Sukses

Tuntutan Penyelidikan dan Tudingan Utamakan Keuntungan Bayangi Facebook

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Parlemen Amerika Serikat (AS) ‘menggempur’ Facebook  pada Selasa, 5 Oktober 2021 waktu setempat seiring ada tuduhan terhadap raksasa media sosial itu.

CEO Facebook Mark Zuckerberg dituduh mengambil keuntungan tinggi tetapi tidak peduli keamanan pengguna. Regulator dituntut selidiki tuduhan dan ungkap fakta perusahaan media sosial yang rugikan anak-anak bahkan picu perpecahan.

Beberapa jam kemudian, Zuckerberg mengunggah tulisan di Facebook dan membela perusahaan. Sebab tuduhan itu bertentangan dengan tujuan Facebook.

"Argumen yang menyudutkan kami sengaja mendorong konten yang membuat kemarahan orang lain demi keuntungan sangat tidak masuk akal,” tulis Zuckerberg.

"Kami menghasilkan uang dari iklan. Para pengiklan secara konsisten memberitahu kami, mereka tidak ingin iklan mereka berada di samping konten berbahaya atau konten kemarahan. Saya tidak tahu perusahaan teknologi mana pun yang membuat produk yang membuat orang marah atau Depresi,” ia menambahkan.

Selama masa dengar pendapat bersama Senate Commerce subcommittee, pelapor (whistleblower) Frances Haugen menyerukan ada transparansi tentang bagaimana Facebook membujuk pengguna untuk memperpanjang waktu berada di situs.

Selain itu, bagaimana Facebook memberi banyak kesempatan beriklan di situs jejaring media sosial tersebut.

“Selama Facebook beroperasi dalam bayang-bayang dan menyembunyikan penelitiannya dari pengawasan publik. Itu tidak bertanggung jawab,” ujar Haugen mantan karyawan sekaligus salah pelapor dari perusahaan yang berpenghasilan USD 1 miliar atau sekitar Rp 14,2 triliun (asumsi kurs Rupiah Rp 14.239 terhadap dolar AS).

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Perlu Tindakan Kongres

Haugen membenarkan perusahaan tahu bagaimana membuat Facebook dan Instagram lebih aman. Sayangnya tidak ada perubahan apapun karena telah menempatkan keuntungan astronomis di atas segalanya. Haugen menilai perlunya tindakan dari Kongres.

Di era bipartisipan jarang diterapkan di Washington, anggota parlemen dari kedua belah pihak mengancam perusahaan Zuckerberg. Gambaran adanya peningkatan kemarahan dari Kongres kepada Facebook di tengah berbagai tuntutan reformasi legislatif.

Senator Dan Sullivan dari partai Republik menuturkan keprihatinan tentang pengaruh Facebook dan anak perusahaan (Instagram) terhadaap kesehatan mental anak.

"Saya pikir kita perlu melihat 20 tahun ke belakang dan kita akan bepikir seperti apa yang seharusnya dilakukan,” kata dia.

Sementara itu, Haugen mengungkapkan dialah yang memberikan dokumen yang digunakan saat investigasi Wall Street Journal dan sidang Senat terkait bahaya Instragram terhadap gadis remaja. Haugen menyandingkan situs media sosial dengan zat adikif seperti tembakau dan opioid.

Panel chair Senator Richard Blumenthal dari partai Demokrat, menginformasikan Facebook telah mengetahui produknya membuat ketagihan bagi penggunanya.

Menurut Blumenthal, saat ini teknologi hadapi momen kebenaran. Dia pun memintaZuckerberg untuk bersaksi di depan Komite, Securities and Exchange Commission dan Federal Trade Commission.

“Anak-anak menjadi korban. Saat ini remaja yang bercermin merasa ragu dan rasakan insecure. Mark Zuckerberg seharusnya melihat dirinya sendiri di cermin," tambah Blumenthal.

Dia pernah bertanya mengapa Zuckerberg menolak rekomendasi agar membuat produk perusahaan yang lebih aman bagi pengguna.

3 dari 4 halaman

Saham Facebook

Saham Facebook meningkat 2 persen pada Selasa, 5 Oktober 2021 sehingga ditutup pada USD 332,96 atau Rp 474, 1 juta. Angka ini berada 13 persen di bawah rekor penutupan tertinggi pada 7 September 2021.

Sehari setelah Facebook mengalami pemadaman atau down berjam-jam, Haugen dalam kesaksiannya menunjuk ada kerusakan.

"Selama lebih dari lima jam Facebook tidak berfungsi untuk perdalam perpecahan, mengacaukan demokrasi serta membuat remaja dan wanita muda merasa buruk tentang tubuhnya,"

Ketika anggota parlemen mengkritik Facebook dan Zuckerberg habis-habisan, Juru Bicara Perusahaan tidak tinggal diam dan melawan balik di Twitter. Yang mana tertulis, Haugen tidak bekerja secara langsung pada masalah yang ia permasalahkan.

Haugen merupakan mantan Product Manager pada divisi Facebook’s Civic Misinformation Team. Haugen meninggalkan dengan membawa perusahaan dengan puluhan ribu dokumen rahasia.

Sedangkan Senator Marsha Blacburn dari partai Republik menuduh Facebook tutup mata terhadap anak-anak di bawah usia 13 tahun.

"Jelas Facebook hanya prioritaskan keuntungan daripada kesejahteraan anak-anak dan semua pengguna,” ujar dia.

Juru Bicara Facebook Lena Pietsch membantah pengetahuan Haugen tentang mekanisme kerja internal perusahaan.

“Kami tidak setuju dengan karakterisasi atas banyak masalah yang Haugen saksikan,” sangkal Pietsch dalam sebuah pernyataan.

Pekan lalu, Facebook Global Head of Safety, Antigone Davis memberikan pembelaan perusahaan di depan Kongres. Davis berkata Facebook telah berusaha merilis studi internal tambahan sebagai upaya transparansi tentang temuannya.

4 dari 4 halaman

Minta Pengawasan Publik

Haugen mengatakan, dia akan mendorong pengawasan dan pengawasan publik, tentang cara kerja algoritma konten dan konsekuensinya. Dia menyarankan untuk membuat badan khusus dalam pemerintah federal untuk mengawasi perusahaan media sosial.

Blumenthal mengatakan, dia mungkin ingin mengadakan sidang tambahan untuk membahas masalah keamanan nasional terkait dengan Facebook.

Haugen menuturkan, langkah Facebook terlalu sedikit untuk mencegah situsnya digunakan oleh oknum yang rencanakan kekerasan di media sosial.

“Waktu Facebook untuk menyerang privasi kami, dan memangsa anak-anak telah berakhir. Kongres akan mengambil tindakan,” tegas Senator Markey dalam persidangan yang tidak dihadiri Mark Zuckerberg.

Sepanjang persidangan, anggota parlemen menyebut Zuckerberg pergi berlayar alih-alih menghadapi tanggung jawabnya. Akhir pekan ini, CEO Facebook menunggah video yang diambil dengan kacamata pintar baru milik istrinya di atas kapal.

 

 

Reporter: Ayesha Puri