Laba Anjlok 14,7%, Saham Mixue Merosot

Harga saham Mixue tertekan dalam dua hari setelah merilis kinerja keuangan semester I 2026.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 17:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saham jaringan es krim dan minuman asal China, Mixue Group turun lebih dari 7% di Hong Kong pada Jumat, (28/8/2026). Harga saham Mixue melanjutkan koreksi selama dua sesi berturut-turut setelah perusahaan melaporkan penurunan laba pada semester I.

Mengutip CNBC, Jumat (28/8/2026), harga saham Mixue melemah 8,37% pada perdagangan Kamis pekan ini, saat Mixue melaporkan laba periode turun 14,7% secara tahunan (year on year) menjadi 2,32 miliar yuan atau US$ 345,2 juta. Jumlah itu setara Rp 6,10 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.690) pada periode Januari-Juni 2026. Pendapatan naik 2,3% menjadi 15,22 miliar yuan atau Rp 40,06 triliun (asumsi yuan terhadap rupiah di kisaran 2.632).

Perusahaan juga mengusulkan dividen khusus sebesar 2,65 yuan per saham, yang bergantung pada persetujuan pemegang saham.

Perseroan mengungkapkan profitabilitas Mixue tertekan oleh kenaikan biaya dan beban. Harga pokok penjualan tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan, terutama akibat investasi yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas produk, sementara beban penjualan dan distribusi melonjak 22,9% karena tingginya biaya pemasaran dan staf.Beban administrasi juga naik 39,4%, terutama disebabkan oleh kenaikan biaya staf.

Mixue Group kini memiliki lebih banyak gerai secara global dibandingkan McDonald’s dan lebih dari empat kali lipat jumlah gerai Dunkin’, dengan total jaringan gerai mencapai hampir 63.987 unit pada akhir Juni. Perusahaan ini dikenal karena minuman dan es krimnya yang terjangkau, termasuk produk andalannya, es krim vanila King Cone.

 

Gerai di Luar Negeri

Meskipun sebagian besar gerainya berada di China daratan, perusahaan memiliki 4.378 gerai di luar negeri pada akhir Juni dan terus berekspansi ke pasar baru, termasuk Asia Tengah dan Amerika.

Ke depan, perusahaan menyatakan rencana untuk memperkuat kehadirannya di Asia Tenggara serta memperluas jangkauan ke Asia Tengah dan Amerika, sembari membangun rantai pasok yang lebih terlokalisasi untuk mendukung ekspansi luar negerinya.

Perusahaan juga melirik peluang di luar bisnis minuman, dengan rencana mengubah maskotnya, Snow King, menjadi merek budaya global melalui serial animasi, komik, film, aneka produk (merchandise), hingga taman hiburan.