Permata Bank (BNLI) Catat Laba Rp 3,6 Triliun di 2025

Permata Bank (BNLI) mencatat laba bersih Rp 3,6 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan pendapatan dan kredit yang positif.

Diterbitkan 16 Maret 2026, 16:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Permata Tbk (BNLI) membukukan laba bersih Rp 3,6 triliun hingga akhir 2025. Kinerja tersebut mencerminkan pertumbuhan yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Rudy Basyir Ahmad menegaskan, Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan melalui pendekatan yang disiplin dan berfokus pada kebutuhan nasabah.

“Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan," jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).

Dengan fundamental yang resilien, dukungan penuh dari Bangkok Bank, serta kepercayaan seluruh pemangku kepentingan, Permata Bank mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan serta kualitas aset yang tetap terjaga.

"Kami yakin dengan tetap menjaga skala dan relevansi, Permata Bank dapat terus tumbuh berkelanjutan serta menjadi bank pilihan dan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari, keluarga dan bisnis mereka,” ujar Rudy.

Sepanjang 2025, total pendapatan Permata Bank tercatat tumbuh 3,8 persen menjadi Rp 12,6 triliun.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan signifikan pada pendapatan non bunga yang melonjak 34,1 persen menjadi Rp2,6 triliun.

 

Kredit dan Dana Nasabah Permata Bank Tumbuh

Dari sisi neraca, Permata Bank mencatat total aset sebesar Rp 268,3 triliun, meningkat 3,6 persen secara tahunan (YoY).

Sementara itu, simpanan nasabah tumbuh 3,9 persen YoY menjadi Rp 192,8 triliun, didukung peningkatan dana murah atau CASA yang naik 20,1 persen sehingga rasio CASA mencapai 63,9 persen.

Penyaluran kredit juga menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga akhir 2025, kredit Permata Bank meningkat 5,5 persen YoY menjadi Rp 163,3 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh segmen korporasi yang naik 11,2 persen YoY menjadi Rp 99,6 triliun.

Kualitas kredit bank juga tetap terjaga dengan rasio NPL Gross sebesar 2,1 persen dan Loan at Risk (LAR) yang membaik menjadi 6,3 persen.

Permata Bank juga mempertahankan tingkat pencadangan yang kuat dengan rasio NPL Coverage sebesar 356 persen dan LAR Coverage sebesar 118 persen.

Untuk menjaga kualitas aset, bank melakukan berbagai langkah seperti restrukturisasi kredit, proses litigasi, hingga penjualan aset guna menyelesaikan kredit bermasalah.

 

Prospek Ekonomi 2026 dan Inovasi Digital Permata Bank

Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,1–5,2 persen.

Angka tersebut bahkan berpotensi meningkat hingga 5,2–5,3 persen apabila tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural terus memperkuat kepercayaan pelaku usaha serta konsumen.

Dalam proyeksi tersebut, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian, volatilitas pasar keuangan global serta dinamika perdagangan internasional masih menjadi faktor yang perlu dicermati.

Di sisi lain, Permata Bank juga terus memperkuat layanan digital untuk meningkatkan pengalaman perbankan bagi nasabah.

Melalui aplikasi Permata ME, nasabah dapat mengakses berbagai layanan perbankan secara praktis melalui perangkat mobile.