Sukses

Komisaris Sarana Meditama Metropolitan Mengundurkan Diri

Liputan6.com, Jakarta - PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) mengumumkan pengunduran diri satu anggota Dewan Komisaris perseroan.

Manajemen PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk mengungkapkan, satu anggota Komisaris tersebut yakni Marianna Sutadi. “Pada 11 Mei 2022, perseroan menerima surat permohonan pengunduran diri Marianna Sutadi sebagai Komisaris Independen perseroan,” tulis manajemen Sarana Meditama Metropolitan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (14/5/2022). 

Manajemen PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk mengatakan tidak terdapat dampak material yang merugikan terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan operasional perseroan.

Pengunduran diri Marianna Sutadi berlaku efektif sejak penutupan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang dilaksanakan pada 8 Juni 2022.

Marianna Sutadi lulus sebagai Sarjana Hukum di Universitas Indonesia pada 1964. Ia kemudian berkarier sebagai Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara & Timur pada 1971—1981. Karier di bidang hukum berlanjut. Ia menjabat Asisten Hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia pada 1981—1984, dan menjadi Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Republik Indonesia pada 1993—1995.

Marianna Sutadi lalu menjadi Hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia pada 1995—2008. Pada periode tersebut, ia sempat menjadi Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia pada 2001—2004, dan Wakil Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Bidang Peradilan pada 2004—2008.

Pada 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Marianna sebagai Dubes Rumania merangkap Moldova. Mariana kemudian didapuk sebagai Komisaris Independen PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) sejak 2021. Bersamaan, ia tergabung dalam Arbiter Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Sarana Meditama Metropolitan Rampungkan Akuisisi 28 Persen Saham JEC

Sebelumnya, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) menyelesaikan pembelian 28 persen saham PT Nitrasanata Dharma (NSD), pemilik Jakarta Eye Center (JEC).

Perseroan membeli 16.396 lembar saham NSD yang dimiliki oleh Keuteneberg Holdings B.V dengan nilai nominal Rp 800 ribu per lembar saham. Sehingga total nominal seluruh saham sebesar Rp 13,12 miliar.

“Perseroan telah menyelesaikan transaksi pada 21 April 2022, sebagaimana ternyata dalam akta pengalihan saham yang telah dibuat dan ditandatangani oleh dan antara perseroan dan Keutenberd pada 21 April 2022,” ungkap Sekertaris Perusahaan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk, Rahmiyati Yahya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa, 26 April 2022.

Dengan diselesaikannya transaksi tersebut Sarana Meditama Metropolitan saat ini memiliki persentase kepemilikan saham sebesar 28 persen dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh dalam NSD. JEC adalah rumah sakit spesialis mata yang telah memiliki standar layanan internasional.

Perusahaan memiliki misi dan komitmen untuk dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pelayanan kesehatan mata.

Selama 37 tahun sejak berdiri pada 1 Februari 1984, JEC berkembang menjadi Rumah Sakit mata paling lengkap dan paling modern.

Jakarta Eye Center berkembang menjadi rumah sakit mata yang kini melayani tujuh layanan gangguan kesehatan mata. Antara lain; katarak dan bedah katarak service (lasik dan transplantasi kornea) vitreoretina service, glaucoma service, coloplast service (bedah plastik mata dan tumor mata), lensa kontak service, children eye dan squint clinic, dan low vision care.

 

3 dari 4 halaman

Sederet Manfaat Smart Hospital yang Digagas EMC Healthcare

Sebelumnya, EMC Healthcare berencana mengembangkan operasional perseroan dengan melibatkan teknologi digital. Secara garis besar, transformasi digital dapat diartikan sebagai sebuah proses adaptasi dari praktik bisnis eksisting, ke metode digital untuk tingkatkan efisiensi yang menyesuaikan dengan kebutuhan bisnis.

Sementara itu, EMC Healthcare kini tengah garap transformasi digital untuk enam rumah sakit yang dinaunginya.

Direktur IT EMC Healthcare, Wildan A. Djohany menerangkan, smart hospital adalah konsep rumah sakit yang berfokus pada optimalisasi pelayanan pasien dengan memanfaatkan sistem IT berbasis internet serta mendukung konektivitas perawatan medis dan non medis.

Sebagai gambaran, Wildan mengatakan pasien yang berada di ruang rawat inap sebuah smart hospital, bisa mengatur sendiri suhu udara ruangan, pencahayaan lampu, memilih kanal tv, dan mendapat info billing rumah sakit yang bersangkutan secara real time melalui tablet komputer yang disediakan rumah sakit.

"Tanda-tanda vital pasien seperti suhu dan tekanan darah juga bisa langsung dikirimkan ke sistem informasi rumah sakit secara," imbuhnya, saat acara webinar Transformasi Digital Menuju Smart Hospital, Kamis (24/2/2022).

Wildan mengungkapkan, EMC Healthcare memiliki cita-cita agar rumah sakit yang dinaunginya menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat. Sehubungan dengan itu, EMC Healthcare menyesuaikan dari sisi IT. Yakni dengan implementasi digitalisasi yang berorientasi pada pengalaman dan keselamatan pasien.

"Kami melakukan digitalisasi di semua lini dengan tujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan yang kedua meningkatkan efisiensi operasional RS. Dan tentunya juga kami ingin agar kinerja keuangan perusahaan tetap terus meningkat,” kata Wildan.

4 dari 4 halaman

Manfaat Pengembangan Digitalisasi

Dalam kesempatan yang sama, Praktisi Teknologi Informatika, IR Tony Seno menyebutkan, ada sejumlah manfaat dari pengembangan digitalisasi dalam ekosistem rumah sakit.

Ia menilai, rumah sakit di masa depan dituntut untuk bersaing dengan inovasi digital. Tony menuturkan, rumah sakit yang serba digital dan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artifisial inteligent/AI), dapat digunakan dokter untuk membantu meningkatkan diagnosa, dengan memberikan semua informasi yang relevan terhadap kondisi pasien.

"Jadi dengan adanya konsep rumah sakit pintar seperti ini, ada pasien datang ke rumah sakit dia baru bilang bahwa kenapa ya dokter jantung Saya suka berdebar, dokter itu sudah langsung tahu,"

"Hal seperti ini memanfaatkan artificial untuk mengurangi tugas-tugas klinis dan juga akurasinya akan semakin meningkat," ia menambahkan.

Selain itu, juga ada teknologi otomasi yang tidak lagi memerlukan pengisian form yang cukup memakan waktu. Tak hanya itu, Tony mengatakan smart hospital juga menerapkan internet of medical thing yang memungkinkan pengawasan kondisi vital pasien selama 24 jam, di manapun.