Lepas dari Pengawasan Orangtua, Balita Ditemukan Tak Bernyawa dalam Sumur

Gas beracun dan air tinggi, saat penyelamatan balita di sumur Sukabumi yang berujung duka.

Diperbarui 25 Juni 2025, 22:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sukabumi - Aksi dramatis perjuangan tim penyelamat dan relawan saat mengevakuasi balita masuk sumur di Kampung Warungkawung, Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak, Sukabumi menjadi sorotan. 

Mereka berjibaku dengan kedalaman, volume air, dan gas beracun di dalam sumur sedalam 17 meter demi menyelamatkan seorang balita laki-laki berusia tiga tahun yang terjatuh pada Senin (23/6/2025) lalu. 

Sayangnya, upaya heroik selama tiga jam itu berakhir dengan duka, saat ditemukan, balita itu dalam kondisi tewas tenggelam di dasar sumur. Tangis pilu orang tua pecah begitu jenazah anak mereka diangkat dari sumur.

Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Posko Cibadak Kabupaten Sukabumi segera merespons laporan dan tiba di lokasi. Dengan peralatan seperti tripod segitiga dan alat bantu pernapasan, mereka berupaya menjangkau korban. Namun, tantangan yang dihadapi sangat besar.

"Kedalaman sumur dan volume airnya yang cukup lumayan besar di dalam sumur terdapat kandungan gas berbahaya sehingga menyulitkan tim rescuer," jelas Yogi, anggota Tim Rescue Damkar Pos Cibadak. 

Air di dasar sumur mencapai ketinggian tiga meter, ditambah lagi dengan gas yang diduga beracun, membuat proses evakuasi menjadi sangat rumit dan memakan waktu sekitar tiga jam. Tim penyelamat harus menghadapi risiko tinggi demi mencapai lokasi balita tewas di dasar sumur.

 

Hilangnya 'Si Abang' dan Penemuan Pahit

Kejadian nahas balita masuk sumur ini bermula pada Senin (23/6) siang. Balita tersebut diduga bermain di sekitar sumur tanpa pengawasan orang tua. Nenek korban, Cucu (58) menceritakan momen kepanikan saat cucunya tak ditemukan. 

"Sekitar jam 11.30 WIB dia pulang, sudah pulang terus saya jam 12.00 WIB sholat nggak tau dia naik lagi kesini gak tau saya pas lagi ngangkat jemuran di sumur teh atasnya sudah roboh itunya tutupnya, iya ditutup pak rapet pake batu juga,” kata Cucu. 

Keluarga mulai mencari-cari, setiap sudut sekitar rumah didatangi sambil menyebut panggilan akrab balita tersebut, si Abang. 

"Ya saya kaget nanya si Abang kemana di Abang kemana ada katanya di rumah coba yang benar saya bilang gitu ya di cari cari kemana mana gak ada terus disenterin ke bawah dilihatin terus ada sendal di bawah," lanjut dia. 

Sandal kecil yang mengambang di permukaan air dan tutup sumur yang telah patah menjadi pertanda bahwa balita tersebut telah terjatuh. Tragedi ini menjadi pengingat penting akan bahaya yang tak terduga di sekitar kita, terutama bagi anak-anak. 

Korban, yang merupakan anak pertama, langsung dibawa ke rumah duka dan dimakamkan di pemakaman umum tak jauh dari kediaman keluarganya.