Mitos Tradisi: Liwetan, Upacara untuk Menjaga Keselamatan Ibu Hamil Saat Gerhana Bulan

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, fenomena gerhana bulan erat kaitannya dengan makhluk raksasa Batara Kala atau masyarakat Jawa menyebutnya dengan nama Buto Ijo.

Diterbitkan 23 Juni 2025, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Fenomena gerhana bulan kerap dikaitkan dengan mitos kehadiran makhluk halus yang dapat mengganggu keselamatan ibu hamil dan janinnya. Untuk menjaga keselamatan para ibu hamil, masyarakat Jawa biasanya akan menggelar tradisi liwetan.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, fenomena gerhana bulan erat kaitannya dengan makhluk raksasa Batara Kala atau masyarakat Jawa menyebutnya dengan nama Buto Ijo. Terdapat kisah bahwa munculnya gerhana bulan terjadi karena Batara Kala memakan bulan.

Untuk mengusir Batara Kala dan menggagalkan rencananya, masyarakat akan menabuh lumpang atau kentongan. Tak hanya itu, para ibu hamil juga harus mengolesi perut mereka dengan abu agar Batara Kala tidak mengganggu si jabang bayi.

Selain mengolesi perut dengan abu, para ibu hamil juga menggelar sebuah tradisi bernama liwetan. Tradisi ini tumbuh dan berkembang di beberapa kabupaten di Jawa Timur.

Tradisi ini dihadiri oleh sesepuh desa dan masyarakat setempat. Selain menyiapkan sajian, tradisi ini juga diisi dengan doa-doa untuk memohon keselamatan.

Pada malam menjelang gerhana bulan, sang ibu hamil dengan dibantu tetangganya akan menyiapkan perlengkapan menanak nasi di halaman rumah. Selain perlengkapan liwetan (menanak nasi), mereka juga menyiapkan perlengkapan upacara lainnya, salah satunya ranjang berukuran kecil.

Saat bulan mulai meredup, tradisi liwetan dimulai. Masa ini dipercaya sebagai masa saat Batara Kala mencoba memakan bulan. Acara dimulai dengan prosesi memasak nasi.

Saat gerhana bulan total terjadi, si ibu hamil diarahkan oleh sesepuh desa untuk menggigit kereweng. Prosesi ini dilakukan sambil si ibu hamil mengelus perutnya.

 

Kolong Ranjang

Prosesi dilanjutkan dengan ibu hamil menyelundup di kolong ranjang sambil tetap menggigit kereweng. Bersamaan dengan itu, para anak-anak yang hadir diarahkan oleh tetua kampung untuk bergelantungan di pohon yang ada di halaman tempat diadakannya tradisi liwetan.

Konon, prosesi para anak-anak yang bergelantungan di pohon ini memiliki makna filosofis agar bayi yang dikandung nantinya lahir dengan sempurna dan tanpa cacat. Upacara ditutup dengan prosesi makan nasi dan lauk pauk yang telah dimasak bersama-sama.

Konon, jika ibu hamil tak menggelar tradisi liwetan saat gerhana akan berdampak pada janin, salah satunya lahir cacat. Oleh sebab itu, dalam acara liwetan terdapat tiga doa utama yang dipanjatkan, yakni kelancaran saat melahirkan, anak lahir dengan sempurna tanpa kekurangan apapun, dan anak yang dilahirkan akan menjadi anak saleh dan salihah.

Penulis: Resla