Bursa Sepekan: Pencatatan 2 Obligasi dan 1 Sukuk

Berikut bursa sepekan ini ada pencatatan obligasi dan sukuk masing-masing dari Hino dan Tower Bersama Infrastructure.

Diterbitkan 14 Februari 2026, 19:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam bursa sepekan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat dua pencatatan obligasi dan satu sukuk pada pekan ini. Seiring pencatatan surat utang tersebut, total emisi obligasi dan sukuk mencapai Rp 14,56 triliun pada 2026.

Pada Kamis, 12 Februari 2026, Obligasi Berkelanjutan I Hino Finance Indonesia Tahap II Tahun 2026 yang diterbitkan oleh PT Hino Finance  Indonesia mulai dicatatkan di BEI. Obligasi ini dicatatkan senilai Rp800 miliar dengan hasil  pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) untuk Obligasi adalah idAA+ (Double  A Plus) serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bertindak sebagai Wali Amanat.

Pada Jumat, 13 Februari 2026,Obligasi Berkelanjutan VII Tower Bersama Infrastructure Tahap III Tahun 2026  dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tower Bersama Infrastructure Tahap III Tahun 2026 oleh PT Tower  Bersama Infrastructure Tbk mulai dicatatkan di BEI. Masing-masing Obligasi dan Sukuk dicatatkan  dengan nilai nominal sebesar Rp 889 miliar dan Rp 210,1 miliar. Hasil pemeringkatan PT Fitch Ratings  Indonesia untuk Obligasi dan Sukuk ini adalah AA+(idn) (Double A Plus) dengan Wali Amanat adalah  PT Bank Tabungan Negara Tbk.

"Total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat sepanjang tahun 2026 adalah 19 emisi dari 13 emiten  senilai Rp 14,56 triliun,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan resmi, Sabtu (14/2/2026).

Total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 671 emisi dengan  nilai outstanding sebesar Rp548,61 triliun dan USD134,01 juta, diterbitkan oleh 133 emiten. Surat  Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 190 seri dengan nilai nominal Rp 6.674,24 triliun dan  USD 352,10 juta. Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 7 emisi senilai Rp 3,69 triliun.

Kinerja IHSG Sepekan

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan pada perdagangan 9-13 Februari 2026. IHSG sepekan yang melesat ini dipicu sentimen global dan domestik. Salah satunya investor masih mencermati langkah regulator untuk melakukan reformasi pasar modal Indonesia.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (14/2/2026), IHSG sepekan naik 3,49% ke posisi 8.212,27. Pada pekan lalu, IHSG ditutup turun 4,7% ke posisi 7.935,26. Kapitalisasi pasar menguat 3,83% menjadi Rp 14.889 triliun dari pekan lalu Rp 14.341 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, IHSG menguat 3,49% didorong sejumlah sentimen. Pertama, investor masih mencermati dan menanti tindakan selanjutnya dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) terkait reformasi pasar modal dan juga pemenuhan kriteria data MSCI.

Kedua, terdapat beberapa rilis data seperti Indeks Kepercayaan Konsumen Konsumen (IKK) Indonesia yang bertumbuh dan China mengalami deflasi, sedangkan ekonomi Amerika Serikat masih bertahan setelah rilis data pekerjaan. Ketiga, harga komoditas emas yang naik tipis dalam sepekan dan rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat. “Faktor keempat, investor cenderung profit taking menjelang libur panjang Imlek,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian melompat 0,37% menjadi 2,74 juta kali transaksi dari 2,73 juta kali transaksi pada pekan lalu. Namum, rata-rata nilai transaksi harian BEI merosot 6,27% menjadi Rp 23,2 triliun dari Rp 24,75 triliun pada pekan lalu.

Investor asing juga masih melakukan aksi jual saham. Tercatat aksi jual saham oleh investor asing mencapai Rp 5,47 triliun dari pekan lalu Rp 1,13 triliun.

 

 

 

Kinerja IHSG Pekan Lalu

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada perdagangan saham 2-6 Februari 2026. Koreksi IHSG sepekan masih didorong dari sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penurunan peringkat saham dan outlook peringkat utang Indonesia.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (7/2/2026), IHSG sepekan tersungkur 4,73% ke posisi 7.935,26. Koreksi IHSG ini lebih kecil dibandingkan pekan lalu. Pada pekan lalu, IHSG turun 6,94% ke posisi 8.329,60.

Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI merosot 4,69% menjadi Rp 14.314 triliun dari pekan lalu Rp 15.046 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 4,73% selama sepekan dipengaruhi sejumlah hal. Pertama, sentimen dari MSCI yang saat ini meminta beberapa persyaratan seperti free float dan transparan emiten-emiten di IHSG.

“Kedua, downgrade dari beberapa instituasi asing seperti UBS, Goldman Sachs dan Moody’s di mana dari sentimen-sentimen tersebut berimbas pada membesarnya outflow asing,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor ketiga, rilis data inflasi Indonesia yang masih berada di level 3,55% Year on Year (YoY) dan juga Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 5,39% YoY pada kuartal IV 2025.

Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian juga anjlok 28,62% menjadi 2,72 juta kali transaksi dari 3,82 juta kali transaksi. Data volume transaksi harian bursa terpangkas 31,75% menjadi 43,2 miliar saham dari 63,3 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian juga susut 43,45% menjadi Rp 24,75 triliun dari pekan sebelumnya Rp 43,76 triliun.

Sementara itu, investor asing melepas saham Rp 1,13 triliun. Aksi jual ini lebih rendah dari pekan lalu Rp 13,92 triliun.

  • liputan6
    Obligasi adalah surat pinjaman dengan bunga tertentu dari pemerintah yang dapat diperjualbelikan.
    obligasi
  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • liputan6
    Bursa Efek Indonesia atau BEI adalah salah satu tempat yang memperjualbelikan saham, obligasi, dan sebagainya di Indonesia.
    BEI
  • Bursa sepekan
  • Sukuk