Soto Kriyik Purbalingga, Warisan Kuliner yang Bertahan hingga Sekarang

Ciri khas utama soto kriyik terletak pada penggunaan santan kental sebagai bahan dasar kuah yang dipadukan dengan berbagai rempah pilihan seperti kemiri, ketumbar, dan kunyit

Diterbitkan 02 Juni 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Purbalingga - Soto kriyik telah menjadi salah satu identitas kuliner Kabupaten Purbalingga yang bertahan selama lebih dari lima dekade. Hidangan berkuah santan dengan rempah khas ini tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas, tetapi juga menyimpan nilai historis sebagai warisan kuliner.

Mengutip dari berbagai sumber, soto kriyik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1968 di wilayah Purbalingga. Pada awal kemunculannya, hidangan ini dijajakan secara tradisional menggunakan gerobak keliling.

Ciri khas utama soto kriyik terletak pada penggunaan santan kental sebagai bahan dasar kuah yang dipadukan dengan berbagai rempah pilihan seperti kemiri, ketumbar, dan kunyit. Penyajiannya dilengkapi dengan suwiran daging ayam kampung, tauge, serta taburan koya yang terbuat dari kerupuk udang dan kelapa parut.

Asal usul penamaan kriyik berasal dari bunyi kriuk yang dihasilkan kerupuk saat bercampur dengan kuah santan. Proses pembuatan kuah memerlukan waktu sekitar empat hingga lima jam dengan teknik pengadukan secara terus-menerus menggunakan kayu.

Daging ayam yang digunakan diolah secara terpisah dengan bumbu dasar sebelum kemudian disuwir halus. Keunikan rasa soto kriyik terletak pada keseimbangan antara gurihnya santan dan aroma rempah-rempah yang tidak boleh terlalu dominan.

 

Fleksibel

Selain cita rasa yang autentik, soto kriyik fleksibel dalam penyajian yang memungkinkan konsumen dapat menyesuaikan takaran kuah, koya, maupun sambal sesuai preferensi masing-masing. Beberapa varian menyajikan pilihan tingkat kepedasan serta tambahan topping seperti telur pindang atau emping melinjo.

Keberadaan kuliner ini telah menjadi salah satu penggerak sektor wisata di Purbalingga. Data dari Pemerintah Kabupaten setempat mencatat terdapat lebih dari lima puluh usaha warung soto kriyik.

Pada tahun 2022, soto kriyik memperoleh pengakuan resmi sebagai salah satu kuliner warisan. Penetapan ini dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional.

Penulis: Ade Yofi Faidzun