Ronggeng Blantek, Bentuk Kreasi Baru dari Topeng Blantek

Seiring berjalannya waktu, koreografer tarian ronggeng mengemas bentuk kreasi baru menjadi tari ronggeng blantek. Tarian ini kemudian dipentaskan secara terpisah.

Diterbitkan 21 Juni 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tari blantek atau tari ronggeng blantek adalah kesenian khas Betawi yang energik dan ekspresif. Konon, teater tradisional rakyat topeng blantek yang kerap dimainkan di masa kolonial menjadi cikal bakal lahirnya tarian ini.

Mengutip dari laman Indonesia Kaya, ronggeng blantek sejatinya merupakan bentuk kreasi baru dari seni teater tradisional Betawi, topeng blantek. Dari panggung teater, bentuknya kemudian dimodifikasi menjadi sebuah tarian tradisional. Istilah topeng merujuk pada seni peran atau lawakan, sedangkan nama blantek diambil dari suara khas alat musik pengiringnya yang berbunyi “blang-blang tek-tek”.

Melalui buku Betawi dalam Perspektif Kontemporer: Perkembangan, Potensi, dan Tantangannya, Yasmine Zaki Shahab mengatakan bahwa topeng blantek awalnya dibawakan para pemula yang sedang belajar bermain topeng atau lenong. Saat itu, iringan musiknya berasal dari rebana biang dan gamelan sederhana.

Adapun kaleng yang dipukul bagaikan kromong menciptakan suara blentang blantek yang kemudian melahirkan sebutan blantek. Topeng blantek tempo dulu dipentaskan sebagai hiburan tuan tanah.

Kisah yang ditampilkan berkutat pada kehidupan masyarakat Betawi yang dikemas dengan lawakan. Dalam pertunjukannya, topeng blantek biasanya dibuka atau diawali dengan tarian ronggeng.

Seiring berjalannya waktu, koreografer tarian ronggeng mengemas bentuk kreasi baru menjadi tari ronggeng blantek. Tarian ini kemudian dipentaskan secara terpisah.

Lahirnya tari ronggeng blantek pun tak bisa dipisahkan dari proyek pengembangan kesenian Betawi yang diadakan Pemda DKI Jakarta sejak 1970. Pada 1978, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mulai mengembangkan tari ronggeng blantek sebagai tari kreasi baru.

Koreografer tari ronggeng blantek adalah Wiwiek Widiyastuti. Belajar tari sejak kecil, Wiwiek pun mendalami bakat tarinya di Bengkel Tari Bagong Kussudiardjo, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta, dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Tari ronggeng blantek sengaja diciptakan dan diklasifikasikan dalam jenis tari topeng. Tarian ini terdiri dari beberapa bagian, yakni pendahuluan, isi, dan penutup. Pada bagian penutup terdapat modifikasi berupa beberapa gerakan silat khas Betawi.

 

3 Bagian

Sementara itu, gerakan ronggeng blantek terbagi dalam tiga bagian, yakni gerakan lemah gemulai dengan ritme santai, gerakan tari yang energik dengan ritme yang mulai cepat, serta gerakan silat khas Betawi sebagai klimaks. Secara keseluruhan, tari ronggeng blantek memiliki 31 gerakan dasar yang telah dipatenkan berdasarkan rumusan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Ragam gerakan itu mencakup koordinasi kaki, badan, tangan, dan kepala secara menyeluruh. Nama gerakannya menggambarkan kreativitas khas Betawi, seperti lenggang rongeh, ogek, selancar ngepik, pakblang, ngepak blonter, tepak ngarojeng, koma gelong, hingga goyang cendol ijo.

Jumlah penari ronggeng blantek biasanya diisi oleh empat hingga enam penari perempuan. Merekamengenakan kostum berwarna cerah yang terdiri dari kebaya pink, kain tumpal putih, selendang dengan motif burung hong, toka-toka silang berwarna merah, ampok, serta serbet. Penggunaan motif burung hong atau burung phoenix yang berasal dari mitologi Tiongkok ini menunjukan adanya pengaruh Tionghoa dalam ronggeng blantek.

Para penari juga mengenakan aksesori pada bagian kepala berupa kembang topeng. Aksesori lain yang dikenakan adalah kalung bunga teratai bersusun tiga, pending, dan anting kuning.

Tak hanya pengaruh Tionghoa, ronggeng blantek juga memiliki unsur Islam, terutama dalam hal pemilihan busana yang dibuat lebih tertutup. Selain itu, gerakan tarian pada kesenian ini cenderung mempertimbangkan nilai kesopanan. Beberapa hal tersebut membuat ronggeng blantek tak memiliki citra negatif seperti tari ronggeng di daerah lain.

Tari ronggeng blantek biasanya diiringi oleh iringan musik gamelan topeng betawi yang terdiri dari rebab, tiga buah kenong, dan kecrek. Tak jarang, rebana biang juga dimainkan untuk menambah kemeriahan musiknya. Dalam banyak variasi, beberapa alat musik lainnya juga sering digunakan, seperti perpaduan tanji, terompet, trombone, baritone, gendang, gong, simbal, dan tehyan.

Tari ronggeng blantek yang bermula dari seni terater topeng blantek kini telah menjadi kreasi baru yang memperkaya khazanah seni tari Nusantara. Tarian ini kerap dipentaskan dalam berbagai acara kebudayaan masyarakat Betawi.

Penulis: Resla