Mengenang Arizal, Mengenang Film-film Warkop DKI Karyanya

Apa yang membuat film-film Warkop DKI karya Arizal sukses di masa lalu dan juga paling diingat hingga kini?

Diterbitkan 19 Mei 2014, 11:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Arizal juga yang membuat film drama remaja yang dibintangi Rano Karno-Yessy Gusman yang hingga kini melegenda: "Gita Cinta dari SMA" (1979) dan "Puspa Indah Taman Hati" (1979). Selain itu, di pertengahan1980-an pula, Arizal banyak membuat film laga seperti "Segitiga Emas", "Pembalasan Rambu", "Membakar Matahari", hingga "Dendam Membara", juga film silat "Jaka Sembung dan Bergola Ijo".

Next page: "Resep film Warkop Arizal"

Resep film Warkop Arizal

Resep film Warkop Arizal

Namun, yang kemudian paling dikenang atas Arizal memang kiprahnya di film-film komedi. Sukses membuat film-film Warkop, Arizal juga didapuk menyutradarai film-film Doyok dan Kadir: "Mumpung Ada Kesempatan", "Tahu Beres", "Salah Pencet", dan "Akal-akalan". Group pelawak lain yang ia bikin filmnya adalah Sersan Prambors ("Sama-sama Enak") dan Bagito ("Bayar Tapi Nyicil").

Arizal bukan sutradara pertama yang digandeng Warkop DKI untuk membuat film komedi mereka. Warkop terjun ke film pada 1979 lewat "Mana Tahaaan...". Nawi Ismail yang membuaat film pertama Warkop. Nawi punya reputasi melambungkan film-film komedi Benyamin Sueb.

Arizal menggarap film Warkop ketiga, "Pintar-pintar Bodoh" (1980). Pilihan atas Arizal sebetulnya berisiko. Kala itu, Arizal dikenal sebagai sutradara film drama dan remaja. Tapi hasilnya, setidaknya menurut kritikus film Kompas JB Kristanto dan Marselli Sumarno dalam tulisan "Sepuluh Film Warkop: Letak Masalah pada Sutradara dan Skenario" (aslinya ditulis 1983, dibukukan 2004), pengarahan Arizal "yang paling mendingan".

Waktu itu, tahun 1983, Warkop sudah ditangani Nawi, Iksan Lahardi, dan Ali Shahab--selain Arizal.

Pada gilirannya, Warkop menjajal sejumlah sutradara lain, termasuk yang dianggap sutradara film-film bermutu semisal Chaerul Umam dan Ami Prijono. Di buku "Warkop: Main-main Jadi Bukan Main" (2010), Kasino mencontohkan upaya Warkop untuk membuat film komedi bermutu antara lain lewat film "Sama Juga Bohong" di mana Chaerul Umam jadi sutradara, Nano Riantiarno (pendiri Teater Koma) jadi penulis skenario, plus Franki Raden (pengamat musik) sebagai penata musik.

"Tapi yang mencapai angka 300 ribu penonton ke atas rata-rata yang memakai sutradara Arizal, Tjut Djalil," bilang Kasino di buku tersebut. Tentu, karena paling bisa bikin untung produser, Arizal yang akhirnya paling banyak bikin film Warkop.

Apa resep jitu Arizal sukses membuat film-film Warkop?

Dalam penilaian kritikus film Kompas tahun 1983, Arizal tampak telah berusaha menghidupkan cerita yang lucu. Kata Kompas waktu itu, "Cara kerja Arizal yang terkenal cepat ternyata membuahkan penampilan yang lebih wajar, karena dengan cara itu spontanitas bermain lebih dimungkinkan."

Well, bahasa kritikus film memang kadang mengawang-awang. Sederhananya, bagi penonton film Warkop, karya Arizal jelas yang paling mengena lucunya. Buktinya, film-film Warkop karyanya yang paling banyak ditonton.

Arizal kemudian juga paling dikenang sebagai peletak narasi film-film khas Warkop. "Pintar-pintar Bodoh" yang menjadi karya pertama Arizal untuk Warkop dicatat sebagai yang pertama menampilkan adegan cewek di pantai. Adegannya saat Kasino menyanyi lagu "Si Kodir Cekere Dekil" dengan Dana Christina berbikini sambil berlari secara slowmotion.

Arizal juga yang di film itu mengawali film Warkop dengan potongan-potongan anekdot sambil mengenalkan pemain dan kru film.

Dari Arizal tradisi cewek-cewek seksi berbikini di film-film Warkop bermula. Formula yang diulang-ulang dalam banyak film Warkop itu kemudian jadi trademark. Tidak afdol film Warkop tanpa cewek seksi. Hal ini bagi pengamat film masa itu bikin film Warkop terasa dangkal, tak lagi intelek macam lawakan mereka di radio dan di panggung.

Namun sejak awal, niatan Warkop main film memang tak sekadar ingin menghibur penggemar lawakan cerdas mereka, tapi penonton awam kebanyakan.

Dan Arizal adalah sutradara yang tepat untuk itu. HIngga kini kita mengingat terus momen nyanyian kode.

(Ade)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan