Sukses

IPO, Jhonlin Agro Raya Lepas 15,29 Persen Saham

Liputan6.com, Jakarta - PT Jhonlin Agro Raya Tbk, perusahaan bergerak di usaha perkebunan dan pengolahan minyak kelapa sawit terpadu melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Mengutip laman e-ipo, Senin (11/7/2022), PT Jhonlin Agro Raya Tbk menggelar IPO dengan melepas saham sebanyak-banyaknya 1,22 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100. Jumlah saham yang ditawarkan Jhonlin Agro Raya setara 15,29 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Harga penawaran saham perdana di kisaran Rp 250-Rp 300 per saham. Dengan demikian, perseroan akan peroleh dana IPO maksimal Rp 366,88 miliar.

Rencana pemakaian dana IPO antara lain sekitar 21 persen untuk pembayaran sebagian biaya pembangunan proyek pabrik kelapa sawit. Kemudian sisanya sekitar 79 persen untuk modal kerja yaitu pembelian CPO dan bahan baku lainnya.

Untuk melaksanakan IPO ini, perseroan telah menunjuk PT Investindo Nusantara Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Pemegang saham perseroan setelah IPO antara lain PT Eshan Agro Sentosa sebesar 84,64 persen, PT Sinar Bintang Mulai sebesar 0,08 persen dan masyarakat sebesar 15,29 persen.

Perseroan mencatat penjualan bersih Rp 1,3 triliun hingga 31 Maret 2022. Penjualan itu naik 12.433 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 10,39 miliar. Sementara itu, perseroan mencatat laba tahun berjalan Rp 80,27 miliar hingga kuartal I 2022 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 7,81 miliar.

Perseroan mencatat liabilitas Rp 2,48 triliun hingga kuartal I 2022 dari periode Desember 2021 sebesar Rp 1,65 triliun. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp 834,42 miliar selama tiga bulan pertama 2022 dari Desember 2021 sebesar Rp 750,25 miliar. Total aset perseroan naik menjadi Rp 3,33 triliun hingga Maret 2022 dari Desember 2021 sebesar Rp 2,40 triliun.

Jadwal:

-Masa penawaran awal pada 12-15 Juli 2022

-Perkiraan tanggal efektif pada 26 Juli 2022

-Perkiraan masa penawaran umum pada 28 Juli-1 Agustus 2022

-Perkiraan tanggal penjatahan pada 1 Agustus 2022

-Perkiraan tanggal distribusi saham secara elektronik pada 2 Agustus 2022

-Perkiraan tanggal pencatatan saham pada BEI pada 3 Agustus 2022

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

37 Perusahaan Antre di Pipeline IPO Bursa

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sejumlah perusahaan tengah antre di pipeline initial public offering (IPO).

Berdasarkan sektornya, masih didominasi oleh sektor consumer non-cyclicals. Adapun hingga 8 Juli 2022, terdapat 25 perusahaan yang telah mencatatkan saham di BEI.

"Hingga saat ini, terdapat 37 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna kepada wartawan, ditulis Sabtu (9/7/2022).

Merujuk POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat sembilan perusahaan dengan aset stakal kecil di bawah Rp 50 miliar. Kemudian 15 perusahaan dengan aset skala menengah antara Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar. Serta 13 perusahaan dengan aset skala besar di atas Rp 250 miliar.

Rincian sektornya adalah sebagai berikut:

• 2 Perusahaan dari sektor Basic Materials

• 7 Perusahaan dari sektor Consumer Cyclicals

• 9 Perusahaan dari sektor Consumer Non-Cyclicals

• 2 Perusahaan dari sektor Energy

• 2 Perusahaan dari sektor Healthcare

• 2 Perusahaan dari sektor Industrials

• 4 Perusahaan dari sektor Infrastructures

• 1 Perusahaan dari sektor Properties & Real Estate

• 3 Perusahaan dari sektor Technology

• 5 Perusahaan dari sektor Transportation & Logistic

Selain IPO, ada juga 23 korporasi yang akan mencatatkan 29 emisi dalam pipeline pencatatan obligasi dan sukuk.

3 dari 4 halaman

Potensi Penggalangan Dana dari Pasar Modal Masih Ramai

Sebelumnya, sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19, penggalangan dana di pasar modal, baik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) maupun right issue, diperkirakan masih ramai.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total potensi penghimpunan dana dari pasar modal mencapai Rp 84,2 triliun. Penghimpunan dana itu dari penawaran saham perdana (IPO), rights issue dan penerbitan surat utang.

Sebelumnya, BEI kantongi 43 perusahaan dalam proses IPO dengan perkiraan total dana yang dihimpun Rp 14,1 triliun. Kemudian terdapat 33 perusahaan yang akan melakukan aksi korporasi itu hingga 3 Juni 2022. Perkiraan dana yang akan dihimpun dari rights issue mencapai Rp 25,2 triliun.

Selanjutnya pada pipeline pencatatan efek bersifat utang dan sukuk terdapat 36 emisi yang akan diterbitkan oleh 30 perusahaan dengan perkiraan total dana yang akan dihimpun Rp 44,9 triliun

Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan menilai baik dari sisi emiten, selaku pihak yang membutuhkan dana, maupun investor selaku penyedia dana, akan mengacu pada seberapa besar pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.

"Karena dengan kondisi pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut, emiten akan berani ekspansi sehingga akan mencari pendanaan di pasar modal. Sementara dari sisi investor dengan kondisi ekonomi yang baik maka dana yang mereka berikan baik melalui penawaran saham maupun obligasi bisa digunakan oleh emiten secara produktif. Sehingga investasi investor berjalan dengan baik,” ujar Alfred kepada Liputan6.com, Rabu, 8 Juni 2022.

4 dari 4 halaman

Dibayangi Dampak Kenaikan Suku Bunga

Memang, Alfred mencermati ekonomi Indonesia pada semester II ini akan diperhadapkan pada dampak kenaikan suku bunga. Namun, pihaknya melihat belum ada dampak atau tekanan yang besar yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi, konsumsi, maupun belanja masyarakat.

Ia menilai, Indonesia memiliki modal nilai tukar yang kuat, berkaca pada performa nilai tukar Rupiah secara year to date (ytd) yang masih kuat di tengah sentimen kenaikan suku bunga The Fed.

"Sentimen ini menjadi ukuran bagaimana pasar global masih optimis dengan ekonomi Indonesia in line dengan kondisi inflasi, pertumbuhan ekonomi, surplus neraca perdagangan, dan sentimen harga komoditi,” ujar dia.

Tak hanya itu, sentimen lainnya seperti aksi beli investor asing juga dinilai memberikan kepercayaan diri bagi investor lokal untuk masuk ke pasar modal, baik melalui pembelian instrumen saham maupun obligasi.

Di sisi lain, Alfred mengatakan stabilitas politik di semester II juga relatif kondusif. Sehingga perhitungan pasar sepenuhnya akan fokus kepada respon ekonomi terhadap kenaikan suku bunga, dan konflik geopolitik yang eksposurenya sudah semakin menurun.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.