Bapak Muda di Lampung Keukeuh Bayi 11 Bulan Boleh Makan Nasi, Ini Pentingnya Belajar soal Stunting

Imam mengenang nasihat turun-temurun dari orang tuanya, bahwa memberikan nasi utuh kepada anak di bawah satu tahun boleh-boleh saja.

Diperbarui 24 September 2025, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lampung - Di sebuah rumah sederhana di Desa Kali Sari, Lampung Tengah, suasana hangat keluarga kecil itu sempat diwarnai perdebatan. Imam (37), seorang ayah muda, bersikeras ingin memberikan nasi utuh untuk putri pertamanya, Aira, yang baru berusia 11 bulan.

"Dulu orang tua saya kasih nasi biasa, ya sehat-sehat saja," kata Imam mengenang nasihat turun-temurun dari orang tuanya.

Namun, istrinya menolak dengan lembut. Dengan sabar, sang istri mengingatkan bahwa bidan desa melarang pemberian nasi utuh pada bayi seusia Aira. Sebagai gantinya, si kecil diberikan kentang rebus yang empuk.

Aira pun menyambutnya dengan lahap, membuat Imam terdiam sesaat.

"Ya pernah sih saya ngotot mau kasih nasi, eh ternyata memang belum boleh," ucap Imam saat ditemui usai kegiatan kunjungan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, di Desa Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Rabu (24/9/2025).

Belajar dari Posyandu dan YouTube

Sejak perdebatan kecil itu, Imam mengaku mulai rajin mencari informasi. Ia mengetik kata kunci 'makanan bergizi bayi' di YouTube, hingga mendatangi posyandu di desanya. Dari sana, ia baru sadar banyak nasihat lama yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan bayi saat ini, terutama soal makanan pendamping ASI (MPASI).

"Nggak apa-apa repot-repot sedikit, namanya anak ya ngurusnya bareng-bareng biar dia sehat," kata Imam sambil tersenyum.

Tak hanya keluarga Imam, pengalaman serupa juga dialami Wiji Utami (35), seorang ibu tiga anak. Lewat bimbingan bidan desa, Wiji baru mengetahui bahwa sebagian makanan yang dulu ia berikan untuk anak pertama dan kedua ternyata hanya membuat kenyang tanpa gizi cukup, akibatnya anak bisa menjadi stunting.

"Baru tahu pas anak ketiga ini, makanannya harus bergizi supaya tidak stunting," kata Wiji.

Wiji kini rajin menyajikan menu sederhana seperti bubur sayuran, telur, dan buah-buahan.

"Alhamdulillah, makanan bergizi nggak mahal ternyata, asal tepat," tambahnya.

 

Dari MPASI hingga Bedah Rumah

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, menegaskan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pemenuhan gizi anak.

Dia bilang, kebutuhan makanan bergizi bukan hanya untuk balita, tetapi juga ibu hamil dan menyusui.

"Ini yang juga diamanatkan Presiden Prabowo. Ibu hamil dan menyusui harus diperhatikan gizinya, untuk mencegah stunting," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Wihaji juga menyampaikan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang bekerja sama dengan PTPN.

Beberapa di antaranya, bantuan nutrisi untuk 200 sasaran di Lampung Tengah dan Pesawaran berupa sembako mingguan selama 6 bulan, senilai Rp528 juta.

Kemudian, bedah rumah bagi dua keluarga dengan anggaran Rp70 juta hingga pembangunan jamban sehat di 6 titik dengan total Rp30 juta.

Langkah-langkah itu diharapkan menjadi pelengkap usaha keluarga dalam menjaga tumbuh kembang anak agar bebas dari stunting.

"Kalau orang tua sudah paham makanan bergizi, ditambah dukungan pemerintah, insyaAllah generasi kita akan lebih sehat," tutup Wihaji.

Â