Mencari Saham Pilihan Usai Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61%

Ekonomi Indonesia tumbuh impresif 5,61% pada Kuartal I-2026. Analis menyarankan investor jeli memilih saham berbasis katalis.

Diterbitkan 06 Mei 2026, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan (YoY) menjadi kabar positif bagi pasar keuangan. Namun, di balik angka yang melampaui ekspektasi tersebut, pelaku pasar dinilai masih perlu mencermati kualitas pertumbuhan yang belum sepenuhnya merata.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, momentum ini tetap membuka peluang di pasar saham, terutama bagi investor yang jeli memilih sektor dan emiten dengan katalis spesifik di tengah kondisi global yang mulai membaik.

Hendra menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini masih banyak ditopang oleh belanja fiskal dan program pemerintah. Konsumsi rumah tangga memang tetap menjadi tulang punggung, sementara investasi mulai menunjukkan perbaikan seiring berjalannya proyek hilirisasi.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% YoY memang melampaui ekspektasi, namun masih didominasi oleh dorongan fiskal dan program pemerintah," kata Hendra kepada Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).

Meski demikian, dampak investasi tersebut belum merata ke seluruh sektor ekonomi riil. Hal ini membuat pasar melihat adanya ketimpangan dalam struktur pertumbuhan, yang belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental jangka panjang.

Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih berada di atas Rp 17.000 per dolar AS menjadi indikator adanya ketidakseimbangan eksternal. Pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibanding ekspor meningkatkan kebutuhan valuta asing dan menahan penguatan mata uang domestik.

"Ini memperkuat pandangan bahwa pertumbuhan saat ini masih bersifat “growth without depth”, sehingga pasar masih menunggu konfirmasi dari perbaikan indikator riil dan kembalinya arus dana asing," ujarnya.

Sentimen Global Mulai Mendukung

Di tengah tantangan domestik, sentimen global justru menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu katalis utama bagi pasar.

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta mulai normalnya distribusi energi melalui Selat Hormuz mendorong penurunan harga minyak dunia sekitar 4%. Kondisi ini memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi global.

"Kondisi ini disambut positif oleh pasar keuangan global, tercermin dari penguatan indeks saham di Wall Street yang kembali mencetak rekor," ujarnya.

Saham-Saham Ini Dinilai Menarik

Menurut Hendra, dengan kombinasi faktor domestik dan global tersebut, ia menyarankan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham. Strategi berbasis katalis dan momentum teknikal dinilai lebih relevan dibanding pendekatan agresif secara menyeluruh.

Beberapa saham yang dinilai menarik untuk diperhatikan antara lain BUVA dengan target harga di level 1.205, CUAN menuju 1.500, serta PTRO dengan target 6.300. Saham-saham ini dinilai memiliki potensi pergerakan yang didukung sentimen sektoral maupun teknikal.

"Serta SCMA dengan pendekatan trading buy menuju level 290, sembari tetap disiplin dalam manajemen risiko di tengah pasar yang mulai membaik namun belum sepenuhnya solid," pungkasnya.