Sukses

Bursa Saham Global Anjlok Usai Protes di China Terkait Pembatasan COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham global termasuk di China dan mata uang Yuan melemah pada pembukaan perdagangan Senin, 28 November 2022. Hal ini seiring protes yang meluas terhadap pembatasan COVID-19 yang ketat di China selama akhir pekan sehingga guncang sentimen investor.

Pada awal perdagangan, indeks Hang Seng turun 4,2 persen. Pada penutupan perdagangan, koreksi terpangkas sehingga indeks acuan tersebut merosot lebih dari dua persen. Indeks Hang Seng perusahaan China, indeks utama yang melacak kinerja perusahaan China daratan yang terdaftar di Hong Kong susut 2 persen.

Di China daratan, indeks Shanghai melemah 0,9 persen. Indeks acuan tersebut sempat turun 2,2 persen. Indeks Shenzhen turun 1,1 persen. Mata uang China Yuan anjlok terhadap dolar AS pada Senin pagi, 28 November 2022.

Yuan sempat melemah 0,9 persen, dan pada penutupan perdagangan tergelincir 0,6 persen ke posisi 7,206 per dolar AS. Managing Partner SPI Asset Management, Stephen Innes menuturkan, anjloknya Yuan menunjukkan investor menjalankan langkah dingin terhadap China.

 “Pasar mata uang mungkin menjadi barometer paling sederhana untuk mengukur apa yang dipikirkan investor domestik dan luar negeri,” ujar Stephen seperti dikutip dari CNN, Senin (28/11/2022).

Koreksi pasar terjadi setelah protes meletus di seluruh China seiring protes yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kebijakan nol COVID-19 yang ketat dan semakin mahal di China.

Di kota-kota terbesar di China, dari pusat keuangan Shanghai hingga Beijing, penduduk berkumpul selama akhir pekan untuk berduka atas kematian akibat kebakaran di Xinjiang, menyuarakan dan menentang kebijakan nol COVID-19, dan menyerukan kebebasan dan demokrasi.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Bursa Saham Asia Pasifik Melemah pada 28 November 2022

Kemarahan dan pembangkangan yang meluas, beberapa di antaranya berlangsung hingga Senin pagi, sangat jarang terjadi di China.

Bursa saham Asia juga melemah pada perdagangan Senin, 28 November 2022. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1 persen, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,6 persen, dan indeks ASX 200 tergelincir 0,3 persen.

Di sisi lain, bursa saham berjangka Amerika Serikat melemah. Indeks Dow Jones berjangka merosot 0,5 persen atau 171 poin. Indeks S&P 500 berjangka terpangkas 0,7 persen. Indeks Nasdaq susut 0,8 persen.

Mengutip CNBC, indeks Eropa Stoxx 600 melemah 0,9 persen pada awal sesi perdagangan Senin pagi. Indeks CAC 40 melemah 0,6 persen dan indeks DAX susut 0,5 persen. Indeks FTSE 100 merosot 0,7 persen.

Harga minyak juga merosot tajam dengan investor khawatir lonjakan kasus COVID-19 dan protes di China dapat melemahkan permintaan dari salah satu konsumen minyak terbesar dunia. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat turun 2,7 persen ke posisi USD 74,19 per barel. Harga minyak mentah Brent melemah 2,6 persen ke posisi USD 81,5 per barel.

3 dari 4 halaman

Kondisi Ekonomi China yang Saling Tarik Menarik

Pada Jumat, 25 November 2022, sehari sebelum protes dimulai, bank sentral China memangkas jumlah uang tunai yang harus disimpan pemberi pinjaman sebagai cadangan untuk kedua kalinya pada 2022. Rasio persyaratan cadangan untuk sebagian besar bank berkurang 25 persen.

Langkah itu bertujuan menopang ekonomi yang telah dilumpuhkan oleh pembatasan COVID-19 yang ketat dan pasar properti yang sedang sakit. Namun, analis tidak berpikir langkah itu akan berdampak signifikan.

“Memangkas RRR sekarang seperti menekan tali, karena kami yakin rintangan sebenarnya bagi ekonomi adalah pandemi COVID-19 dari pada dana pinjaman yang tidak mencukupo,” ujar Analis dari Nomura dalam riset yang dirilis, Senin, 28 November 2022.

“Dalam pandangan kami, mengakhiri langkah-langkah pandemi COVID-19 secepat mungkin adalah kunci pemulihan permintaan kredit dan pertumbuhan ekonomi,” tulis mereka.

Innes dari SPI Asset Management mengatakan, ekonomi China saat ini terjebak di tengah tarik menarik antara melemahnya fundamental ekonomi dan meningkatnya harapan kembali pembukaan.

 

 

4 dari 4 halaman

Aksi Protes Dapat Tekan Ekonomi

"Untuk lembaga resmi China tidak ada jalan yang mudah. Mempercepat rencana pembukaan kembali ketika kasus COVID-19 meningkat tidak mungkin, mengingat rendahanya cakupan vaksinasi untuk lansia,” ujar dia.

Ia menambahkan, protes masal akan sangat menekan skala yang mendukung ekonomi yang bahkan lebih lemah dan kemungkinan besar disertai dengan lonjakan besar-besaran dalam kasus COVID-19 membuat pembuat kebijakan menghadapi dilemma yang cukup besar.

Dalam waktu dekat, ia menuturkan, saham dan mata uang China akan hargai ketidakpastian yang lebih signifikan di Beijing terhadap protes yang sedang berlangsung. Ketidakpuasan sosial dapat meningkat di China selama beberapa bulan ke depan, menguji tekad pembuat kebijakan untuk tetap berpegang pada mandat nol COVID-19.

“Tetapi dalam jangka panjang, hasil yang lebih pragmatis dan kemungkinan besar adalah pelonggaran pembatasan COVID-19 yang lebih cepat setelah gelombang saat ini mereda,” ujar dia.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS