Selain Cuaca, Kondisi Medan Jadi Tantangan Pencarian Helikopter di Hutan Kalimantan

Helikopter jenis AW169 dari Korpus Aerobik Mabes Polri ikut dikerahkan untuk mencari helikopter berpenumpang delapan orang yang hilang di hutan Kalimantan, tepatnya di kawasan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Diperbarui 03 September 2025, 16:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Helikopter jenis AW169 dari Korpus Aerobik Mabes Polri ikut dikerahkan untuk mencari helikopter berpenumpang delapan orang yang hilang di hutan Kalimantan, tepatnya di kawasan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Pilot helikopter Mabes Polri AKBP Deny Triyatno menuturkan, operasi SAR terkendala cuaca dan medan yang sulit.

"Medannya cukup sulit, berbukit-bukit. Tantangan terbesarnya justru cuaca. Awan sering menempel di perbukitan, sehingga mengganggu visualisasi dari udara," kata Deny.

Hal itu dia sampaikan saat memberikan keterangan pers di Posko Gabungan Operasi SAR Helikopter PK-RGH di VIP Room Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, Rabu (03/09/2025), didampingi oleh Kepala Basarnas Banjarmasin, I Putu Sudayana, dan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor (BMKG), Ota Welly Talo.

“Untuk pesawat yang kami kerahkan adalah helikopter AW169. Saat ini kami standby dan siap diberangkatkan kapan pun, menunggu perintah dari Danlanud dan juga perkembangan kondisi cuaca,” jelas Deny.

Tim SAR mengandalkan sarana yang tersedia secara maksimal dalam misi ini, termasuk pengamatan visual dari helikopter.

"Kami sementara menggunakan alat yang tersedia, dan fokus pada pengamatan udara secara intensif. Bila cuaca memungkinkan, akan kami manfaatkan sepenuhnya untuk pencarian,” ujarnya.

Sementara itu, I Putu Sudayana menegaskan bahwa seluruh operasi udara harus mengacu pada data dan rekomendasi cuaca dari BMKG, guna menjamin keselamatan seluruh personel.

Di tempat sama, Ota Welly Talo, juga menambahkan bahwa cuaca pada hari ini berpotensi hujan ringan hingga sedang, disertai petir dan angin kencang di siang hingga sore hari.

Ota Welly Talo juga secara aktif melakukan pengarahan singkat mengenai cuaca harian, guna mendukung keselamatan penerbangan dan efektivitas operasi SAR.

“Dalam setiap kegiatan operasi udara, sejak hari pertama hingga hari ketiga ini, kami selalu melakukan briefing cuaca terlebih dahulu. Briefing ini mencakup kondisi cuaca di area lokasi pencarian maupun di area bandara saat helikopter akan diterbangkan,” jelas Ota Welly Talo.

Untuk hari ini, lanjutnya, kondisi cuaca di area pencarian diperkirakan mengalami hujan ringan sejak pagi hingga siang hari, dan benar terjadi hujan ringan sejak pukul 11.00 WITA.

Pihak BMKG juga memperkirakan bahwa pada pukul 14.00 WITA akan terjadi hujan sedang disertai petir dan angin kencang, yang dapat mengganggu aktivitas pencarian udara.

“Secara umum, wilayah Kalimantan Selatan, termasuk lokasi pencarian, masih berpotensi mengalami hujan meskipun saat ini seharusnya sudah memasuki musim kemarau,” tambahnya.

Menurut Ota, kondisi hujan yang masih terjadi disebabkan oleh anomali iklim, yang menyebabkan ketidakstabilan cuaca di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan. BMKG mencatat bahwa dalam pekan ke depan, potensi hujan masih cukup tinggi, terutama pada siang dan sore hari.

Meski begitu, Ota menyebutkan bahwa potensi cerah tetap ada di beberapa waktu tertentu.

“Hari ini kami perkirakan akan terjadi cuaca cerah berawan mulai pukul 13.00 WITA hingga sore hari. Namun sebelum itu, sekitar pukul 14.00 masih diperkirakan berawan dan tertutup awan di area pencarian,” ujarnya.

BMKG menekankan pentingnya menjadikan informasi cuaca sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan operasional, khususnya untuk misi pencarian udara, agar seluruh kegiatan tetap mengedepankan keselamatan dan keamanan seluruh personel.