Berangkat dari Kegelisahan, Ini Alasan UGM Gelar Festival Karawitan

Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar Festival Karawitan dan Bazar Nusantara sebagai rangkaian perayaan Dies Natalis Fakultas Filsafat ke-58 yang berlangsung di selasar fakultas, Sabtu (19/7).

Diterbitkan 24 Juli 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Minat masyarakat Yogyakarta yang tinggi terhadap karawitan cukup tinggi sehingga UGM menyelenggarakan festival karawitan di selasar Fakultas Filsafat pada Sabtu (19/7) lalu. Ketua pelaksana kegiatan festival karawitan, Sartini, mengatakan ide penyelenggaraan festival ini berangkat dari kegelisahan fenomena banyaknya perangkat gamelan di masyarakat yang tidak banyak digunakan lagi. “Kita ingin mengangkat seni gamelan ini melalui kegiatan festival,” ujar Sartini.

Sartini mengatakan jumlah peserta festival ini tiap tahunnya selalu meningkat, tahun ini tercatat sekitar 51 grup karawitan berpartisipasi, terdiri atas 27 grup dari UGM dan 24 grup dari luar UGM. Festival ini sendiri telah berlangsung sejak tahun 2017 dan kini memasuki penyelenggaraan ketujuh, setelah sempat terhenti selama dua tahun akibat pandemi. "Selain pertunjukan festival karawitan, acara juga dimeriahkan oleh bazar kuliner dan produk UMKM yang melibatkan pelaku usaha dari wilayah Yogyakarta, Bantul, Sleman, dan sekitarnya. Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari penuh hingga pukul 10.00 WIB."

Menurut Dekan Fakultas Filsafat, Siti Murtiningsih, pihak fakultas berupaya agar kegiatan festival ini menjadi ikon tahunan fakultas. Harapannya acara ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang edukasi dan pelestarian budaya Nusantara. “Filsafat dan karawitan sekilas tampak berbeda, namun keduanya sama-sama mengajarkan perenungan, yakni filsafat membangkitkan akal, sementara karawitan membangkitkan rasa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang diwakili oleh Padmono Anggoro Prasetya, mengapresiasi keberadaan gamelan sebagai warisan budaya tidak hanya memiliki nilai estetika, namun juga sarat makna filosofi kehidupan. Menurutnya, gamelan mengajarkan nilai-nilai seperti kebersamaan, gotong royong, serta hubungan harmonis dengan alam dan sesama. "Budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan juga harus dijaga sebagai bagian dari masa kini."

Sedangkan Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wening Udasmoro, yang secara simbolis membuka festival karawitan melalui pemukulan gong menekankan jika kesenian merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. “IPK tinggi memang penting, tapi untuk sukses di masa depan, mahasiswa perlu mengasah kesehatan psikis, kemampuan sosial, dan koneksi budaya,” ucapnya.

Ia juga mengapresiasi Fakultas Filsafat yang telah membangun ekosistem pendidikan yang menyatukan antara pengetahuan dan budaya. Festival dibuka dengan penampilan Tari Golek Ayun-Ayun dengan iringan tembang langsung oleh mahasiswa internal Fakultas Filsafat.