Sukses

Wall Street Kompak Menguat, Indeks S&P 500 Cetak Rekor Baru Jelang Laporan Keuangan Emiten

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kompak menguat pada perdagangan Senin, 26 Juli 2021. Indeks S&P 500 mencapai rekor tertinggi lagi jelang laporan keuangan dari perusahaan teknologi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 naik 0,2 persen ke posisi 4.422,30. Penguatan indeks S&P 500 memperpanjang kenaikan beruntun dalam lima hari.

Indeks Dow Jones menguat 82,76 poin atau 0,2 persen ke level tertinggi sepanjang masa di 35.144,3. Indeks Nasdaq naik ke posisi 14.840,71, mencapai level tertinggi baru.

Pekan ini termasuk tersibuk untuk melihat laporan keuangan emiten. Awal pekan ini dimulai dengan Tesla setelah bel penutupan perdagangan. Pekan lalu, CEO Tesla Elon Musk mengatakan, pihaknya akan mulai menerima bitcoin untuk pembelian kendaraan lagi. Saham Tesla naik 2,2 persen pada 26 Juli 2021.

Raksasa teknologi Apple, Alphabet, dan Microsoft siap melaporkan kinerja pada Selasa waktu setempat. Google, Facebook dan Amazon juga akan melaporkan kinerja pada akhir pekan ini.

Laporan keuangan emiten kuartal II 2021 lebih kuat dari yang diharapkan sehingga memberikan dukungan untuk saham sehingga mencapai rekor tertinggi.

Berdasarkan FactSet, 88 persen perusahaan masuk indeks S&P 500 telah melaporkan earning per share (EPS) atau laba per saham yang positif.  

Jika 88 persen adalah persentase akhir, itu akan menandai persentase tertinggi sejak FactSet mulai melacak metrik ini pada 2008.

"Saham akan tetap tangguh karena terus mengatasi tembok kekhawatiran sehingga sentuh rekor tertinggi,” ujar Chief Market Technician Piper Sandler, dilansir dari CNBC, Selasa (27/7/202!).

Ia menambahkan, awal musim laporan keuangan dengan laba yang mengesankan telah mendorong aksi beli saham di wall street. Hal ini mengimbangi kekhawatiran atas pertumbuhn dan meningkatnya kasus baru COVID-19.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 3 halaman

Harga Bitcoin Melonjak pada Awal Pekan

Indeks acuan berakhir pada rekor penutupan tertinggi pada pekan lalu setelah bursa saham merosot di tengah kekhawatiran tentang penyebaran varian delta COVID-19. Hal tersebut berpotensi menghambat pemulihan ekonomi.

Ketidakpastian secara singkat mengirim imbal hasil obligasi lebih rendah, dan investor melompat ke saham teknologi. Baik obligasi dan saham menguat dengan cepat pada akhir pekan lalu.

“Investor khawatir tentang dampak pada pertumbuhan ekonomi dari varian delta, tetapi ketegangan baru seharusnya tidak menimbulkan risiko pasar yang besar,” ujar Head of US Equity Strategy Goldman Sachs, David Kostin dalam sebuah catatan.

Ia menambahkan, vaksinasi, permintaan dari rumah tangga dan perusahaan, valuasi yang menarik mendorong arus masuk ke saham.

Pada awal pekan ini, harga bitcoin melonjak di atas USD 40.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juni 2021 karena sentimen berubah menjadi bullish. Hal ini menyusu, aksi jual baru-baru ini yang mendorong uang kripto di bawah USD 30.000.

3 dari 3 halaman

Investor Menanti Hasil Pertemuan The Fed

Sementara itu, penjualan rumah keluarga tunggal baru di AS secara tak terduga turun pada Juni. Penjualan tersebut susut 6,6 persen ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 676.000 unit, demikian disampaikan Departemen Perdagangan.

Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan, penjualan rumah baru akan meningkat menjadi 795.000 unit pada Juni 2021.

Saham di Hong Kong mengalami kerugian besar selama sesi perdagangan di Asia pada awal pekan ini. Indeks Hang Seng anjlok karena tindakan keras pemerintah terhadap teknologi semakin intensif.

Investor juga akan mencermati pertemuan kebijakan dua hari bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve. Bank sentral AS akan mengeluarkan sikap kebijakan moneternya pada Rabu pekan ini. Departemen Perdagangan AS akan melaporkan data produk domestik bruto (PDB) kuartal II pada Kamis, 29 Juli 2021.