Liputan6.com, Jakarta - Gempa mganitudo 5,6 dengan pemutakhiran M5,4 mengguncang Kepulauan Sangihe, Sulut, Kamis (11/6/2026), pukul 14.33.18 WIB. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, episenter gempa terletak pada koordinat 4,89° LU ; 125,43° BT, atau tepatnya berlokasi di laut 20,58 km Barat Laut Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe pada kedalaman 10 km.
Advertisement
Direktur Gempa dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," katanya dalam keterangan resmi.
Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa bumi ini dirasakan pada skala MMI, antara lain IV-V MMI di Kepulauan Maarore, Kepulauan Sangihe, III-IV MMI di Kendahe, Kepulauan Sangihe. Gempa juga dirasakan pada skala intensitas III MMI di Nusa Tabukan, Kepulauan Sangihe, Kota Tahuna, Kota Melonguane, kemudian pada skala intensitas II - III MMI di Kota Ondong.
Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami," katanya.
BMKG mencatat, gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempa M7,8 di Mindanao, Filipina pada tanggal 8 Juni 2026 pukul 06.37.42 WIB. Hingga tanggal 11 Juni 2026, pukul 14.50 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 278 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar M6,7.
Sejarah Gempa Selat Moro Filipina
Sebelumnya, gempa Magnitudo 7,8 mengguncang titik yang sama di Filipina, Senin (8/6/2026). Akibatnya 35 orang di negara tersebut meninggal dunia. Tak hanya memakan korban jiwa, gempa yang sempat memicu peringatan tsunami di wilayah Indonesia, Jepang, dan Australia itu juga menyebabkan kerusakan bangunan dan sejumlah fasilitas, termasuk sebuah gerai restoran cepat saji Jollibee, yang hancur menjadi puing-puing. Selain itu, tanah longsor juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah terdampak.
Selain korban jiwa, sedikitnya 134 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut. Otoritas juga melaporkan sekitar 10.000 keluarga terpaksa mengungsi dari rumah mereka karena kerusakan bangunan dan kekhawatiran akan gempa susulan, dikutip dari laman BBC, Selasa (9/6/2026).
Pulau Mindanao merupakan pulau terbesar kedua di Filipina, baik dari sisi luas wilayah maupun jumlah penduduk. Kawasan ini dihuni sekitar 26 juta jiwa dan kerap mengalami aktivitas seismik karena berada di wilayah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).
Sementara itu, Daryono Pengamat dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan, wilayah Teluk Moro, yg terletak di selatan Filipina, memang merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas tektonik paling kompleks di dunia. Secara geologi dan tektonik, kawasan ini didominasi oleh Zona Subduksi Cotabato, sebuah sistem palung aktif di mana Lempeng Laut Sulawesi menunjam di bawah Lempeng Mikro Mindanao.
"Gempa 17 Agustus 1976 M8,0 merupakan manifestasi pelepasan energi deformasi elastis yang masif akibat interaksi konvergensi lempeng. Sebagai gempa tipe megathrust yang bersumber pada sesar naik (thrust faulting), peristiwa ini menghasilkan dislokasi vertikal dasar laut yangg signifikan, yangg menjadi mekanisme pembangkit tsunami (tsunamigenik)," terangnya.
Karakteristik tsunami yang dihasilkan, kata Daryono, sangat destruktif karena lokasinya yang berada di perairan dangkal dan sempit di Teluk Moro. Kurangnya pemahaman mitigasi saat itu menyebabkan tingginya angka mortalitas, yakni 90% korban jiwa disebabkan oleh tsunami, bukan guncangan gempa itu sendiri.
"Gelombang tsunami yang mencapai ketinggian hingga 9 meter di Lebak menunjukkan besarnya pergeseran vertikal kolom air akibat pergerakan thrusting tersebut," katanya.
Advertisement
Reaktivitas Zona Subduksi Cotabato
Dalam penjelasannya, Daryono juga mengatakan, setelah jeda seismik yang panjang pasca-1976, perhatian komunitas seismologi dunia kembali tertuju pada zona ini. Pertanyaan mengenai apakah sistem subduksi Cotabato masih aktif telah terjawab oleh deretan gempa bumi yang terjadi pada dekade terakhir.
Sejarah gempa Magnitudo 6,8 pada tahun 2002 dan 2023 di sepanjang area yang bertumpang tindih dengan zona deformasi 1976 menunjukkan bahwa sistem ini secara konsisten mengalami akumulasi dan pelepasan tegangan (stress accumulation and release)," katanya.
Peristiwa 8 Juni 2026, gempa dengan Magnitudo 7,8 yang terjadi baru-baru ini mempertegas urgensi pengamatan pada sistem ini. Berdasarkan analisis mekanisme sumber (focal mechanism) memiliki mekanisme sumber pergerakan naik (thrusting) konsisten dengan kompresi lempeng di zona subduksi Cotabato.
"Kedalaman hiposenter 35 km menempatkan gempa ini berada pada antarmuka lempeng (plate interface) yang aktiif," ungkap Daryono.
Implikasi kedekatan episenter dengan pusat gempa 1976 mengindikasikan bahwa zona subduksi ini blm sepenuhnya melepaskan seluruh energi seismiknya atau mungkin mengalami re-rupture pada segmen yang berbeda, dalam hal ini sebelah timurnya.
Sintesis Seismologis
Secara seismologi, aktivitas yang meningkat di zona subduksi Cotabato menunjukkan bahwa wilayah ini berada dalam fase siklus gempa yang sangat aktif. Mekanisme thrusting yang dominan menjadikan wilayah ini secara inheren rentan terhadap tsunami, terutama mengingat batimetri Teluk Moro yang mendukung amplifikasi gelombang laut saat mendekati garis pantai.
Kebutuhan akan sistem pemantauan seismik real-time dan protokol evakuasi dini yang berbasis pada pemodelan tsunami yang lebih akurat menjadi prioritas mutlak. Mengingat sejarah repetisi gempa besar di wilayah ini, mitigasi tidak boleh lagi hanya bersifat reaktif, melainkan harus berbasis pada pemahaman mendalam mengenai siklus seismik dan potensi energi yg masih tersimpan di sepanjang sistem Palung Cotabato.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259429/original/010721900_1781500706-cek_fakta_cpns_PUPR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5421569/original/046140800_1763950258-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-24T082534.482.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5136323/original/018303500_1739855855-cek_fakta_keroncong.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8214274/original/070645800_1781073794-gempa_filipina.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4458178/original/050647500_1686209005-earthquake-g477b52052_640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8451107/original/036314100_1782347531-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306049/original/079447300_1784851496-gempa_ternate.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521382/original/090333100_1772688718-gempa_besar-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303914/original/023274200_1784699961-eda698e0-1451-4e23-af37-4c9c45589b35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303836/original/088606200_1784695160-gempa_aceh_gayo_lues.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303822/original/092071700_1784694620-Gempa_guncang_Aceh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301801/original/086443500_1784518708-Untitled.jpg)