Bocah SD di NTT Bunuh Diri: Bupati Sebut Korban Anak Broken Home, Ditinggalkan Ayah Sejak Kecil

Bocah SD di NTT itu selama ini tinggal dengan neneknya. Sementara ibunda tinggal di kampung halaman.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 12:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - YBR (10), bocah SD di NTT, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Sebelum meninggal dunia, dia sempat menuliskan surat yang ditujukan untuk ibunda.

Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengaku sudah mengirimkan tim ke lokasi untuk mengumpulkan berbagai informasi terkait yang sebenarnya terjadi hingga YBR nekat bunuh diri.

Bupati menambahkan, info lain yang didapat korban adalah anak broken home. Ayahnya pergi meninggalkan keluarga mereka sejak YBR berusia 1 tahun 7 bulan. YBR sendiri anak bungsu dari lima bersaudara.

Dirawat Nenek

Sehari-hari, YBR tinggal dan dirawat sang nenek di rumah kebun. Sementara ibunya, ada di kampung halaman. Dia hanya sesekali mengunjungi ibunya.

"Sehingga pengalaman-pengalaman inilah yang mungkin membuat anak ini traumatis dan juga dalam perjalanan diambil-alih oleh neneknya di kebun," jelas dia.

Sempat Pertanyaan Pencairan PIP

Berdasarkan temuan tim, lanjut Bupati, YBR beberapa kali menanyakan kepada ibunya terkait pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) miliknya.

"Dia bertanya kapan PIP beasiswanya diurus dan mamanya bilang tunggu nanti pencairan ke BRI di kabupaten," jelasnya lagi.

Sementara itu, secara administrasi pencairan dana tersebut belum dapat dilakukan karena KTP ibunya masih tercatat berasal dari Kabupaten Nagekeo, bukan Kabupaten Ngada sesuai dengan domisili barunya.

"Sehingga diberitahu untuk pulang dan urus dulu itu (administrasi) di kampung. Terus ditanya lagi anaknya dan dijawab sama lagi kalau akan diurus. Sampai terakhir belum sempat urus, suatu hari itu dia tidak ke sekolah dan ke kebun neneknya," tambah Bupati Ngada.

Untuk urusan administrasi tersebut, kakak pertama dan kedua dari pihak ayah yang berbeda telah lebih dulu diurus kepindahannya ke Kabupaten Ngada. Sementara itu, kakak ketiga hingga korban belum sempat diurus sehingga masih terkendala secara administratif.

Pada hari kejadian, korban sempat pergi ke rumah neneknya. Namun, saat itu sang nenek tidak berada di tempat sehingga korban berada seorang diri di sana. Beberapa warga yang melintas sempat menanyakan alasan korban tidak masuk sekolah, yang dijawab korban sedang sakit kepala.

 

Adakan PIP Versi Daerah

Bupati Ngada menyebut beasiswa korban sudah ada tetapi memang sulit dicairkan karena permasalahan administrasi. Hal ini yang akan menjadi perhatian ke depannya.

Pihaknya akan melakukan tindakan tegas agar warganya tertib melengkapi administrasi.

"Saya akan tegas dan melaksanakan rapat koordinasi untuk indentifikasi benar-benar. Kalau masih ada masyarakat yang masa bodoh ya kita mesti tekan door to door," tegasnya.

Sementara dirinya juga menyiapkan juga PIP versi daerah dan menyediakan pakaian seragam. Rencananya pada Minggu ini ia akan terlibat langsung dalam acara adat kedukaan di makam korban.

 

KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.