Mengenal Sandiwara Sunda, Warisan Leluhur Sarat Nilai Budaya

Musik pengiring yang biasa digunakan adalah gamelan degung atau kecapi suling, yang menambah kekentalan nuansa budaya Sunda dalam pertunjukan

Diterbitkan 17 Mei 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sandiwara Sunda merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang berasal dari wilayah Tatar Sunda di Jawa Barat. Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, namun juga menjadi media penting dalam menyampaikan pesan moral, nilai-nilai kearifan lokal, serta kritik sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Sandiwara Sunda lahir dari akar tradisi teater rakyat yang telah lama berkembang dalam masyarakat agraris Sunda, dan pada masa kolonial, mulai mengalami perkembangan signifikan hingga menjadi salah satu bentuk pertunjukan yang dicintai oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Istilah sandiwara sendiri berasal dari kata sandi yang berarti rahasia dan wara yang berarti kabar atau berita, sehingga secara etimologis dapat diartikan sebagai penyampaian pesan tersembunyi melalui drama. Dalam praktiknya, sandiwara Sunda menggabungkan unsur dialog, nyanyian, musik, tari, dan humor khas Sunda yang menjadikannya kaya dan menarik.

Musik pengiring yang biasa digunakan adalah gamelan degung atau kecapi suling, yang menambah kekentalan nuansa budaya Sunda dalam pertunjukan. Tema cerita dalam sandiwara Sunda umumnya mengangkat kisah-kisah rakyat, legenda lokal, perjuangan sosial, hingga konflik-konflik keluarga yang dibalut dalam gaya penyajian yang luwes dan komunikatif.

Perkembangan sandiwara Sunda mengalami puncaknya pada era 1960-an hingga 1980-an, di mana kelompok-kelompok sandiwara seperti Sandiwara Sunda RRI Bandung, Sandiwara Miss Tjitjih, dan grup-grup lokal lainnya tampil keliling dari satu daerah ke daerah lain, baik di lapangan terbuka maupun di gedung pertunjukan.

Pada masa itu, sandiwara menjadi media populer karena mampu menjangkau masyarakat pedesaan yang belum terjamah oleh televisi dan media modern lainnya. Tidak jarang pertunjukan ini berlangsung hingga larut malam, dan masyarakat rela duduk berdesakan atau berdiri berjam-jam demi menyaksikan kisah-kisah yang disuguhkan.

Dalam konteks ini, sandiwara Sunda tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat, ruang pembelajaran bersama, dan sarana mempererat solidaritas sosial.

Pementasan sandiwara biasanya melibatkan tokoh-tokoh seperti dalang atau sutradara panggung, pemain laki-laki dan perempuan, nayaga (pemusik), serta pelawak yang seringkali menjadi bintang utama karena kemampuannya mencairkan suasana dengan gaya khas Sunda yang jenaka, penuh sindiran halus namun mengena.

Identitas Budaya

Karakter-karakter dalam sandiwara Sunda umumnya dibuat mencerminkan kehidupan nyata, sehingga penonton merasa dekat dan mampu merefleksikan kisah tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Namun demikian, seperti banyak kesenian tradisional lainnya, sandiwara Sunda saat ini menghadapi tantangan besar di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang kian cepat. Pergeseran minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap hiburan digital dan media sosial membuat eksistensi sandiwara Sunda mulai terpinggirkan.

Banyak kelompok sandiwara yang dulunya aktif kini sulit bertahan karena minimnya dukungan, baik dari segi pendanaan maupun regenerasi seniman. Meski demikian, upaya pelestarian tetap dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari komunitas budaya, lembaga pemerintah, hingga seniman-seniman senior yang memiliki komitmen tinggi terhadap pelestarian budaya lokal.

Beberapa grup sandiwara mencoba beradaptasi dengan perkembangan zaman, misalnya dengan mendigitalisasi pertunjukan mereka dan menayangkannya melalui platform daring seperti YouTube atau media sosial. Inovasi semacam ini diharapkan mampu menarik perhatian generasi muda dan memperluas jangkauan penonton hingga ke luar wilayah Sunda.

Selain itu, memasukkan unsur sandiwara ke dalam kurikulum pendidikan atau program kesenian di sekolah juga menjadi strategi penting dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini.

Penting pula adanya dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dan pusat dalam bentuk fasilitasi pertunjukan, bantuan sarana dan prasarana, serta penghargaan terhadap para pelaku seni yang telah mendedikasikan hidupnya bagi kelestarian budaya ini.

Bahasa yang digunakan pun adalah bahasa Sunda yang halus namun kuat dalam menyampaikan makna, menjadi sarana pelestarian bahasa daerah yang kian hari mulai tergerus. Tidak hanya itu, gaya berbusana, tata panggung, serta gestur para pemain menjadi refleksi dari kekayaan estetika masyarakat Sunda yang lekat dengan kesopanan, keanggunan, dan kesederhanaan.

Oleh karena itu, sandiwara Sunda sejatinya bukan hanya bentuk seni pertunjukan, melainkan juga identitas budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dengan mengenal dan memahami sandiwara Sunda, kita tidak hanya menghargai kesenian tradisional, tetapi juga merawat akar budaya yang menjadi fondasi penting bagi keberagaman Indonesia.

Penulis: Belvana Fasya Saad