Nasi Nuk Santri, Jejak Kuliner Prajurit Mataram Melawan Penjajah

Nasi nuk santri dipilih karena bahan-bahannya mudah diperoleh dan cara pengolahannya sederhana. Nama nuk santri merujuk pada para pejuang yang berasal dari kalangan santri atau murid pesantren yang turut berperang.

Diterbitkan 30 Mei 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Nasi nuk santri merupakan kuliner khas Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang tidak hanya sekadar hidangan biasa. Makanan ini memiliki nilai sejarah terkait perjuangan para prajurit Mataram dan kalangan santri dalam melawan penjajah, terutama pada masa Perang Diponegoro.

Mengutip dari berbagai sumber, nasi nuk santri dahulu digunakan sebagai bekal makanan oleh pengikut Pangeran Diponegoro selama melakukan perlawanan terhadap Belanda pada abad ke-19. Dalam pergerakan gerilya di kawasan Pegunungan Menoreh, yang saat ini termasuk wilayah Kulon Progo, pasukan Diponegoro membutuhkan makanan yang praktis dan tahan lama.

Nasi nuk santri dipilih karena bahan-bahannya mudah diperoleh dan cara pengolahannya sederhana. Nama nuk santri merujuk pada para pejuang yang berasal dari kalangan santri atau murid pesantren yang turut berperang.

Pada masa itu, semua masakan berupa nasi yang dibungkus daun pisang disebut dengan istilah nuk. Nuk biasanya disajikan dengan nasi, sayuran, serta lauk pauk baik hewani maupun nabati.

Ciri khas nasi nuk santri terletak pada bahan dan metode pengolahannya. Menu ini terdiri dari nasi putih yang dibungkus daun pisang, ditemani tumis pepaya muda berbumbu gurih-pedas, urap kelapa muda, telur rebus, tahu bacem, dan tempe.

Dalam hidangan ini, semua lauk tidak digoreng melainkan direbus atau dibacem. Pemilihan pepaya muda sebagai bahan utama disebabkan karena tanaman ini tumbuh subur di wilayah Kulon Progo.

Sementara, penggunaan daun pisang sebagai pembungkus membantu memperpanjang ketahanan makanan. Proses pembuatan yang minim minyak juga membuat hidangan ini lebih awet.

 

Upacara Adat

Awalnya, nasi nuk santri hanya disajikan dalam upacara adat atau ritual tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur pejuang. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, makanan ini berkembang menjadi hidangan yang dapat dinikmati kapan saja, terutama di Desa Wisata Purwosari.

Saat ini, nasi nuk santri menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner di Kulon Progo, dengan harga Rp200.000 per paket berisi 10 porsi. Desa Wisata Purwosari kerap mengadakan kegiatan untuk memperkenalkan kuliner ini.

Nasi nuk santri juga menjadi pengingat akan semangat perlawanan para pejuang masa lalu. Dengan ciri khasnya, kuliner ini tetap bertahan hingga saat ini.

Penulis: Ade Yofi Faidzun