Bursa Saham Asia Tergelincir Jelang Pengumuman Suku Bunga AS

Bursa saham Asia melemah jelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Diterbitkan 17 Juni 2026, 08:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik dibuka melemah pada perdagangan hari ini Rabu 17 Juni 2026, seiring sikap hati-hati investor yang menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).

Dikutip dari CNBC, Rabu (17/6/2026), indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan di kawasan dengan penurunan sebesar 1,02% saat pembukaan perdagangan. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga bergerak di zona negatif meski dengan penurunan yang lebih terbatas.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,20%. Berbeda dengan Nikkei, indeks Topix justru menguat 0,46%. Adapun indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, terkoreksi 0,17% pada awal perdagangan.

Kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong tercatat berada di level 24.510, sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 24.493,95.

Pelemahan pasar Asia terjadi setelah pergerakan beragam di Wall Street pada perdagangan Selasa waktu setempat. Kontrak berjangka saham AS bergerak relatif datar menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve.

Kontrak berjangka S&P 500 tercatat menguat tipis, sementara futures Nasdaq 100 naik kurang dari 0,1%. Futures Dow Jones Industrial Average juga naik sekitar 47 poin atau 0,1%.

Pada perdagangan reguler sebelumnya, indeks Dow Jones berhasil mencetak rekor tertinggi intraday dan penutupan baru setelah naik 328,64 poin atau 0,64%. Indeks saham unggulan tersebut sempat menembus level psikologis 52.000 untuk pertama kalinya, meski akhirnya ditutup sedikit di bawah level tersebut.

Sebaliknya, indeks S&P 500 turun 0,57% dan Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 1,15%.

 

Saham SpaceX Curi Perhatian

Di tengah pergerakan pasar yang beragam, saham perusahaan antariksa SpaceX kembali mencuri perhatian. Saham perusahaan milik Elon Musk itu melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Selasa dan kini telah naik hampir 50% dibandingkan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar US$ 135 per saham. Penguatan bahkan berlanjut pada perdagangan setelah jam bursa dengan kenaikan sekitar 2%.

Optimisme pasar sebelumnya sempat meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan potensial untuk mengakhiri konflik yang berlangsung beberapa bulan terakhir.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut kedua pihak telah menghentikan operasi militer mereka. Sementara itu, penandatanganan resmi kesepakatan damai dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang.

Kepala Strategi Ekuitas AS Citi Research, Scott Chronert, menilai pasar masih memiliki peluang untuk menutup kuartal kedua dengan kinerja yang solid.

"Saya pikir pasar berada dalam posisi yang cukup baik untuk menutup kuartal ini dengan kuat dan memasuki paruh kedua tahun ini dengan prospek yang konstruktif," ujarnya.

Menurut Chronert, sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) masih berpotensi menjadi motor penggerak utama pasar menjelang musim laporan keuangan kuartal kedua.

 

Penurunan Harga Minyak

Ia juga menilai penurunan harga minyak seiring meredanya konflik Iran dapat mengurangi tekanan inflasi sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap kebijakan moneternya.

"Apa yang terjadi saat ini memperluas peluang penguatan pasar yang sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir dan membuka jalan bagi kenaikan lebih lanjut pada paruh kedua tahun ini," katanya.

Perhatian investor kini tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5 % hingga 3,75 %. Namun, investor juga menantikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk penjualan ritel dan penjualan rumah tertunda periode Mei. Di sisi korporasi, perusahaan CarMax dan Jabil dijadwalkan merilis laporan keuangan sebelum pembukaan perdagangan Wall Street.