Bursa Asia Hari Ini Bervariasi, Nikkei Datar dan Kospi Menguat

Bursa Asia bergerak beragam setelah Wall Street menguat. Investor mencermati konflik AS-Iran dan kenaikan imbal hasil US Treasury.

Diterbitkan 03 September 2026, 08:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Kamis setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) mengakhiri penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Investor Asia masih mencermati perkembangan konflik AS dan Iran serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar global.

Mengutip CNBC, Kamis (3/9/2026), di Di kawasan Asia, Kospi Korea Selatan naik 0,86%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,19%.

Di Jepang, Nikkei 225 relatif tidak berubah, sementara indeks Topix menguat 0,65%.

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,12%.

Pergerakan tersebut terjadi setelah tiga indeks utama Wall Street mencatat penguatan pada perdagangan Rabu.

Dow Jones Industrial Average naik hampir 300 poin atau sekitar 0,6%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing menguat 0,5%.

Kenaikan Wall Street memberikan sentimen positif bagi pasar Asia, meski investor tetap berhati-hati terhadap perkembangan geopolitik dan kondisi pasar obligasi AS.

Pergerakan imbal hasil Treasury menjadi perhatian karena dapat memengaruhi valuasi saham serta arus modal global.

 

Imbal Hasil Treasury AS Capai Level Tertinggi

Sentimen pasar global masih dibayangi kenaikan imbal hasil Treasury AS.

Pada Rabu, imbal hasil Treasury AS bertenor dua tahun sempat mencapai 4,41%, level tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun sempat menyentuh 4,818%, menjadi level tertinggi sejak November 2023. Namun, kedua imbal hasil tersebut kemudian turun dari posisi tertingginya pada akhir perdagangan.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan kenaikan imbal hasil Treasury lebih mencerminkan prospek ekonomi AS yang kuat.

“Yang mendorongnya, sebagian besar, adalah ... ekonomi AS yang benar-benar kuat dan prospek ekonomi yang kuat, didorong oleh investasi besar di bidang AI, pusat data, dan teknologi secara umum,” kata Williams kepada CNBC.

Ia menambahkan:

“Jadi, menurut saya, ini sebenarnya bukan tentang kondisi keuangan yang memengaruhi perekonomian. Ini lebih kepada perekonomian yang memengaruhi kondisi keuangan.”

Harga minyak juga naik tipis. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,9% dan ditutup sedikit di atas US$ 91 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bursa Asia karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.