.)
Namun ya itu tadi, Interstellar sebetulnya lebih dekat dengan Knowing. Dalam 2001, terutama di bagian akhirnya, manusia menyerahkan diri pada alam semesta dengan ketetapan kosmisnya. Di 2001, kita melihat sang astronaut sendirian dalam ruang waktu yang tak lagi beracuan. Namun di situ pula ia menemukan diri dan ruang-waktunya. Diri yang menua dalam waktu yang berbalik ke sebuah ruang abad lampau, tetapi dalam waktu yang kenyataannya tidak pernah mungkin kembali utuh. Kita melihat sang astronaut menua dalam waktu, namun dalam ruang mewujud menjadi janin.

Di Interstellar, perjalanan melintasi ruang dan waktu juga menjadi bagian penting di akhir film ini. Tokoh kita, si astronaut Cooper, terjebak dalam ruang dan waktu yang tak lagi ajeg. Ia melayang-layang dalam dimensi kelima.
Namun, tak seperti di 2001 di mana manusia berserah diri pada ketetapan Kosmos (dengan K besar), Interstellar seolah hendak menunjukkan kedigdayaan manusia—dengan perangkat hidup dan akalnya—untuk menentang ketetapan Kosmos sedemikian rupa demi bertahan hidup.
Dengan demikian, Christopher Nolan sejak awal memang tak hendak menyuguhkan film gelap tentang manusia yang menyerah pada alam semesta. Film ini justru memberi kita harapan. Dan, menurut saya, terkadang demikianlah peran sebuah film atau karya fiksi pada umumnya. Ketika sains atau fakta ilmiah tak menyediakan kita harapan, film menyediakannya. Alam semesta memang dingin, tak berjiwa, dan tak peduli pada kita. Namun kita, manusia, mungkin masih punya harapan bertahan hidup. Setidaknya dalam film. *** (Ade)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5532976/original/075889100_1773717683-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-17T102114.591.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291655/original/029171400_1783572083-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T113921.353.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/763275/original/059903100_1415505194-interstellar_artwork_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1402950/original/089875900_1478858178-Interstellar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288984/original/089270000_1783373925-063_2284950359-Spanyol_vs_Portugl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4261477/original/074496300_1671047490-AP22348710214768.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288261/original/009625500_1783308426-eng4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4251091/original/011186900_1670306483-latihanspanyol2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288083/original/090522600_1783298244-nor10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259009/original/093710600_1781434062-gabriel_magalhaes_ismael_saibari_brasil_maroko_ap_matt_slocum.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339733/original/047775700_1757121903-MAROKO_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710894/original/015901700_1782791233-000_B8QK288.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)