30 Jam yang Mendebarkan: Drama Evakuasi Jenazah Korban ATR 42-500 di Tepi Jurang Pegunungan Bulusaraung

Di tepi jurang Pegunungan Bulusaraung, para rescuer bertahan bersama jenazah, tanpa tenda dengan hujan yang tak kunjung reda, mereka berjaga selama kurang lebih 30 jam.

OlehFauzan
Diterbitkan 20 Januari 2026, 19:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pangkep - Kabut tebal masih menggantung di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, ketika tali-tali karmantel mulai diturunkan perlahan ke dasar jurang. Di sanalah, ratusan meter di bawah punggungan gunung, drama panjang evakuasi jenazah korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 dimulai.

Medan yang curam, hutan rapat, hujan tanpa jeda, dan suhu dingin menjadi tantangan awal yang harus dihadapi tim SAR gabungan. Evakuasi ini bukan sekadar soal teknik, tetapi tentang ketahanan fisik dan mental para penyelamat yang harus bertaruh dengan alam.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa jenazah pertama tersebut ditemukan pada Minggu siang (18/1/2026). Titik penemuannya berada tidak jauh dari lokasi awal pesawat menghantam punggungan gunung.

"Tim melakukan teknik rappeling. Tali diturunkan sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat serpihan pesawat. Setiap personel membutuhkan waktu dua hingga tiga menit untuk turun menggunakan descender," ujar Arif.

Sebanyak 10 personel dari berbagai unsur, mulai dari Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, hingga TNI AD, satu per satu menuruni jurang. Di dasar lembah, mereka berjalan menyusuri jalur air dan bebatuan licin, menelusuri serpihan pesawat sejauh hampir 200 meter ke arah bawah.

Di tengah sunyi hutan dan gemuruh air hujan, korban pertama akhirnya ditemukan. Korban berjenis kelamin laki-laki itu ditemukan pada pukul 13.43 Wita, tersangkut di dahan pohon, tak jauh dari bibir tebing. Proses evakuasi jenazah pun tidak mudah. Posisi korban berada di kemiringan sekitar 30 derajat, tepat di area rawan jatuh.

Rescuer Basarnas Makassar, Rusmadi, yang turun langsung ke lokasi, menggambarkan situasi tersebut.

"Packing jenazah memakan waktu hampir satu jam. Medannya miring, licin, dan hujan terus turun," ungkapnya.

Upaya awal dilakukan dengan menarik jenazah ke arah atas sejauh sekitar 60 meter. Namun harapan itu tak bertahan lama. Tenaga terbatas, peralatan tidak memungkinkan, dan hujan deras yang terus mengguyur membuat risiko semakin besar.

Setelah evaluasi lapangan, tim mengambil keputusan sulit: arah evakuasi diubah. Tim sepakat untuk membawa jenazah ke arah bawah ke perkampungan warga.

"Kami sepakat evakuasi dialihkan ke arah bawah menuju kampung terdekat karena dinilai lebih memungkinkan," jelas Rusmadi.

Namun keputusan itu justru membuka babak baru perjuangan. Proses evakuasi ke bawah memakan waktu sekitar tiga jam, hingga akhirnya cuaca benar-benar memburuk. Hujan semakin deras, kabut menutup pandangan, dan suhu dingin menusuk tubuh para rescuer.

Dengan kontur tanah berbatu yang labil dan potensi longsor di mana-mana, tim tidak punya pilihan selain berhenti.

 

30 Jam yang Mendebarkan

Malam itu, di lereng tebing Pegunungan Bulusaraung, para rescuer bertahan bersama jenazah. Tanpa tenda yang layak, dengan hujan yang tak kunjung reda, mereka berjaga selama kurang lebih 30 jam.

"Kondisi benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin. Tapi jenazah harus kami jaga," kata Rusmadi.

Hari berikutnya, Senin, 19 Januari 2025, kondisi fisik tim pertama mulai menurun. Demi keselamatan, dilakukan estafet evakuasi. Jenazah diserahkan kepada tim lanjutan yang melanjutkan perjalanan menembus hutan dan lembah.

Tim kedua membawa jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 20 jam hingga akhirnya, pada Selasa, 20 Januari 2026, dilakukan intersep dengan tim ketiga.

Perjalanan belum usai. Dari Desa Lampeso, jenazah kembali dipikul melewati jalan setapak sejauh kurang lebih 15 kilometer, menyeberangi lereng gunung dan aliran sungai, sebelum dilanjutkan berjalan kaki sekitar lima kilometer menuju jalan poros Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.

Dari titik itu, jenazah direncanakan dievakuasi ke RS Bhayangkara Makassar untuk diserahkan kepada tim DVI Polda Sulsel. Di sana sejumlah keluarga korban pun masih harap-harap cemas menunggu evakuasi jenazah.

Hingga berita ini diturunkan, jenazah korban pertama masih berada di Lampeso. Proses evakuasi masih terus berlangsung, seiring medan yang belum sepenuhnya bersahabat.