Janji Kru Pesawat ATR yang Kini Tinggal Kenangan

Hariadi adalah Flight Operation Officer pesawat ATR 42 Seri 500 yang jatuh usai menabrak lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan

Diterbitkan 25 Januari 2026, 19:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hariadi, Flight Operation Officer pesawat ATR 42 Seri 500 menjadi salah satu korban dalam tragedi di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Semasa hidupnya, Hariadi dikenal sebagai sosok yang baik.

Kesaksian tersebut disampaikan oleh Dwi Santoso Wibowo, Kapala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian KKP. Dwi mengaku mengenal dengan Hariadi karena sering bertemu saat melakukan penugasan bersama.

"Baik, beliau humble, komunikatif dan mudah bergaul dengan kami di Dirjen PSDKP. Satu tim melakukan patroli dalam pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan," kata dia kepada wartawan di rumah duka pada Minggu (25/1/2026).

Dwi juga mengungkapkan, sebelum insiden jatuhnya pesawat tersebut Hariadi sempat mengajak janjian untuk makan bersama. Kini, janji tidak akan pernah terwujud karena Hariadi menjadi salah satu korban yang meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat tersebut.

"Pesannya adalah sebenarnya janjian makan malam bersama kami tapi ya lain cerita. Janjiannya sebelum kejadian pada hari Sabtu pagi gitu aja," ujarnya.

Dwi mengatakan terakhir bertemu dengan korban di Semarang pada hari Jumat sebelum kejadian. Saat itu bertemu dalam rangkaian patroli dan pengawasan Dirjen PSDKP Kementerian KKP. "Hari Jumat lalu di Semarang," ucapnya.

Tangis Istri Tercinta Pecah, Ibunda Pingsan

Keluarga Hariadi begitu terpukul dengan kepergian yang begitu mendadak. Bahkan sang ibu sampai pingsan ketika melepas keberangkatan jenazah Hariadi untuk dimakamkan di tempat kelahirannya di Kerjo, Karanganyar.

Kedatangan jenazah Hariadi disambut isak tangis sang istri tercinta, Rira Indah Saparia. Kemudian dilakukan prosesi serah terima jenazah dari Ditjen PSDKP kepada pihak keluarga. Setelahnya disemayamkan beberapa saat di rumah duka.

Saat disemayamkan terlihat foto almarhum dipajang di depan peti jenazah yang telah diselubungi kain berwarna hijau dengan tulisan lafal syahadat tauhid. Selain diselubung kain, juga tampak dihiasi rangkaian bunga yang terdiri dari roncean melati, mawar, kenangan dan sedap malam.

Prosesi pelepasan diawali oleh sambutan dari pihak keluarga, perwakilan pemerintah desa hingga Kepala Stasiun PSDKP Cilacap mewakili Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono. Setelah itu dilakukan pembacaan doa dan pelepasan jenazah untuk disalatkan jenazah di masjid komplek perumahan.

Saat peti jenazah akan diangkat untuk dimasukkan ke dalam mobil jenazah, sang ibunda, Sutini tampak menangis histeris dan pingsang. Keluarga dan kerabat tampak mengangkat tubuh Sutini untuk dibawa masuk ke dalam rumah.

Begitu pula dengan sang istri yang terus menangis melepas kepergian suaminya tercinta. Ia tampak lemas dan dipapah oleh kerabatnya untuk melepas suaminya menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Sasono Layu Sambi, Sambi, Dusun Karangnongko, Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar.

Tak hanya keluarga, sejumlah ibu-ibu yang melayat ke rumah duka juga terlihat terisak menangis.