Rilis Inflasi Indonesia hingga Tingkat Pengangguran AS Bakal Jadi Perhatian

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 3,09% dan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS 0,85% pekan lalu.

Diterbitkan 28 September 2026, 14:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kompak melemah pada perdagangan saham pekan lalu. Pada pekan ini, ada sejumlah data ekonomi yang akan rilis salah satunya inflasi Indonesia.

Berdasarkan riset Syailendra Capital, dikutip Senin, (28/9/2026), sejumlah sentimen internal dan eksternal membayangi pasar keuangan. Dari sentimen internal, pertama, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 23 September 2026.

Selain itu, BI juga meningkatkan insentif forex hedging untuk menarik aliran dana investor asing dan memperkuat cadangan devisa, meski peningkatan diskon swap juga dapat memperbesar risiko forward book Bank Indonesia (BI) terhadap rupiah.

Kedua, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria yang mengatur penataan dan pembatasan penguasaan tanah. Penyelesaian konflik agraria serta perlindungan hak masyarakat untuk mengurangi ketimpangan kepemilikan tanah, implementasi Undang-Undang (UU) selanjutnya akan menjadi kunci, terutama dalam memastikan redistribusi tanah, kepastian hukum dan perlindungan bagi petani serta kelompok masyarakat penerima manfaat.

Ketiga, DPR dan Pemerintah menyepakai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dengan defisit tetap 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, belanja dan pendapatan negara masing-masing dinaikkan Rp 9,1 triliun, sebelum disahkan menjadi Undang-Undang (UU) pada 29 September 2026.

Keempat, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran untuk kembali buka Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan nuklir dalam tujuh hari.

 

 

Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak

Sementara itu, Trump memprediksi kemungkinan dimulainya kembali serangan Amerika Serikat (AS) setelah pemilihan umum (pemilu) sela November."

Di sisi lain, eskalasi serangan Houthi terhadap Arab Saudi berlanjut, meski harga minyak turun seiring harapan solusi diplomatik,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.

Seiring hal itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent kembali naik ke level US$ 93 per barel dan US$ 104 per barel.

Kelima, yield atau imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun menembus 5,2% untuk pertama kali dalam 19 tahun mencerminkan tekanan jual yang semakin tajam di pasar obligasi AS.

 

 

Hal yang Perlu Dicermati Pekan Ini

Seiring sentimen itu, pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,85% ke level Rp 17.914 terhadap dolar AS. Selain itu, indeks dolar AS tercatat naik ke level 101,03 pekan lalu.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun turun ke level 7,08% yang diikuti dengan aliran dana investor asing yang keluar sebesar Rp 2,27 triliun. Di sisi lain, obligasi AS bertenor 10 tahun naik ke level 5,16% pada pekan lalu.

Di pasar saham, IHSG merosot 4,1% pada pekan lalu ke level 6.242 dengan aliran dana investor asing yang keluar sebesar Rp 2,59 triliun. Sementara itu, dua indeks saham Amerika Serikat (AS) naik pada pekan lalu. Indeks S&P 500 menguat 0,7% dan Nasdaq bertambah 1,6%. Sedangkan indeks Dow Jones melemah 0,6%.

Lalu apa yang perlu dicermati pekan ini?

  • 1 Oktober 2026: Data global manufaktur Indonesia, neraca perdagangan dan inflasi
  • 1 Oktober: Data global manufaktur PMI (purchasing manager’s index) Amerika Serikat
  • 2 Oktober: Tingkat pengangguran dan gaji non sektor pertanian di Amerika Serikat