Sate Blater, Jejak Kolonial Belanda dalam Kuliner Khas Purbalingga

Hal ini karena proses perendaman daging dalam air panas sebelum dibumbui dan dibakar. Teknik ini terinspirasi dari metode masak Belanda yang memperhatikan keempukan dan keawetan daging.

Diterbitkan 26 Mei 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Purbalingga - Sate blater, kuliner ikonik dari Desa Blater, Purbalingga, dikenal karena cita rasanya yang unik dan menyimpan sejarah panjang terkait pengaruh kolonial Belanda. Proses pengolahan dan bahan-bahan yang digunakan merupakan adaptasi teknik masak Eropa yang berpadu dengan tradisi lokal.

Mengutip dari laman Pemerintah Kabupaten Purbalingga, sate blater berasal dari Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Kuliner ini berbeda dari sate ayam biasanya.

Hal ini karena proses perendaman daging dalam air panas sebelum dibumbui dan dibakar. Teknik ini terinspirasi dari metode masak Belanda yang memperhatikan keempukan dan keawetan daging.

Bumbu sate blater terdiri dari bawang putih, ketumbar, kemiri, dan rempah-rempah lain yang dihaluskan. Campuran ini mirip dengan bumbu semur Belanda (smoor), yang juga menggunakan rempah-rempah namun dengan penambahan kecap.

Proses marinasi yang lama membuat sate ini tahan hingga tiga hari tanpa pengawet. Pembakaran sate blater menggunakan sabut kelapa, bukan arang kayu.

 

Aroma Khas

Hal ini memberikan aroma khas yang membedakannya dari sate lain. Sabut kelapa merupakan bahan yang mudah ditemukan di Indonesia, tetapi penggunaan api kecil dan perlahan mirip dengan teknik memasak Eropa.

Selain teknik masak, aturan tradisional sate blater juga menarik. Awalnya, pedagang hanya boleh berjualan di Desa Blater, sebuah praktik yang mungkin terkait dengan pengaturan ekonomi zaman kolonial.

Akan tetapi, aturan ini mulai dilonggarkan seiring waktu. Sate blater kini menjadi salah satu ikon kuliner Purbalingga dan sering dipromosikan dalam festival budaya.

Sate blater dikenal dengan cita rasa yang unik karena bumbu dan teknik memasaknya yang berbeda dengan sate ayam biasa. Daging ayam yang direbus terlebih dahulu dan dibumbui dengan bumbu khas Blater membuat sate ini lebih empuk dan tahan lama.

Sate Blater biasanya disajikan dalam jumlah besar, misalnya saat acara pesta atau pernikahan. Makanan ini juga bisa dinikmati sebagai sajian utama dalam acara arisan.

Penulis: Ade Yofi Faidzun