Liputan6.com, Jakarta - Di tengah geliat penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-15 hingga 16 Masehi, nama Sunan Drajat muncul sebagai salah satu tokoh Wali Songo yang memiliki corak dakwah paling membumi dan menyentuh sisi-sisi kemanusiaan.
Dirangkum dari berbagai sumber, Sunan Drajat lahir dengan nama asli Raden Qasim, beliau adalah putra dari Sunan Ampel dan saudara seayah dari Sunan Bonang, namun yang membedakan jalan dakwah Sunan Drajat dari para wali lainnya adalah fokus utamanya yang begitu kuat pada kerja sosial dan pengentasan kemiskinan.
Berbasis di wilayah pesisir utara Jawa, tepatnya di daerah Paciran, Lamongan, Sunan Drajat menjadikan nilai-nilai Islam bukan sekadar doktrin spiritual atau ritual belaka, melainkan sebagai fondasi moral untuk membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan penuh welas asih.
Advertisement
Keberhasilannya dalam mengintegrasikan nilai-nilai etika, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap kaum papa menjadikannya figur wali yang sangat dihormati, tidak hanya sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai pembaharu sosial dan peletak dasar prinsip keseimbangan antara iman dan kemanusiaan.
Sunan Drajat memahami betul bahwa masyarakat Jawa kala itu hidup dalam ketimpangan sosial yang cukup besar. Banyak dari kalangan rakyat kecil yang terpinggirkan dan hidup dalam kemiskinan, baik akibat struktur feodal, kolonialisme awal, maupun bencana alam yang kerap melanda kawasan pesisir.
Dalam kondisi inilah Sunan Drajat memilih jalan dakwah yang tidak hanya menyampaikan ajaran Islam melalui lisan dan tulisan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Ia mendirikan pesantren, namun pesantrennya tidak hanya menjadi pusat pengajaran ilmu agama, melainkan juga menjadi tempat pemberdayaan masyarakat.
Di sana, ia mengajarkan keterampilan bertani, berdagang, serta membuat kerajinan tangan sebagai bekal ekonomi umat. Ia juga membuka dapur umum, memberikan sandang dan pangan bagi kaum miskin, serta merawat orang-orang sakit tanpa memandang latar belakang agama atau status sosial.
Inilah bentuk dakwah bil hal (dengan perbuatan) yang menjadi ciri khasnya, yang menjadikan agama bukan hanya soal langit, tetapi juga bumi bukan hanya soal surga, tetapi juga tentang kehidupan yang lebih baik di dunia.
Â
Simak Video Pilihan Ini:
Etika dan Moralitas
Etika dan moralitas menjadi inti dari setiap ajaran yang disampaikan oleh Sunan Drajat. Ia dikenal sering menggunakan tembang atau syair sebagai medium dakwah, salah satu yang terkenal adalah pitutur luhur berupa falsafah hidup Jawa.
Makna dari petuah ini sangat dalam yaitu berikan tongkat kepada yang buta (bimbingan kepada yang tidak tahu), berikan makanan kepada yang lapar, pakaian kepada yang telanjang, dan tempat berteduh kepada mereka yang kehujanan.
Ajaran ini merupakan manifestasi langsung dari prinsip tauhid sosial, yakni bahwa keimanan kepada Tuhan mesti tercermin dalam kepedulian terhadap sesama. Dalam pandangan Sunan Drajat, tidak ada ibadah yang lebih utama selain menolong orang lain.
Oleh karena itu, ajaran-ajarannya selalu mengandung nilai-nilai kasih sayang, kerja sama, dan empati. Ia pun menolak kekerasan dalam menyebarkan Islam, dan lebih memilih jalan kelembutan, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam bertutur kata dan bersikap.
Keberadaan Sunan Drajat juga berhasil menciptakan tatanan sosial baru di wilayah Lamongan dan sekitarnya. Ia tidak hanya dihormati oleh kalangan Muslim, tetapi juga oleh masyarakat lintas agama yang menyaksikan langsung kontribusi sosialnya yang besar.
Bahkan, ia seringkali menjadi penengah dalam konflik antarkelompok dan menjadi penasihat para penguasa lokal dalam menjalankan pemerintahan yang adil dan bijaksana. Tradisi-tradisi lokal yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan secara perlahan ia luruskan tanpa menghilangkan jati diri budaya masyarakat. Inilah mengapa dakwahnya diterima luas, karena ia memahami betul bahwa agama yang datang bukan untuk merusak, tetapi menyempurnakan nilai-nilai luhur yang sudah hidup dalam budaya masyarakat.
Peninggalannya tidak hanya berupa mushola atau pesantren, tetapi juga sistem nilai yang hidup hingga kini, menjadikan Paciran sebagai simbol dakwah sosial yang humanis dan menyentuh hati.
Warisan Sunan Drajat masih terus dikenang hingga hari ini. Makamnya yang terletak di daerah Paciran, Lamongan, menjadi salah satu situs ziarah penting bagi umat Islam di Jawa Timur.
Namun lebih dari sekadar tempat ziarah, kompleks makam tersebut juga menjadi pusat pembelajaran nilai-nilai sosial-keagamaan yang diwariskan oleh beliau. Para pengunjung yang datang bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk merenungkan kembali makna dari kehidupan yang saling menolong dan menjunjung tinggi etika.
Di tengah dunia modern yang kerap kali kehilangan arah moral, ajaran Sunan Drajat terasa begitu relevan bahwa keberagamaan sejati bukan diukur dari banyaknya ibadah ritual, melainkan dari seberapa besar manfaat kita bagi orang lain. Bahwa etika dan kepedulian sosial adalah jembatan terbaik menuju keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Dengan demikian, Sunan Drajat bukan hanya seorang penyebar Islam, tetapi juga seorang pemimpin spiritual, pendidik, dan reformis sosial yang menginspirasi. Namanya harum bukan karena kekuasaan atau kemegahan, tetapi karena ketulusan dan kebijaksanaan dalam mengabdi pada masyarakat.
Ia adalah simbol bahwa kemuliaan sejati terletak dalam pengabdian kepada sesama manusia, dan bahwa agama jika diajarkan dengan cinta dan kebaikan akan menjadi kekuatan transformatif yang membawa kesejahteraan bagi seluruh umat.
Di tengah zaman yang kian individualistis, ajaran dan keteladanan Sunan Drajat adalah suluh yang tak pernah padam, menerangi jalan kemanusiaan yang luhur dan penuh kasih.
Penulis: Belvana Fasya Saad
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1570395/original/080643100_1517852629-cropped1750759915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/930713/original/1be627ee253afa92262eb6b3a4abea4ft.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1323843/original/029384900_1749306074-FOTO-Muhamad_Ridlo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776135/original/014006000_1782843284-063_2284049459.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776134/original/059322300_1782843171-000_B8UA24W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299157/original/094356500_1605660408-AP20322768020969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710453/original/039368100_1782790641-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378845/original/006458400_1782257129-England_s_Harry_Kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)