Harga Emas Terus Cetak Rekor, Emiten Tambang Ini Diprediksi Panen Laba

Emiten tambang dinilai mendapatkan manfaat dari lonjakan harga emas dunia. Berikut emiten yang berpeluang mendapatkan katalis positif dari kenaikan harga emas.

Diterbitkan 14 Januari 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Pasar Modal Reydi Octa, mengatakan emiten tambang emas yang paling diuntungkan dari lonjakan harga emas adalah perusahaan yang sudah berproduksi aktif dan memiliki biaya produksi efisien.

Dalam kondisi harga emas mencetak rekor, emiten jenis ini bisa langsung mengonversi kenaikan harga jual menjadi pendapatan dan laba, tanpa menunggu proyek baru beroperasi. Ia menilai, emiten dengan tambang yang sudah berjalan menjadi penerima manfaat utama. Emiten yang paling diuntungkan adalah PT Aneka Tambang Tbk dan PT Bumi Resources Minerals Tbk.

"Emiten yang paling diuntungkan adalah perusahaan dengan produksi yang sudah berjalan, seperti ANTM dan BRMS," kata Reydi kepada Liputan6.com, Rabu (14/1/2026).

Keduanya memiliki produksi emas yang sudah berjalan, sehingga reli harga emas berpotensi langsung meningkatkan pendapatan dan laba. Untuk investor jangka menengah hingga panjang, strategi akumulasi bertahap dinilai lebih tepat mengingat harga emas dan saham sektor ini berada di area tinggi.

"Dari sisi strategi, untuk investor jangka menengah dan panjang sebaiknya melakukan akumulasi bertahap karena harga saat ini cenderung berada di puncak," ujar dia.

Pergerakan Harga Secara Historis

Reydi menuturkan, secara historis, reli harga emas kerap diikuti penguatan saham-saham sektor terkait. Pasar biasanya merespons optimisme margin yang membaik, seiring ekspektasi bahwa kinerja keuangan emiten akan terdongkrak pada periode laporan keuangan berikutnya.

"Secara historikal tren penguatan emas kerap direspon dengan kenaikan harga saham, hingga nanti tren lanjutannya saat rilis kinerja laporan keuangan," ujarnya.

Menurut dia, dengan struktur biaya yang terkendali, setiap kenaikan harga emas berpotensi langsung meningkatkan laba bersih perusahaan.

 

Faktor Global

Di sisi lain, kata Reydi, reli harga emas saat ini masih ditopang oleh sejumlah faktor fundamental global. Ketidakpastian geopolitik yang berlanjut membuat investor cenderung mencari aset aman, dengan emas kembali menjadi pilihan utama sebagai instrumen lindung nilai.

Selain itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global turut menopang penguatan harga emas. Harapan penurunan suku bunga mendorong daya tarik emas, karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah.

"Saran untuk investor sebaiknya selain melihat penguatan harga emas, perlu dicermati juga untuk peningkatan laba yang akan menjadi sentimen positif berkelanjutan, bukan sekedar sentimen jangka pendek," pungkasnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Harga Emas Cetat Rekor

Sebelumnya, harga emas menguat dan perak mencapai level tertinggi. Kenaikan logam mulia itu seiring data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan mendukung argument untuk penurunan suku bunga lebih lanjut. Di sisi lain, situasi geopolitik tetap tegang.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (14/1/2026), harga perak naik hingga 3,5% menyentuh USD 89,9965 per ounce. Sedangkan emas diperdagangkan mendekati puncak sepanjang masa. Inflasi inti pada Desember tidak setinggi yang dikhawatirkan, meski para ekonom mengatakan data itu secara artifisial tertekan oleh penutupan pemerintah atau shutdown pemerintah AS yang berlangsung sangat lama pada akhir tahun lalu.

Harga emas di pasar spot naik 0,8% menjadi USD 4.621,92 per ounce pada pukul 10:25 pagi di Singapura. Harga perak bertambah 3,2% menjadi USD 89,7457. Sementara itu, platinum dan paladium juga mengalami kenaikan.

 

Reli Logam Mulia

Logam mulia memulai 2026 dengan kuat setelah reli yang luar biasa tahun lalu dengan prospek dakwaan pidana terhadap ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell yang kembali menghidupkan kekhawatiran tentang independensi otoritas moneter. Adapun bank sentral di seluruh dunia telah mendukung Powell. Selain itu, CEO JPMorgan Chase and Co, Jamie Dimon mengatakan, intervensi politik dapat menjadi bumerang.

Permintaan aset safe haven juga didukung oleh penangkapan pemimpin Venezuela oleh Presiden AS Donald Trump, ancaman barunya untuk merebut Greenland dan protes kekerasan di Iran yang dapat menyebabkan perubahan rezim.

Di sisi lain, Analis Citigroup Inc pekan ini meningkatkan preduksi harga emas dan perak masing-masing menjadi USD 5.000 per ounce dan USD 100 per ounce dalam tiga bulan ke depan.