Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menjadi sorotan pekan ini seiring kemajuan diplomatik terkait Selat Hormuz. Pekan ini, harga minyak turun 5,19%. Namun, kini perhatian pasar beralih ke Eropa Timur seiring rencana Rusia melakukan eskalasi di Ukraina.
Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (30/8/2026), situasi di Timur Tengah membaik secara lebih signifikan dibandingkan awal Agustus.
Militer Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan bagi hasil dengan Oman yang mencakup wilayah perairan masing-masing di Selat Hormuz, dan pembicaraan teknis terus berlanjut menuju pembentukan koridor maritim bersama sementara yang mencakup manajemen lalul lintas, pertukaran informasi dan pengaturan keaman.
Advertisement
Serangan Amerika Serikat dihentikan sementara, paket sanksi terbaru Washington ternyata tidak seagresif yang dikhawatirkan karena tidak menyasar mitra dagang Iran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pun menyebutkan 10 juta barel minyak telah melewati jalur perairan itu pada Selasa pekan ini.
Harga minyak Brent turun lebih dari 7% sepanjang pekan ini menjadi di bawah US$ 88 per barel. Namun, Teheran tetap bersikeras kalau Selat Hormuz tidak akan kembali dibuka sepenuhnya sampai perang berakhir, blokade laut dicabut dan situasi di Yaman terselesaikan. Dengan demikian, hal ini belum merupakan penyelesaian akhir.
Perhatian juga mulai beralih ke Eropa Timur menyusul laporan Rusia berencana melakukan eskalasi di Ukraina.
"Ini sebuah pengingat bahwa risiko energi tidak terbatas pada satu wilayah saja,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.
Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS Mereda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4216934/original/094233100_1667793288-Wall-Street-3.jpg)
Di Amerika Serikat, tekanan pada pasar obligasi pemerintah mulai mereda. Imbal hasil (yield) obligasi Treasury tenor 30 tahun sempat mencapai puncak di atas 5,3% pada pertengahan Agustus, mendekati level tertinggi dalam 19 tahun, saat utang nasional melampaui US$ 40 triliun atau Rp 710.240 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.760).
Selain itu, Departemen Keuangan AS mengambil langkah untuk setidaknya melipatgandakan pembelian kembali (buyback) utang jangka panjang.
Sejak saat itu, imbal hasil tersebut telah turun ke kisaran 5,20%. Kondisi yang lebih longgar ini berdampak jauh melampaui AS, karena imbal hasil jangka panjang AS menjadi acuan bagi biaya pinjaman global.
"Ketika imbal hasil tersebut turun, tekanan terhadap mata uang dan obligasi pasar negara berkembang (emerging market) cenderung ikut mereda,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Advertisement
Pidato Ketua The Fed jadi Sorotan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261662/original/080258200_1781753195-AP26168686199861.jpg)
Selain itu, ketua The Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh menyampaikan pidato utama yang pertama di simposium Jackson Hole. Pasar menantikan kejelasan mengenai pandangannya terhadap inflasi dan faktor apa yang akan mendorong Federal Reserve untuk mengambil tindakan, di tengah minim panduan kebijakan saat ini.
Sentimen Domestik
Di dalam negeri, DPR menggelar sidang dengar pendapat bagi Destry Damayanti, calon tunggal Gubernur Bank Indonesia, di mana para investor mencermati pandangannya mengenai inflasi, stabilitas nilai tukar, serta strateginya untuk menarik kembali modal asing ke dalam aset-aset Indonesia.
Pengesahan jabatannya akan merampungkan transisi yang dimulai sejak pengunduran diri Perry Warjiyo bulan lalu sekaligus menghilangkan ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar. Terkait obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) tenor 10 tahun telah turun dari angka di atas 7,3% pada akhir Juli menjadi sekitar 7,00%.
“Penurunan ini didorong oleh harga minyak yang lebih rendah, penguatan nilai tukar rupiah, penurunan imbal hasil obligasi AS, serta kepastian yang lebih besar mengenai kepemimpinan bank sentral,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Ashmore melihat, pergerakan ini cukup signifikan dan memberikan imbal hasil bagi investor yang tetap bertahan di pasar selama masa-masa sulit pada semester pertama. Kendati fase pergerakan yang "mudah" mungkin telah berlalu, tingkat imbal hasil saat ini masih menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan.
Harga Minyak Turun jadi Katalis Positif Pasar Saham Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3020527/original/046868200_1578913888-20200113-Rupiah-Perkasa_-IHSG-Ditutup-Cerah--ANGGA-2.jpg)
Bagi pasar saham Indonesia, kondisi harga minyak yang lebih murah dan imbal hasil obligasi yang lebih rendah memberikan sentimen positif.
Di seluruh pasar negara berkembang (emerging markets), saham-saham Asia umumnya mencatatkan kenaikan berkat perkembangan situasi di Timur Tengah dan penurunan imbal hasil obligasi AS.
Di pasar global Sukuk negara berkembang, meredanya ketegangan memperbaiki sentimen risiko kawasan dan berpotensi menghidupkan kembali aktivitas penerbitan setelah tahun yang lesu, meskipun penurunan harga minyak mengurangi pendapatan yang menjadi penopang bagi penerbit obligasi dari kawasan Teluk.
Secara keseluruhan, pekan ini menjadi momen di mana beberapa tekanan yang membebani aset-aset Indonesia sejak Maret mereda secara bersamaan.
"Namun, sikap hati-hati tetap disarankan mengingat Selat (Hormuz) belum dibuka kembali, posisi fiskal AS masih menjadi sumber kekhawatiran di pasar obligasi, dan perubahan indeks MSCI belum sepenuhnya terealisasi,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Pendekatan Ashmore tetap sama, yakni mengutamakan perusahaan yang likuid dan transparan dengan fundamental kuat, serta obligasi berkualitas tinggi yang menawarkan pendapatan stabil, dengan diversifikasi di berbagai wilayah dan kelas aset.
“Hal-hal utama yang perlu dicermati meliputi respons pasar terhadap pidato Jackson Hole, kelanjutan pembicaraan teknis antara Iran dan Oman, pengesahan Gubernur Bank Sentral oleh parlemen, pemberlakuan perubahan indeks MSCI pada Senin, serta data inflasi Indonesia Agustus yang akan dirilis awal pekan depan,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335137/original/038803100_1787912353-cek_fakta_-_bantuan_bibit_ayam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572964/original/041797700_1777876963-cek_fakta_-_cpns_kejaksaan_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8133451/original/029203800_1780985455-AC71B8A2-01A6-456E-8CDA-FBE01AEEC42A.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333356/original/039893200_1787745867-maxim-tolchinskiy-PgdBXEqjSYg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316510/original/066137900_1785935417-ki4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323912/original/057154900_1786680755-pid4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349927/original/093879500_1757942338-AP25248769598975.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325690/original/086966200_1786910693-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)