PGEO Catat Laba USD 43, 9 juta di Kuartal I 2026, Margin Makin Gemuk

Intip kinerja keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) di kuartal I 2026.

Diterbitkan 05 Mei 2026, 19:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat, pada triwulan I-2026, PGEO membukukan pendapatan sebesar USD 116,56 juta atau tumbuh 14,82 persen secara tahunan (year on year).

Namun yang lebih mencolok, di tengah dinamika ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar, perusahaan energi panas bumi ini justru mencatatkan laba bersih perseroan melonjak hingga 40,02 persen menjadi USD 43,9 juta.

"Laba bersih perseroan menjadi USD 43, 9 juta yang mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 40,02 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya," kata Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hutabarat, dalam PGEO’s Earnings Call: 3M 2026 Results, Selasa (5/5/2026).

Lonjakan laba yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan ekspansi margin yang kuat dalam operasional perusahaan. EBITDA juga meningkat sekitar 15 persen menjadi USD 96,54 juta, mempertegas tren efisiensi yang terus terjaga.

"Sejalan dengan hal tersebut EBITDA meningkat menjadi USD 96,54 juta atau naik sekitar 15 persen year on year," ujarnya.

Dari sisi profitabilitas, PGEO mencatatkan margin yang sangat tinggi dibandingkan industri sejenis. Gross profit margin mencapai 57,97 persen, EBITDA margin sebesar 82,82 persen, dan net income margin menembus 37,66 persen.

Kinerja ini juga menegaskan bahwa model bisnis PGEO memiliki daya tahan tinggi serta kemampuan menghasilkan keuntungan berkelanjutan dalam jangka panjang.

"Hal ini mencerminkan bahwa model bisnis panas bumi di PGE memiliki karakteristik margin profitability yang tinggi apabila dibandingkan dengan perusahaan sejenis," ujarnya.

 

Faktor Utama Pendorong Laba Bersih PGEO

Lebih lanjut, Fransetya menjelaskan pembentukan peningkatan laba bersih perseroan dari USD 31,35 juta pada triwulan I-2025 menjadi USD 43,9 juta pada triwulan pertama tahun 2026 dipengaruhi oleh dua faktor utama yang mendorong peningkatan tersebut.

Pertama, kenaikan pendapatan yang berasal dari pertumbuhan produksi dengan kontribusi sekitar USD 15,16 juta. Hal ini terutama didorong oleh peningkatan kapasitas kapasitif aktor serta tambahan kontribusi produksi dari Lumut Balai unit 2.

Kedua, adanya keuntungan flesikurs atau foreign exchange gain sebesar kurang lebih USD 12,21 juta sebagai dampak dari pelemahan yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat mengingat sebagian pinjaman perseroan berdenominasi dalam mata uang yen.

"Namun di sisi lain, terdapat beberapa faktor yang memberikan tekanan terhadap laba yang juga perlu dicermati, antara lain peningkatan biodepresiasi sebesar USD 5,91 juta, kenaikan bioperasional sebagai dampak dari program MESOP, dan peningkatan beban pajak," ujarnya.

 

Didorong Kinerja Operasional Berbasis produksi

Selain itu, kata Fransetya, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kualitas laba perseroan tetap kuat dimana pertumbuhan yang dicapai didorong oleh kinerja operasional berbasis produksi.

Hal ini menunjukkan bahwa kinerja yang dicapai memiliki karakter yang berkelanjutan atau sustainable dan dapat direplikasi atau repeatable di masa mendatang.

"Kemudian ini terlihat bahwa posisi keuangan perseroan tetap berada dalam kondisi yang sangat solid. Total aset tercatat sebesar USD 3,06 miliar meningkat 0,71 persen dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh kenaikan pada aset lancar, khususnya kas dan piutang," pungkasnya.