Melihat Prospek Saham Tambang di Semester II 2026

Investor mencermati prospek INCO, TINS, ANTM, dan PTBA di tengah normalisasi sektor tambang pada semester II 2026.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 10:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prospek saham tambang di bawah naungan Holding Industri Pertambangan Indonesia menjadi perhatian investor memasuki semester II 2026. Kinerja keuangan hingga strategi hilirisasi menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan daya tarik emiten tambang di tengah pasar komoditas yang lebih menantang.

Sepanjang semester I 2026, sejumlah perusahaan tambang di bawah MIND ID Group membukukan kinerja positif. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), misalnya, mencatat laba periode berjalan sebesar US$ 25,24 juta.

Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih Rp 2,71 triliun. Capaian tersebut bahkan telah mencapai 169% dari target laba bersih 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 1,61 triliun.

Pengamat Pasar Modal Edwin Sebayang menilai sektor pertambangan kini memasuki fase normalisasi, bukan penurunan struktural.

Menurut Edwin, laba yang tidak lagi setinggi periode supercycle bukan berarti fundamental perusahaan memburuk. Pasar kini lebih memperhatikan kualitas operasional, efisiensi, kesehatan neraca, dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Prospek INCO dan TINS akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas global, realisasi volume produksi, serta kemampuan menjaga margin di tengah siklus komoditas yang lebih menantang,” ujar Edwin dikutip Rabu (26/8/2026).

 

Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik

Selain INCO dan TINS, Edwin melihat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memiliki daya tarik masing-masing bagi investor.

ANTM dinilai memiliki prospek jangka panjang melalui pengembangan hilirisasi mineral dan ekosistem baterai kendaraan listrik. Salah satu proyek yang dikembangkan adalah ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan HYD Investment Limited.

HYD Investment Limited merupakan konsorsium yang terdiri dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk.

Proyek tersebut berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2026. Nilai investasi awal keseluruhan proyek baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir mencapai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 96,04 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.278 per dolar AS.

Pada tahap pertama, kapasitas produksi selanjutnya direncanakan meningkat melalui ekspansi hingga sedikitnya 15 gigawatt hour (GWh), setara dengan kebutuhan sekitar 250.000 kendaraan listrik.

“Saya melihat ANTM masih memiliki katalis jangka panjang yang kuat melalui hilirisasi mineral dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. PTBA tetap menarik bagi investor yang mencari stabilitas arus kas dan dividen,” ungkapnya.

 

Stabilitas Arus Kas

Sementara itu, PTBA dinilai tetap menarik bagi investor yang mengutamakan stabilitas arus kas dan dividen. Perseroan memiliki rekam jejak pembagian dividen yang relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam lima tahun terakhir, rasio pembayaran dividen PTBA berada di kisaran 35% hingga 100% dari laba bersih, meskipun nilai yang dibagikan berubah mengikuti kinerja perusahaan.

Untuk laba tahun buku 2024, PTBA membagikan dividen tunai Rp 3,83 triliun atau Rp 332,44 per saham dengan rasio pembayaran 75%. Sebelumnya, dari laba 2023, perseroan membagikan Rp 4,58 triliun atau Rp 397,71 per saham, juga dengan payout ratio 75%.

Dividen terbesar dalam periode tersebut berasal dari laba 2022, yakni Rp 12,57 triliun atau Rp 1.094,05 per saham dengan rasio pembayaran 100%.