Pecah Rekor, Walmart Jadi Peritel Pertama Tembus Nilai Pasar Rp 16.833 Triliun

Saham Walmart melonjak hingga mendorong kapitalisasi pasar USD 1 triliun. Jadi incaran orang kaya saat inflasi.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 18:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejarah baru tercipta di bursa Wall Street. Raksasa ritel asal Amerika Serikat, Walmart, resmi menjadi peritel fisik pertama di dunia yang berhasil mencapai valuasi pasar sebesar USD 1 triliun atau sekitar Rp 16.833 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.830).

Pencapaian fantastis ini membawa Walmart masuk ke dalam "klub elit" perusahaan bernilai triliunan dolar, bersanding dengan raksasa teknologi dunia seperti Nvidia dan Alphabet.

Saham Meroket Berkat Strategi Harga dan AI

Kenaikan valuasi ini dipicu oleh lonjakan harga saham Walmart yang melesat lebih dari 3 persen pada perdagangan Selasa waktu setempat. Investor merespons positif transformasi bisnis Walmart yang kini tidak hanya mengandalkan toko fisik, tetapi juga mulai merambah teknologi kecerdasan buatan (AI) dan e-commerce. Demikian mengutip BBC, ditulis Kamis, (5/2/2026).

Selain faktor teknologi, kondisi ekonomi global turut menguntungkan Walmart. Di tengah bayang-bayang inflasi dan pasar kerja yang melambat, Walmart yang dikenal dengan slogan harga murahnya menjadi magnet bagi konsumen. Menariknya, pembeli dari kalangan berpenghasilan tinggi kini mulai beralih ke Walmart untuk mencari efisiensi biaya.

Efek Kepemimpinan Baru dan Adopsi AI

Momen bersejarah ini terjadi tepat pada minggu pertama kepemimpinan John Furner sebagai Chief Executive Officer (CEO). Di bawah kendalinya, Walmart semakin gencar mengintegrasikan teknologi ke dalam pengalaman belanja.

Salah satu langkah strategis yang diambil adalah kemitraan dengan OpenAI pada Oktober lalu. Kolaborasi ini memungkinkan pelanggan Walmart dan anggota Sam’s Club untuk merencanakan menu makan hingga belanja kebutuhan pokok hanya melalui fitur obrolan berbasis AI.

Keputusan Walmart untuk memindahkan pencatatan sahamnya dari New York Stock Exchange (NYSE) ke Nasdaq bursa yang didominasi perusahaan teknologi akhir tahun lalu, semakin mempertegas ambisi perusahaan untuk bertransformasi menjadi entitas digital.

 

Menantang Dominasi Amazon

Meski telah menembus angka USD 1 triliun, Walmart masih harus mengatasi ketertinggalan dari pesaing utamanya, Amazon. Saat ini, nilai pasar Amazon tercatat mencapai USD 2,6 triliun, atau lebih dari dua kali lipat valuasi Walmart.

Namun, pertumbuhan e-commerce Walmart tidak bisa dipandang sebelah mata. Penjualan online mereka di AS melonjak 28 persen pada tiga bulan hingga 31 Oktober, didorong oleh layanan pengiriman rumah yang cepat dan bisnis iklan digital yang kian ekspansif.

Tangguh Hadapi Tantangan Global

Terkait isu kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, manajemen Walmart mengaku cukup optimis. Chief Financial Officer (CFO) Walmart, John David Rainey, menyebut bahwa skala bisnis perusahaan yang masif memungkinkan mereka mengatasi pajak impor lebih baik dibandingkan pesaing lainnya.

"Walmart lebih terlindungi daripada hampir semua perusahaan lain mengingat proposisi nilai yang kami miliki," ujar John David.

Dengan pencapaian ini, Walmart membuktikan peritel tradisional mampu bertahan dan justru bersinar di era digital asalkan mampu beradaptasi dengan teknologi masa depan.

Â