Citi: Aktivitas IPO Indonesia Masih Dibayangi Tantangan Likuiditas

Aktivitas pasar modal Indonesia stagnan di angka USD 1 miliar. Simak analisis Citi mengenai penyebab lesunya pasar IPO.

Diterbitkan 15 Januari 2026, 16:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar penawaran umum perdana saham (IPO) di Indonesia diperkirakan masih menghadapi tantangan pada tahun ini. Head of Asia Equity Capital Markets Syndicate Citi, Rob Chan, menilai aktivitas pasar modal Tanah Air belum menunjukkan pemulihan signifikan dalam jangka pendek.

Menurutnya, sepanjang tahun lalu, aktivitas equity capital market (ECM) di Indonesia tercatat sekitar USD 1 miliar. Angka tersebut relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan menurun jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya ketika kondisi pasar global masih lebih kondusif.

"Saya pikir dalam hal Indonesia, tahun lalu kita melihat aktivitas ECM sekitar satu miliar dolar yang relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya dan tentu saja mengalami penurunan dibandingkan dua tahun lalu," kata Rob Chan dalam Asia South Investment BankingOutlook 2026, Kamis (15/1/2026).

Salah satu faktor utama yang masih menjadi perhatian investor terhadap pasar saham Indonesia adalah likuiditas perdagangan. Rob Chan menyebut, isu likuiditas kerap menjadi pertimbangan krusial bagi pelaku pasar sebelum memutuskan untuk masuk dalam aksi penggalangan dana melalui IPO maupun penerbitan saham lanjutan.

"Saya pikir secara keseluruhan, salah satu pertimbangan utama yang dimiliki orang-orang untuk Indonesia masih akan berpusat pada likuiditas perdagangan saham di sana," ujarnya.

 

Sektor Komoditas Dinilai Berpeluang Menarik Minat Investor

Meski aktivitas IPO secara umum masih terbatas, Citi melihat peluang tetap terbuka bagi perusahaan dari sektor tertentu. Industri berbasis komoditas dinilai berpotensi mencuri perhatian investor, seiring dengan kinerja harga komoditas yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan penguatan signifikan.

"Saya pikir sejauh ada perusahaan di industri tertentu seperti komoditas, yang telah mengalami kenaikan yang sangat kuat, perusahaan-perusahaan tersebut mungkin akan mendapat manfaat dari peningkatan perhatian investor untuk melihat potensi peluang penggalangan modal ekuitas tambahan," ujarnya.

Namun demikian, Rob Chan menegaskan bahwa untuk jangka pendek, khususnya pada semester pertama tahun ini, aktivitas IPO di Indonesia belum diharapkan berlangsung ramai. Sejumlah perusahaan yang semula merencanakan IPO kemungkinan akan menunda aksi korporasinya ke paruh kedua tahun ini atau bahkan menggesernya ke tahun berikutnya, sambil menunggu kondisi pasar yang lebih mendukung.