Ironi Natuna: Gas Mengalir ke Singapura, Warga Pakai Minyak Tanah

Meski tinggal di atas cadangan gas, namun sejumlah warga Natuna belum menikmati hasil bumi tersebut.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 10:10 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Api kecil menyala di tungku dapur sebagian rumah warga Natuna, tepatnya di Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Bukan nyala biru kompor gas yang menjadi pemandangan di banyak dapur rumah tangga, melainkan api dari minyak tanah dan sesekali kayu bakar.

Puluhan tahun tinggal di wilayah terdepan Indonesia itu, ia masih belum bisa menikmati gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram yang biasa disebut gas melon. Justru, hasil bumi itu lebih dahulu mengalir ke negara tetangga, Singapura.

Keinginannya sederhana. Memasak dengan bahan bakar yang lebih praktis dan murah. Namun, bagi Halimah, gas melon masih sebatas keinginan.

"Ingin sekali pakai gas subsidi 3 kilogram. Tapi kan belum ada di Pulau Laut," kata Halimah saat dihubungi, Senin (26/10/2026).

Halimah bercerita untuk memenuhi kebutuhan dapur, ia terpaksa mengandalkan minyak tanah. Jika tidak menggunakan kompor minyak tanah, kayu bakar menjadi pilihan. Halimah sebenarnya pernah mencoba beralih ke kompor gas.

Ia membeli kompor, selang dan tabung gas nonsubsidi ukuran 12 kilogram. Total uang yang dikeluarkannya Rp 2 juta. Namun, percobaan itu tidak berlangsung lama. Harga isi ulang gas 12 kilogram yang mencapai Rp 320.000 per tabung membuatnya menyerah.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan dan suami yang bekerja sebagai nelayan, biaya tersebut terlalu berat. Kompor gas dan perlengkapannya akhirnya dijual kembali.

"Dulu pernah beli kompor gas, selang dan gas 12 kilogram, tapi dijual lagi karena enggak sanggup. Harganya terlalu mahal," ujarnya.

Cerita serupa datang dari Liza, warga Pulau Laut lainnya. Setiap hari ia juga masih mengandalkan minyak tanah untuk memasak. Selain untuk kebutuhan rumah, bahan bakar itu juga menopang usaha kecilnya berjualan bakso.

Liza pernah mencoba menggunakan gas nonsubsidi 12 kilogram. Namun, satu tabung hanya mampu bertahan sekitar 15 hingga 20 hari. Hitung-hitungan sederhana membuatnya kembali ke minyak tanah.

Keuntungan berjualan bakso tidak cukup jika harus terus membeli gas dengan harga Rp 320.000 setiap tabung.

"Sempat juga pakai gas nonsubsidi 12 kilogram, tapi enggak sanggup mahal. Enggak nutup jualan bakso kalau pakai gas 12 kilogram terus," katanya.

Akhirnya, minyak tanah kembali menjadi pilihan.

Bagi warga Pulau Laut, minyak tanah bukan sekadar bahan bakar lama yang belum ditinggalkan. Bahan bakar itu masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari karena pilihan lain belum benar-benar terjangkau.

 

Menyeberangi Laut Demi Minyak Tanah

Persoalan bahan bakar di Pulau Laut juga tidak sederhana. Sagarudin, pemilik pangkalan minyak tanah subsidi di Desa Air Payang, mengatakan pasokan minyak tanah untuk tiga desa di Kecamatan Pulau Laut harus didatangkan dari Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna.

Minyak tanah itu diangkut menggunakan kapal kayu dengan waktu tempuh sekitar lima hingga enam jam melintasi laut.

Setiap bulan, kebutuhan untuk Desa Air Payang sekitar 4.000 liter. Sementara Desa Tanjung Pala dan Desa Kadur mendapat sekitar 5.000 liter.

Dari pangkalan tersebut, minyak tanah subsidi kemudian dibagikan kepada warga. Setiap kepala keluarga mendapat jatah sekitar 10 hingga 20 liter dengan harga Rp 5.000 per liter.

"Minyak tanah subsidinya setiap bulan diambil ke Pertamina di Ranai Natuna menggunakan kapal kayu," kata Sagarudin.

Warga pun datang langsung ke pangkalan untuk mendapatkan jatah mereka. Bagi sebagian warga, minyak tanah tersebut menjadi penopang utama agar dapur tetap bisa mengepul.

Sagarudin mengatakan, jika minyak tanah nantinya benar-benar dialihkan ke gas elpiji, ada keuntungan sekaligus persoalan baru. Gas memang lebih cepat digunakan untuk memasak. Namun, tidak semua warga memiliki kemampuan membeli kompor, regulator dan selang.

"Pasti ada dampak positif dan negatifnya. Positifnya memang cepat masak menggunakan gas, tapi ada juga warga yang tidak sanggup membeli kompor gas sama selangnya," ujarnya.

Natuna dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil minyak dan gas alam. Namun, sebagian masyarakatnya masih harus menyalakan kompor minyak tanah untuk memasak.(*)

Keterangan Foto:

- Pelabuhan rakyat Pulau Laut, Natuna. dimana Jarak dari ibukota Natauna (Kota Ranai) ke Pulau Laut sekitar 95–118 KM, dengan jarak tempuh sekitar 7 Jam

- Salah seorang penduduk Natuna (Bunguran Timur sedang menjemur hasil laut).