Sukses

Perkembangan Kasus COVID-19 hingga Neraca Dagang Bakal Warnai Laju IHSG

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan dipengaruhi sejumlah faktor dari dalam negeri. Salah satunya perkembangan kasus COVID-19.

Dalam catatan PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, dikutip Senin, (14/6/2021), pelaku pasar akan mencermati perkembangan kasus harian COVID-19 yang mulai menunjukkan tren kenaikan kasus harian COVID-19 setelah Lebaran.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, kasus aktif naik 5.064 pada 13 Juni 2021. Dengan demikian jumlah akumulasi kasus aktif sebanyak 113.388. Di sisi lain, kasus positif COVID-19 bertambah 9.868 sehingga total konfirmasi positif COVID-19 mencapai 1.911.358.

Sedangkan dari data ekonomi, posisi neraca perdagangan periode Mei 2021 diproyeksikan masih akan mengalami surplus di kisaran USD 2,2-USD 2,3 miliar. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) juga diperkirakan menahan suku bunga BI-7DRRR pada level 3,5 persen.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG memang cukup rentan terkoreksi. IHSG menguji area 6.030. Jika level support IHSG tidak tertembus, IHSG berpeluang kembali menguat.

“Dari sisi indikator teknikal menunjukkan tanda-tanda koreksi pada IHSG. Namun demikian, investor dapat mencermati support di area 5.972. Bila support tidak tersebut IHSG berpeluang kembali menguat,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menuturkan koreksi IHSG akan terbatas. Dengan melihat kondisi itu, Herditya mengatakan, pelaku pasar dapat melakukan buy on weakness untuk saham.

Selain itu data neraca perdagangan akan menjadi salah satu sentimen yang pengaruhi IHSG. Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menuturkan, dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan, Indonesia akan mencatat surplus perdagangan terbesar dalam enam bulan pada Mei sebesar USD 2,3 miliar.

Hal ini terjadi karena ekspor dan impor diprediksi naik di tengah harga komoditas yang tinggi dan pemulihan perdagangan global. Indonesia membukukan surplus perdagangan setiap bulan sejak Mei 2021.

Ia menuturkan, saat ini harga komoditas mulai naik tinggi dan mitra dagang mulai melonggarkan pembatasan terkait COVID-19 mendorong ekspor Indonesia cukup kuat. Di sisi lain, pemulihan impor lebih lambat karena permintaan domestik yang lembah.

"Beberapa data menunjukkan ekonomi Indonesia dalam tren pemulihan yang kuat sehingga berpotensi mendorong sentimen positif pada pasar keuangan khususnya saham,” ujar dia.

Setelah data inflasi, Hans menuturkan, pelaku pasar fokus pada pertemuan kebijakan the Federal Reserve pada 15-16 Juni 2021. Kenaikan inflasi yang diperkirakan hanya sementara menjadi sentimen positif pasar.

"Pelaku pasar akan memperhatikan dua data di Amerika Serikat yakni inflasi dan tenaga kerja,” ujar dia.

Hans perkirakan, IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan level support 5.974-6.047 dan resistance 6.134-6.200.

2 dari 3 halaman

Pembukaan IHSG pada 14 Juni 2021

Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau pada awal perdagangan Senin, (14/6/2021). Mengawali pekan ini, investor asing catat aksi beli.

Pada pra pembukaan perdagangan, IHSG naik 0,25 persen ke posisi 6.110,79. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG menanjak 0,21 persen ke posisi 6.110,56. Indeks saham LQ45 menguat 0,26 persen. Sebagian besar indeks saham acuan berada di zona hijau.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 6.119,08 dan terendah 6.105,16. Sebanyak 203 saham menguat sehingga  mendorong IHSG ke zona hijau. 141 saham melemah dan 193 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 77.290 kali dengan volume perdagangan 1,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 616,3 miliar. Investor asing beli saham Rp 38,05 miliar di pasar regular.

Sebagian besar sektor saham menguat. Sektor saham IDX Techno naik 7,95 persen, dan catat penguatan terbesar. Diikuti sektor saham IDXFinance menanjak 0,59 persen dan IDXProperty menguat 0,58 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini