Aktivitas Kegempaan Sorik Marapi Meningkat, Status Waspada

Badan Geologi mengingatkan potensi semburan lumpur dan gas beracun di sekitar kawah.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 08:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan aktivitas kegempaan Gunung Sorik Marapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, mengalami peningkatan signifikan. Meski status gunung api masih berada di Level II atau Waspada

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria di Jakarta, Selasa, mengatakan, lonjakan aktivitas tersebut ditandai dengan peningkatan Gempa Vulkanik Dalam yang tercatat pada Sabtu (18/7/2026).

"Aktivitas kegempaan Gunungapi Sorik Marapi mengalami peningkatan signifikan yang didahului oleh terekamnya Gempa Tektonik Lokal dan Gempa Terasa," kata Lana, dikutip dari Antara, Selasa (21/7/2026).

Berdasarkan pengamatan Tim PVMBG Badan Geologi, pada 18 Juli 2026 mulai pukul 00.00 hingga 18.30 WIB, tercatat sebanyak 40 kali Gempa Vulkanik Dalam, lima kali Gempa Tektonik Lokal, satu kali Gempa Terasa skala I MMI, dan dua kali Gempa Tektonik Jauh.

Adapun peningkatan aktivitas ini melanjutkan tren kegempaan sebelumnya, di mana sepanjang periode 1 hingga 17 Juli 2026 telah terekam 182 kali Gempa Vulkanik Dalam, 31 kali Gempa Tektonik Lokal, dan 51 kali Gempa Tektonik Jauh.

Meski terjadi peningkatan kegempaan di kedalaman, Lana menyebut, alat seismograf di Pos Pengamatan Gunung Sorik Marapi hingga saat ini belum merekam adanya aktivitas gempa-gempa dangkal maupun permukaan.

 

Masyarakat Diminta Jauhi Kawasan Kawah

Guna mengantisipasi potensi bahaya, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat maupun wisatawan agar tidak memasuki wilayah radius 1,5 kilometer dari pusat kawah utama atau puncak Gunung Sorik Marapi.

"Masyarakat juga diimbau untuk tidak mendekati Kawah Sibangor Tonga, Kawah Sibangor Julu, serta kawah aktif lainnya guna menghindari ancaman semburan lumpur dan gas beracun yang dapat terjadi secara tiba-tiba," kata dia.

Â