Sukses

Saham UNVR Koreksi 24,83 Persen Sepanjang 2021, Kenapa?

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) cenderung tertekan sepanjang tahun berjalan 2021. Bahkan saham UNVR melanjutkan koreksinya yang berlangsung sejak 2018.

Mengutip data RTI, Sabtu (8/5/2021), saham PT Unilever Indonesia Tbk turun tipis 0,45 persen ke posisi Rp 5.525 per saham pada Jumat, 7 Mei 2021. Saham UNVR dibuka stagnan di posisi Rp 5.550 per saham. Saham UNVR sempat bergerak di zona hijau selama sesi pertama, tetapi berbalik arah ke zona merah hingga penutupan sesi kedua perdagangan saham.

Saham UNVR bergerak di kisaran Rp 5.500-Rp 5.625 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 12.930 kali dengan nilai transaksi Rp 181,7 miliar.

Jika melihat sepanjang tahun berjalan 2021, saham UNVR cenderung tertekan. Saham UNVR melemah 24,83 persen hingga penutupan perdagangan saham Jumat, 7 Mei 2021. Padahal pada awal 2021, saham UNVR dibuka di posisi 7.450 per saham.

Sepanjang tahun berjalan 2021, saham UNVR di posisi terendah 5.500 dan tertinggi 8.000 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 826.668 kali dengan nilai transaksi Rp 9,7 triliun.

Meski saham UNVR melemah, tercatat investor asing masih melakukan aksi beli saham UNVR sepanjang tahun berjalan 2021. Nilai transaksi pembelian saham mencapai Rp 252,5 miliar di seluruh pasar.

Sementara itu, kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk juga masih lesu. Perseroan mengantongi penjualan bersih Rp 10,28 triliun pada kuartal I 2021. Realisasi penjualan itu turun 7,8 persen dari periode kuartal I 2020 sebesar Rp 11,15 triliun. Laba turun 8,84 persen dari Rp 1,86 triliun pada kuartal I 2020 menjadi Rp 1,69 triliun pada kuartal I 2021.

2 dari 4 halaman

Imbas Daya Beli Masyarakat

Head of Research PT Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi menuturkan, saham UNVR tertekan seiring seiring usaha yang dijalankan berkaitan erat dengan daya beli masyarakat.

Lanjar menilai, daya beli masyarakat masih belum pulih. Hal ini melihat pertumbuhan inflasi yang masih di bawah 2 persen dan termasuk pertumbuhan inflasi terendah lebih dari 10 tahun terakhir.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada April 2021 mencapai 0,13 persen. Dengan demikian, inflasi tahun kalender Januari-April 2021 mencapai 0,58 persen dan inflasi tahun ke tahun 1,24 persen.

Lanjar menambahkan, krisis kesehatan yang melanda dunia sekarang akibat penyebaran COVID-19 masih belum mereda. Hal ini pengaruhi kondisi bisnis yang berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

"Hal tersebut yang membuat aktivitas bisnis terganggu sehingga penghasilan masyarakat pun belum pulih yang membuat daya beli masyarakat yang menurun,” kata dia.

Ia menambahkan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia menjadi cermin masih rendahnya dyaa beli masyarakat di Indonesia. PDB yang masih terganggu pada  besaran konsumsi masyarakat masih rilis di zona kontraksi untuk kuartal I 2021. Adapun PBD Indonesia minus 0,74 persen selama tiga bulan pertama 2021.

"Saya kira hal tersebut yang mendasari harga saham UNVR dan kinerja bisnisnya menurun,” ujar dia.

3 dari 4 halaman

Rekomendasi Saham

Lanjar menuturkan, pemerintah terus berupaya meningkatkan kembali daya beli masyarakat. Hal ini dengan menekan tingkat suku bunga, memperluas fasilitas teknologi keuangan dan relaksasi pajak.

Upaya itu dapat menjadi perhatian pasar untuk melihat hasil dari upaya pemerintah menumbuhkan kembali ekonomi Indonesia. Dengan ada sentimen itu berdampak terhadap saham UNVR.

"Cukup menarik untuk jangka panjang. Buy on weakness. Akumulasi pelan-pelan jika GDP Indonesia mulai pulih dan inflasi mulai membaik,” kata dia.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini