17 Tahun Krisis Air, Emak-emak Geruduk Kantor Dinas PU

Lama alami krisis air, puluhan ibu rela berkorban demi memperjuangkan akses air.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 05:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kesal krisis air selama 17 tahun tak kunjung usai, akhirnya puluhan kaum ibu di Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi menggeruduk Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Demi menuntut hak atas air, para emak-emak ini patungan uang untuk menyewa mobil angkutan wara-wiri untuk menuju lokasi, bahkan rela menahan lapar dan membawa anak-anak mereka di dalam angkutan terbuka tersebut.

Neni, salah seorang warga Desa Cikadu yang ikut dalam rombongan, mengungkapkan rasa frustrasinya. Ia menyebut aksi ini adalah puncak kekesalan kaum ibu yang selama ini paling terdampak di ranah domestik.

"Kami bela-belain sewa mobil wara-wiri ke sini rombongan, sampai sengaja enggak makan dulu," ungkap Neni saat ditemui di lokasi aksi, Selasa (21/7/2026).

"Harapan kami pemerintah segera wujudkan irigasi ini, jangan bertele-tele lagi lah. Saya jarang di Palabuhanratu, tapi pas pulang dari Arab, kondisinya kok masih begini saja," lanjut dia.

Selama belasan tahun Daerah Irigasi (DI) Citarik Somang Cikadu mati total, warga yang memiliki modal terpaksa menyedot air sumur. Namun, kondisi air sumur pun kerap kali keruh dan berwarna kemerahan sehingga tidak layak konsumsi.

Bagi warga yang kondisi ekonominya pas-pasan, membeli air bersih dari gunung melalui jaringan selang menjadi satu-satunya pilihan yang sangat memberatkan biaya hidup mereka. Pasalnya, untuk mendapatkan air bersih dari gunung harus membayar Rp 50.000 per bulan ke pengelola. Itu belum termasuk biaya untuk membeli selang dan operasional per harinya.

"Padahal keadaan ekonomi sekarang kan lagi sulit, jadi jujur saja bikin pusing," tambahnya.

Trauma Arus Sungai Citarik

Pilihan terakhir bagi warga yang tidak mampu membeli air adalah berjalan kaki sejauh ratusan meter menuju Sungai Citarik. Di sungai besar itulah mereka mencuci baju dan mandi demi menghemat air di rumah.

"Ada kekhawatiran terbawa arus, kemarin saja ada warga yang sampai jatuh ke sungai. Bahkan anak Ibu Eef lagi nyuci baju sempat hanyut, untung selamat," kata Neni.

Namun, aktivitas di Sungai Citarik bukanlah tanpa resiko. Arus sungai yang deras kerap mengancam keselamatan jiwa para ibu dan anak-anak.

"Kejadian itu asli, bukan omong doang. Saya sampai trauma kalau harus ke Citarik," tutur dia.

Terbentur Anggaran Rp 10 Miliar

 

Menanggapi keluhan dan tuntutan dari kaum ibu tersebut, Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Wisnu, memberikan klarifikasi. Pihaknya mengklaim bahwa perbaikan irigasi Citarik sebenarnya sudah masuk dalam skala prioritas daerah.

"Terkait tuntutan masyarakat Cikadu, irigasi Citarik ini sudah jadi prioritas kami di kabupaten. Irigasi Citarik ini memerlukan penanganan anggaran cukup besar, hampir 10 miliar rupiah," jelas Wisnu.

Namun, keterbatasan dana APBD Kabupaten Sukabumi membuat proyek besar ini harus diajukan ke tingkat yang lebih tinggi untuk mendapatkan bantuan dana pusat.

"Melalui APBD sekarang, kita hanya bisa melaksanakan pemeliharaan secara parsial saja," tambah Wisnu.

Wisnu menjelaskan bahwa usulan dana tersebut akhirnya membuahkan hasil melalui program Inpres Irigasi untuk tahun anggaran 2026 ini, setelah diajukan sejak tahun 2022 lalu.

"Alhamdulillah, melalui verifikasi validasi Sipuri, usulan ini masuk untuk irigasi Citarik," paparnya.

Pihaknya juga memastikan telah menyampaikan usulan perbaikan ke Kementerian, dan menanti waktu pasti untuk pelaksanaannya.

"Terkait kapan pelaksanaannya, pihak daerah masih menunggu konfirmasi tanggal dari pusat," tutupnya.