Sukses

Tiga Hal Ini Jadi Pertimbangan Medikaloka Hermina saat Ekspansi RS

Liputan6.com, Jakarta - Terus ekspansi dan mengembangkan usahannya, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menegaskan pihaknya siap memiliki empat rumah sakit baru setiap tahunnya.  

Direktur PT Medikaloka Hermina Tbk Aristo Setiawidjaja mengatakan, saat ini pihaknya telah memiliki 40 rumah sakit hingga 2020.

"Target hingga 2025, kalau 4 rumah sakit setiap tahun, berarti 60 rumah sakit di 2025," katanya secara virtual, Jumat (25/6/2021).

Untuk ekspansi dan pembangunan rumah sakit baru, Aristo mengaku terdapat tiga hal penting yang harus di perhatikan, salah satunya ketersediaan tenaga medis di wilayah tersebut.

"Hal pertama yang kita lihat itu dokternya dulu ada atau enggak. Karena memang di Indonesia dokter itu masih minim," ujarnya.

Selanjutnya ialah pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, visibilitas sangat penting. "Kemudian dari situ, kita lihat juga wilayah tear 1 atau 2. Kita juga punya di tear dua seperti di Wonogiri dan Pekalongan," tuturnya.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan ialah jumlah kapasitas rumah sakit. Perseroan mengaku harus mengetahui lebih dulu berapa banyak rumah sakit yang terdapat di wilayah tersebut.

"Lalu ketiga sudah ada berapa bed, kita juga harus lihat, karena kita mau buka rumah sakit dimana suplai kurang dibandingkan demandnya," tegasnya.  

 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 2 halaman

Bakal Tambah 4 RS

Sebelumnya, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menegaskan pihaknya akan menambah 4 rumah sakit baru pada 2021. Hal ini tentu saja berpengaruh pada pendapatan perseroan.

Direktur PT Medikaloka Hermina Tbk Aristo Setiawidjaja menuturkan, empat rumah sakit yang dibangun perseroan berada di Cileduk, Cibitung, Cilegon dan Soreang.

"Untuk Cileduk, Cibitung, Cilegong itu sudah buka, kalau di Soreang mugkin baru beroperasi akhir tahun," ujar dia, dalam diskusi virtual, Jumat, 25 Juni 2021.

Hadirnya rumah sakit baru diprediksi mampu menambah pendapatan perseroan, meski demikian, pendapatan yang dihasilkan tak sebesar yang sudah berjalan dua tahun.

"Tahun lalu kita bertumbuh 20 persen. Sebagai contoh, kalau same sales kontribusi rumah sakit yang sudah ada itu 17 persen. Jadi yang baru  hanya 3 persen karena baru berdiri. Jadi memang sebagian besar yang bertumbuh lebih ke rumah sakit yang sudah ada karena meningkatnya produktifitas atau menambah jumlah bed," tuturnya.

Aristo juga mengatakan, pihaknya saat ini tengah berjuang meningkatkan kapasitas tempat tidur mengingat peningkatan pasien Covid-19 beberapa waktu belakangan.

"Penambahan kapasitas kita ada dua bentuk yakni membuka rumah sakit baru, lalu penambahan tempat tidur di rumah sakit yang sudah ada. Kalau baru kebanyakan kelas C itu 100 tempat tidur, kelas B 200 tempat tidur. Dari rumah sakit yang ada pun biasanya ada penambahan tempat tidur. Untuk tahun ini kita tambah total 700 tempat tidur, 400 itu dari rumah sakit baru,” ujar dia.

Saat disinggung berapa lama rumah sakit baru bisa menjadi rumah sakit dengan pendapatan normal, Aristo menyebut minimal 24 bulan. “Kalau jadi normal kontribusi itu 24 bulan, kalau menjadi EBITDA positif itu 12 bulan,” katanya.