Pasar Asia Tergelincir Meski Wall Street Menguat Berkat Amazon dan Nvidia

Reli Wall Street gagal menular ke bursa Asia, investor masih menanti kebijakan suku bunga dan data ekonomi kawasan.

Diterbitkan 04 November 2025, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham di kawasan Asia dan Pasifik sebagian besar melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (4/11/2025). Gerak bursa Asia ini berlawanan arah dengan reli di Wall Street yang didorong oleh penguatan saham-saham teknologi besar.

Dikutip dari CNBC, Selasa (4/11/2025), reli di bursa Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dipicu oleh kenaikan saham Amazon sebesar 4% setelah perusahaan menandatangani kesepakatan senilai USD 38 miliar dengan OpenAI, yang akan memanfaatkan ratusan ribu unit pemrosesan grafis (GPU) dari Nvidia.

Saham Nvidia juga naik sekitar 2% setelah mendapatkan izin ekspor untuk mengirim chip ke Uni Emirat Arab (UEA).

Di kawasan Asia-Pasifik, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,36% menjelang keputusan kebijakan suku bunga dari Bank Sentral Australia (RBA). Indeks Nikkei 225 Jepang juga melemah 0,39%, sedangkan Topix turun 0,23%.

Di Korea Selatan, Kospi merosot 0,32%, namun indeks Kosdaq justru naik tipis 0,24%. Sementara itu, futures Hang Seng Hong Kong mengindikasikan pembukaan lebih rendah di level 26.134 dibanding penutupan sebelumnya di 26.158,36.

 

Menunggu Kebijakan Bank Sentral

Secara keseluruhan, sentimen di bursa Asia masih tertekan oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan prospek kebijakan moneter yang ketat. Investor juga mencermati data ekonomi China yang lesu serta arah kebijakan bank sentral di kawasan Asia.

Sementara itu, di bursa Amerika Serikat semalam, indeks Nasdaq yang berfokus pada sektor teknologi naik 0,46%, diikuti S&P 500 yang menguat 0,17%. Namun, Dow Jones Industrial Average justru melemah 0,48% karena aksi ambil untung di saham-saham industri.

Kinerja yang beragam antara Wall Street dan Asia menunjukkan perbedaan fokus investor — dengan pasar AS didorong optimisme sektor teknologi, sementara Asia masih dibayangi kekhawatiran fundamental ekonomi.