Arababu, Rebab Satu Senar Khas Ternate

Bentuknya yang mirip rebab konon berkaitan dengan asal-usul arabubu. Alat musik rebab pertama kali masuk ke Maluku saat dibawa oleh pedagang Arab sebelum abad ke-16.

Diterbitkan 19 Juni 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ternate - Arababu merupakan alat musik tradisional khas Ternate, Maluku Utara. Alat musik gesek ini memiliki bentuk mirip rebab, tetapi hanya memiliki satu senar.

Arababu mampu menciptakan suara melengking nan lirih dan merdu. Golongan alat musik chordophone ini memiliki senar yang mampu menghasilkan bunyi melodis. Suara tersebut keluar saat senar bergesekan dengan busur.

Bentuknya yang mirip rebab konon berkaitan dengan asal-usul arabubu. Alat musik rebab pertama kali masuk ke Maluku saat dibawa oleh pedagang Arab sebelum abad ke-16.

Namun jauh sebelum itu, rebab sudah mulai dikenal di Timur Tengah sejak abad ke-8. Alat musik ini kemudian menyebar ke kawasan Afrika, Eropa, dan bagian timur lainnya. Penyebaran itu terjadi melalui jalur-jalur perdagangan Islam.

Adapun bentuk rebab yang sampai di Maluku sebenarnya sama dengan rebab yang saat ini dikenal dalam paduan instrumen gamelan Jawa. Karena popularitasnya kian meningkat, rebab kemudian mengalami modifikasi di kalangan penduduk lokal.

Bentuknya pun menjadi sedikit berubah. Selain itu, penggunaan senarnya tak seperti rebab yang umumnya memiliki dua atau tiga senar. Arabubu hanya memiliki satu senar saja. Konon, nama arabubu juga berasal dari kata rebab.

Arabubu memiliki pegangan panjang yang terbuat dari bambu. Sementara itu, badannya yang merupakan tabung resonansi terbuat dari setengah bagian tempurung kelapa.

 

Ukuran Kecil

Arababu umumnya berukuran kecil dengan tubuh bulat. Namun karena dibuat dari tempurung kelapa, maka bentuknya lebih beragam karena mengikuti bentuk tempurung kelapa asli.

Pada bagian depan tempurung kelapa dilapisi membran, seperti perkamen atau kulit domba. Alat musik ini dilengkapi dengan dawai pada badan dan busurnya yang terbuat dari serat pohon pisang hote.

Teknik bermain arababu pada dasarnya sama dengan rebab, yakni dengan menggeseknya hingga terdengar sebuah nada. Arabubu kerap dimainkan bersama dalam sebuah orkestra tradisional dengan alat musik khas Maluku Utara lainnya, seperti tifa, gong, dan fuk-fuk.

Arababu menghasilkan melodi bernuansa Melayu-Arab. Ajaibnya, seorang pemain arababu yang berpengalaman konon mampu membangkitkan berbagai perasaan, seperti takut, sedih, senang, maupun marah.

Untuk lebih menghidupkan melodi, biasanya pemain arababu juga melantunkan nyanyian yang umumnya menceritakan tentang kehidupan sehari-hari, doa, dan berbagai mantra untuk menjauhkan diri dari penyakit. Tak jarang, penampilan orkestra juga diiringi dengan tarian bertema perang.

Seiring berjalannya waktu, Arababu mulai jarang terlihat. Alasan utamanya karena nada yang dihasilkan terbatas, sehingga perannya digantikan dengan alat musik lain. Meski demikian, para musisi arababu di Ternate masih banyak yang mempertahankan alat musik ini.

Penulis: Resla