Nvidia, Perusahaan Pertama yang Kapitalisasi Pasarnya Sentuh Rp 83.199 Triliun

Nvidia menorehkan rekor dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 5,03 triliun. Kapitalisasi pasar Nvidia melebihi Produk Domestik Bruto (PDB) sejumlah negara ini.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 16:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Produsen chip Nvidia kembali cetak rekor baru. Kali ini, Nvidia mencatat kapitalisasi pasar USD 5 triliun atau Rp 83.199 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.643).

Pada Rabu, 29 Oktober 2025 waktu setempat, saham Nvidia ditutup naik 2,99%  pada harga USD 207,04 dengan 24,3 miliar lembar saham beredar, sehingga kapitalisasi pasarnya mencapai USD 5,03 triliun.

Kapitalisasi pasar Nvidia yang mencapai USD 5 triliun ini diraih hanya tiga bulan setelah produsen chip Silicon Valley menjadi yang pertama menembus USD 4 triliun atau Rp 66.577 triliun.

Mengutip laman AP, Kamis (30/10/2025), mencapai tolok ukur baru ini semakin menekankan gejolak yang dipicu oleh tren kecerdasan buatan. Hal ini dinilai sebagai pergeseran terbesar dalam teknologi sejak salah satu pendiri Apple, Steve Jobs, meluncurkan iPhone pertama 18 tahun yang lalu. Apple memanfaatkan kesuksesan iPhone untuk menjadi perusahaan publik pertama yang bernilai USD 1 triliun, USD 2 triliun, dan akhirnya, USD 3 triliun.

Namun, terdapat kekhawatiran akan kemungkinan gelembung Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, dengan para pejabat di Bank of England awal bulan ini menandai meningkatnya risiko harga saham teknologi yang melonjak akibat ledakan AI dapat meledak. Kepala Dana Moneter Internasional telah menyuarakan kekhawatiran serupa.

Hasrat yang besar terhadap chip Nvidia menjadi alasan utama kenaikan harga saham perusahaan yang begitu pesat sejak awal 2023. Pada perdagangan Rabu pekan ini, kapitalisasi pasar saham Nvidia sentuh USD 5 triliun.

Adapun kapitalisasi pasar Nvidia ini lebih besar daripada Produk Domestik Bruto (PDB) India, Jepang dan Inggris, berdasarkan Dana Moneter Internasional atau the International Monetary Fund (IMF).

 

Nvidia Memimpin Pengembangan Chip

Nvidia memimpin sejak awal dalam mengembangkan chipsetnya yang dikenal sebagai unit pemrosesan grafis, atau GPU, mulai dari penggunaan untuk menjalankan gim video hingga membantu melatih sistem AI yang canggih, seperti teknologi di balik ChatGPT dan generator gambar.

Permintaan meroket seiring semakin banyak orang mulai menggunakan chatbot AI. Perusahaan teknologi berebut mendapatkan lebih banyak chip untuk membangun dan menjalankannya.

CEO Nvidia Jensen Huang telah meremehkan kekhawatiran akan pecahnya gelembung. Ia menilai, chatbot AI generatif yang hanya "menarik" ketika pertama kali muncul beberapa tahun lalu kini menjadi sangat berguna sehingga akan menguntungkan.

Huang menuju Korea Selatan minggu ini ketika para pemimpin dari negara-negara ekonomi utama di Lingkar Pasifik, termasuk Amerika Serikat, China , dan Jepang, berkumpul untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik tahunan yang telah lama memperjuangkan perdagangan bebas tetapi kini menghadapi tarif AS yang besar terhadap teknologi dan produk lainnya.

Pertemuan multilateral di Gyeongju akan dibayangi oleh acara sampingan, pertemuan tatap muka pada Kamis antara Trump dan pemimpin China  Xi Jinping.

Hal ini karena perang dagang yang semakin memanas membuat Korea Selatan berada dalam posisi yang sulit untuk menyeimbangkan situasi.

 

 

Bisnis Nvidia

Pada Selasa, Huang mengungkapkan pesanan chip senilai USD 500 miliar. Perusahaan tersebut juga mengumumkan kemitraan dengan Uber untuk robotaxi dan investasi USD 1 miliar di Nokia, dengan keduanya berencana untuk bekerja sama dalam teknologi 6G.

Selain itu, Nvidia bekerja sama dengan Departemen Energi untuk membangun tujuh superkomputer AI baru.

Bulan lalu, Nvidia mengumumkan akan berinvestasi USD 100 miliar di OpenAI sebagai bagian dari kemitraan yang akan menambah setidaknya 10 gigawatt pusat data AI Nvidia untuk meningkatkan daya komputasi bagi pemilik chatbot kecerdasan buatan ChatGPT.

Pada Agustus, Huang mengatakan, Nvidia sedang mendiskusikan potensi chip komputer baru yang dirancang untuk China dengan pemerintahan Trump.

Pada Agustus, Trump mengumumkan kesepakatan dengan produsen cip Nvidia dan AMD untuk mencabut kontrol ekspor atas penjualan cip canggih ke China dengan imbalan pemotongan pendapatan sebesar 15%, meskipun ada kekhawatiran dari para pakar keamanan nasional bahwa cip tersebut akan berakhir di tangan militer dan badan intelijen China.

Pada bulan yang sama, Trump mengumumkan pemerintah AS telah mengambil 10 persen saham Intel senilai sekitar USD 11 miliar.

Kemudian, Nvidia mengumumkan bulan lalu mereka berinvestasi USD 5 miliar di Intel dan akan berkolaborasi dengan perusahaan semikonduktor yang sedang kesulitan tersebut.