Daur Ulang Cerdas ala Kampung Sanan: Limbah Tempe Jadi Pakan Sapi dan Biogas

Kampung Sanan sudah lama dikenal sebagai sentra produksi tempe. Setiap harinya, sebanyak 300 pengrajin memproduksi tempe dalam jumlah besar untuk dikirim ke berbagai daerah, tak kurang dari 3,5 kuintal kedelai diolah setiap hari oleh beberapa pelaku Industri Kecil Menengah (IKM).

Diperbarui 10 Juni 2025, 05:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Malang - Kampung Sanan di Kota Malang, Jawa Timur, berhasil memanfaatkan limbah produksi tempe dan kotoran sapi menjadi pakan ternak dan energi biogas. Inovasi ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga memperkuat ketahanan energi dan pangan lokal di tengah naik-turunnya harga kebutuhan pokok.

Kampung Sanan sudah lama dikenal sebagai sentra produksi tempe. Setiap harinya, sebanyak 300 pengrajin memproduksi tempe dalam jumlah besar untuk dikirim ke berbagai daerah, tak kurang dari 3,5 kuintal kedelai diolah setiap hari oleh beberapa pelaku Industri Kecil Menengah (IKM).

Namun, produksi tempe dalam jumlah besar tersebut tentunya juga meninggalkan limbah dalam jumlah besar pula diantaranya berupa ampas kedelai, air rebusan, dan kulit kedelai. Alih-alih mencemari lingkungan, warga kampung Sanan justru menemukan cara cerdas untuk memanfaatkan limbah sebagai sumber daya yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.

Dengan kreativitas masyarakat Sanan yang beragam, selain mengolah limbah kulit kedelai dan air rebusan menjadi pakan ternak sapi, kotoran sapi pun diolah kembali oleh masyarakat menjadi biogas yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh warga kampung.

Salah satu warga di kampung Sanan adalah Bu Rini, selaku ibu RT 05 sekaligus pengurus GoSoya (komunitas pengurus limbah). Ia bercerita bahwa usahanya justru dimulai dari beternak sapi, bukan tempe. “Dulu kami ternak dulu. Baru setelah itu mulai produksi tempe sendiri, dari cuma 30 kg sekarang sudah sampai 3,5 kwintal per hari,” ujarnya.

Produksi tempe dalam jumlah besar tentu menghasilkan ampas kedelai dalam volume tinggi. Namun, limbah itu tidak dibuang begitu saja. Warga memanfaatkannya sebagai pakan ternak sapi yang bergizi tinggi.

“Kalau di sini, biasanya kami mencampur kulit kedelai, air rebusan (kedelai), dengan rumput dan pakan ternak. Sapinya jadi lebih gemuk dan sehat.” ujar seorang peternak yang menjadi mitra IKM tempe lokal.

 Adanya praktik ini membuat peternak lebih hemat biaya dan sekaligus mengurangi limbah organik yang berpotensi mencemari lingkungan.

Setelah sapi mengkonsumsi pakan dari limbah tempe, kotorannya dikumpulkan dan diolah dalam sistem biogas sederhana. Inovasi ini mulai dikembangkan sejak tahun 2018, dengan bantuan seorang dosen dari Universitas Brawijaya, Professor Muhammad Bisri, yang memperkenalkan cara pemanfaatan kotoran sapi melalui pembuangan PAL (Pembuangan Akhir Limbah).

“Di dekat kandang ada PAL, tempat pembuangan kotoran sapi. Dari situ, dua paralon dipasang untuk mengalirkan gas metana ke rumah-rumah warga sekitar,” jelas Bu Rini.

 

Gas untuk Memasak

Gas metana hasil fermentasi kotoran sapi kemudian dimanfaatkan untuk memasak dan penerangan oleh warga. Meski skala produksi gas masih kecil, dampaknya cukup besar bagi efisiensi energi rumah tangga. Namun, sebagai catatan penting biogas harus dipakai secara rutin. “Kalau nggak sering dipakai, paralonnya bisa rusak. Jadi warga diingatkan untuk tetap menggunakan gas meski hanya untuk pemanas air atau lampu,” tambahnya.

Kampung Sanan telah membuktikan bahwa inovasi tak harus datang dari teknologi canggih atau investasi besar, melainkan dari semangat gotong royong dan pemanfaatan potensi lokal secara cerdas. Pemanfaatan limbah tempe sebagai pakan dan biogas telah menciptakan lingkaran manfaat yang saling terhubung. Limbah tempe memberi makan sapi, kotoran sapi menghasilkan energi, dan energi tersebut kembali ke dapur warga. Semua berjalan dalam satu ekosistem lokal yang berkelanjutan dan efisien.

Penulis: Nadira Auralia A